Friday, March 9, 2007

Reputasi Perusahaan

11  September  2006

APAKAH REPUTASI PERUSAHAAN ANDA TERANCAM?
Oleh: Rick Boxx

Bagi suatu bisnis, reputasi baik adalah faktor penting dalam mempertahankan keberhasilan jangka panjang.  Dan suka atau tidak suka, meski diperlukan kerja keras untuk mencapai dan menjaga nama baik dan posisi terhormat dalam dunia bisnis dan dunia kerja, tetapi reputasi yang baik dapat hancur dalam waktu yang teramat singkat, dan seringkali bahkan tidak pernah kembali pulih. 

Dalam sebuah artikel berjudul “On Business Strom Proofing” (Menjalankan Bisnis Anti Badai) yang dimuat dalam Wall Street Journal, Leslie Gaines-Ross, kepala peneliti di divisi pengetahuan dan penelitian Burson-Marsteller, sebuah perusahaan konsultan kehumasan bertaraf internasional, menyatakan bahwa perusahaannya telah berhasil menemukan tanda-tanda peringatan perusahaan yang reputasinya terancam.  Penelitiannya menunjukkan tujuh kondisi umum yang biasanya terjadi pada perusahaan-perusahaan bermasalah:

1. Moral karyawan berada di tingkat yang rendah.
2. Perumusan kebijakan internal tampaknya lebih penting ketimbang pelaksanaan pekerjaan dengan baik. 
3. Para pemimpin di strata tertinggi meninggalkan perusahaan.
4. Ketenaran pimpinan utama menjadi lebih penting dibanding kredibilitasnya.
5. Karyawan menganggap pelanggan sebagai gangguan.
6. Karyawan tidak lagi menceritakan hal-hal positif mengenai perusahaan.
7. Manajemen menghabiskan lebih banyak waktu di dalam kantor pusat dibanding di luar kantor pusat.

Dalam banyak kasus seringkali kekayaan perusahaan meningkat cepat pada suatu selang waktu, membuat segala sesuatu terlihat baik-baik saja, sebelum kemudian “peringatan badai” mulai memberikan dampak pada pendapatan keuangan perusahaan.  Saat sebagian gejala probematik terlihat, sudah dapat terdeteksi adanya masalah serius, meski tidak selalu mempengaruhi kondisi finansial.  Dan inilah saat yang tepat untuk mengkaji, secara sangat seksama apa yang terjadi pada para pemimpin. 

Ciri umum yang terdapat dalam ketujuh hal dalam daftar yang dibuat oleh Ms. Gaines-Ross di atas adalah “attitude” atau “sikap.”  Dalam sebuah film bertema olahraga berjudul “Remember the Titans,” terdapat sebuah adegan di mana dua pemimpin tim berperang kata-kata.  Ketika salah seorang kapten tim menyerang kapten tim yang lain, lawan bicaranya menjawab dengan keras: “Sikap seseorang memang mencerminkan kemampuan kepemimpinannya.”

Saat kepemimpinan mulai lebih berfokus pada dasar kekuasaan dan status ketenaran pemimpinnya dan bukan pada kebutuhan fundamental pelanggan dan karyawan, maka sikap “dahulukan-saya” dengan cepat akan menyebarkan sikap buruk di seluruh organisasi.

Amsal 16:18-19 mengingatkan kita, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak.“ Jika organisasi Anda sudah mulai memperlihatkan beberapa – atau bahkan banyak – gejala dari tujuh gejala mematikan dalam daftar di atas, pertama-tama lakukan introspeksi pada diri Anda sendiri. Selanjutnya evaluasi para pemimpin Anda dan coba temukan apakah penyebab masalah tersebut adalah persoalan kecongkakan hati.  Jika ternyata memang akar permasalahan adalah ketinggian hati, akui kesalahan tersebut dengan rendah hati, lalu segera bersiap untuk bekerja dengan lebih baik, dan mulai merumuskan strategi untuk mewujudnyatakan langkah-langkah perbaikan tersebut – baik bagi diri Anda sendiri maupun bagi keseluruhan perusahaan Anda.

(Copyright 2006, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani.  Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan  “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 ▪ Omaha, Nebraska 68154 ▪ U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002 ▪ FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Apakah para pemimpin pada strata tertinggi di perusahaan Anda menganggap penting menjaga reputasi perusahaan?  Jika ya, bagaimana hal tersebut dilakukan?  Jika tidak, apakah alasannya? Apakah karena faktor kesombongan atau karena kepentingan diri sendiri?

2. Saat mempelajari kembali tujuh tanda yang mencirikan kondisi terancamnya reputasi suatu perusahaan, menurut Anda berapa banyak – jika ada – gejala yang kini terjadi di tempat kerja Anda?  Jelaskan jawaban Anda. 

3. Menurut Anda, pengaruh apakah yang dapat – atau yang seharusnya – Anda terapkan baik untuk menghindari “masalah sikap” yang mungkin menghancurkan reputasi dan kelangsungan hidup perusahaan Anda, maupun dalam membantu memperbaiki situasi penuh masalah?

4. Dapatkah Anda sebutkan suatu keadaan di mana Anda melihat para pemimpin – baik di perusahaan Anda maupun pemimpin di tempat lain – yang memiliki pengaruh kuat terhadap sikap mereka yang berada dibawah pimpinan mereka, baik dalam arti yang positif maupun negatif?  Apa yang dilakukan para pemimpin tersebut – dan pelajaran apa yang dapat Anda petik dari perilaku tersebut?

Ayat-ayat Alkitab berikut dapat dijadikan dasar merenungkan topik dalam artikel ini:

Amsal  11:2, 21:24, 27:23-27, 28:2; Kisah Para Rasul 20:28; Filipi 2:3-4 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:06:07 | Permalink | No Comments »

Benar Tapi Salah?

4 September  2006

JIKA RASANYA BENAR, MENGAPA BISA SALAH?
Oleh: Robert J. Tamasy

Bila Anda pernah membaca meski hanya sebagian kolom “Monday Manna” yang saya tulis selama beberapa tahun ini, Anda pasti mengetahui betapa saya sangat mengagumi hikmat dalam kitab Amsal.  Salah satu keistimewaan kitab tersebut adalah bahwa ajaran-ajarannya berlaku tanpa memandang apapun iman-kepercayaan rohani Anda - bahkan sekalipun Anda tidak mempunyai iman-percaya!  Prinsip-prinsip yang tak lekang oleh masa dan padat terangkum dalam ke-31 bab dalam kitab itu sesuai dengan segala sistem budaya, etnik atau kepercayaan - dan hal ini sudah berlangsung selama ribuan tahun.  Penjelasan fakta ini, sebagaimana yang saya tulis dalam buku saya, Business At Its Best, adalah karena kebenaran abadi tidak memiliki tanggal kadaluarsa.

Entah itu masalah etos kerja yang benar, integritas, pengelolaan uang, kemarahan, keputusasaan,  panduan, hubungan, pengambilan keputusan, komunikasi, perencanaan, atau motivasi, Amsal menjadi inspirasi berbagai hikmat yang bernilai untuk direnungkan.  Baru-baru ini, misalnya, saya membaca sebuah ayat dalam buku kuno itu mengenai hal yang sangat menarik: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12).

Bayangkan pada suatu malam Anda mengemudikan mobil di suatu kota yang sama sekali belum Anda kenal. Hari sudah sangat gelap, dan karena rambu-rambu jalan ditulis dalam bahasa yang tidak Anda mengerti, Anda tidak memperoleh banyak informasi jalan. Karena lelah dan putus-asa, Anda mencoba mengatasi masalah Anda.  Akhirnya, Anda memutuskan, “Kelihatannya jalan yang ini menuju arah yang benar,” dan Anda berbelok ke kiri, berharap jalan yang Anda pilih itu benar menuju hotel Anda.  Tiba-tiba, dari arah berlawanan Anda melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mendekati mobil Anda.  Terlambat sudah, Anda ternyata salah arah.

Inilah inti ajaran ayat Amsal tersebut di atas.  Hanya karena kita sangka apa yang kita lakukan benar, bukan berarti hal tersebut memang tepat untuk dilakukan. Menyepelekan kesalahan, atau memilih yang salah dan mengabaikan yang benar mungkin saja tidak menyebabkan kematian raga. Namun, dapat saja berakibat buruk pada pekerjaan, hubungan bahkan kegiatan-kegiatan yang kita sukai.  “Jika rasanya benar, lakukan”  biasanya bukanlah solusi terbaik saat membuat keputusan penting.  Karenanya, peringatan dalam Amsal 14:12 perlu benar-benar diperhatikan.
 
Dari pengalaman melakukan pembimbingan lebih dari 20 tahun, saya menarik kesimpulan bahwa spiritualitas adalah salah satu aspek kehidupan di mana seringkali terjadi apa yang kelihatannya benar ternyata rancu dengan apa yang sejatinya benar.  Kesalahan pertama terjadi ketika kita mengabaikan atau tidak memperhatikan sisi rohani kehidupan.  Tak dapat disangkal, kita adalah mahluk ragawi, berdaya-nalar dan memiliki perasaan.  Tetapi mengabaikan pentingnya dimensi rohani berdampak buruk bagi diri kita.  Karena spiritualitas menjadi dasar cara pandang, sistem nilai, prioritas, bahkan perilaku kita sehari-hari. 

Kesalahan kedua adalah menerima spritualitas secara pasif.  Ini sama saja dengan seorang yang ingin memiliki kesehatan jasmani, tetapi enggan berolahraga.  Rohani yang sehat –  seperti juga jasmani yang bugar – tidak berlangsung otomatis.  Diperlukan perhatian dan pemikiran yang serius.  Berikut adalah sebagian prinsip-prinsip spiritualitas dalam kitab Amsal. 

Untuk memahami suatu karya, kenali terlebih dahulu Sang Penciptanya.  Bila kita ingin mengetahui  bagaimana suatu benda bekerja – misalnya sebuah mobil, jam digital, komputer atau perangkat-perangkat lain – kita harus membaca petunjuk cara kerjanya.  Hal yang sama berlaku juga bagi keberadaan manusia setiap hari.  Bagaimana agar kita dapat berfungsi sebaik-baiknya?  “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” (Amsal 9:10).

Untuk menghindari perangkap kehidupan, ikuti peta jalan yang handal.  Kehidupan sehari-hari tampaknya penuh dengan ancaman bahaya yang dapat mengagalkan rencana terbaik dan pencapaian kita.  Untuk menghindari “jalan yang berbahaya” tersebut, adalah penting untuk bergantung pada peta jalan spiritual yang dapat memimpin kita menghindari perangkap-perangkap tersebut.  “Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut” (Amsal 14:27).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

 

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell:
nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi
http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Renungkan saat Anda melakukan sesuatu yang Anda sangka benar, tetapi kemudian Anda sadari ternyata apa yang Anda lakukan itu salah.  Seperti apakah rasanya mengalami hal seperti itu?

2. Apakah yang menjadi landasan spiritualitas Anda, bagaimana menerapkannya dalam kehidupan Anda?  Bagaimana Anda memilah hal-hal yang benar dari hal-hal yang salah sesuai dengan iman-percaya Anda?

3. Apakah Anda sependapat bahwa suatu spritualitas dapat menjadi usang, atau Anda cenderung bersikap apapun yang Anda percayai dapat diterima – selama Anda secara tulus mempercayainya?  Jelaskan jawaban Anda.

4. Apakah Anda percaya bahwa spritualitas – jangan samakan dengan “agama” – memiliki peran penting dalam dunia bisnis dan dunia kerja?  Jika ya, dalam hal apa sprititualitas memberi pengaruh?  Jika tidak, mengapa tidak?

Berikut adalah ayat-ayat Alkitab yang dapat dijadikan dasar merenungkan topik dalam artikel ini:

Yosua 1:8; Mazmur 1:1-3, 112:1; Amsal 1:7, 15:33; Yesaya 33:6, 50:10; 2 Timotius 3:16 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:55:28 | Permalink | No Comments »

Kompetisi

28 Agustus  2006

KOMPETISI: MENURUT ATURAN SIAPAKAH ANDA BERMAIN?
Oleh: Randal Walti

Bila berbicara tentang kompetisi, kita cenderung berpikir tentang bidang kehidupan di mana persaingan secara alami terjadi, misalnya dalam olahraga.  Namun,  bahkan dalam olahraga sekalipun,  persaingan yang berlebihan dapat menyebabkan hal-hal buruk.   Pelatih yang terlalu antusias mengusahakan segala cara demi meraih kemenangan, para atlet profesional, calon bintang olahraga masa depan, mempertaruhkan timnya sendiri dan akhirnya dikenai sangsi; pemain seluncur-es yang berupaya menjegal saingan terberatnya agar dapat memenangkan medali emas dan pujian.   Entah dalam olahraga, bisnis atau dalam bidang lain dalam kehidupan, kompetisi membawa dampak baik atau buruk.  Semua tergantung dari peraturan yang Anda ikuti.

Divisi Analisis Kompetitif memungkinkan suatu bisnis memperoleh informasi berlimpah-ruah dari sumber yang legal, tetap mentaati peraturan dan menerapkan etika bisnis yang benar.  Peraturan yang ditetapkan Tuhan dalam Alkitab mencakup larangan untuk berbohong, berbuat curang atau mencuri (termasuk mereka yang bekerja dengan Anda).  Kadangkala tampaknya sangat berat tetap terikat pada peraturan-peraturan seperti itu dalam kondisi begitu sulit memperoleh kesempatan meningkatkan keunggulan kompetitif dan meningkatkan pangsa pasar; alternatifnya adalah bersaing secara tidak sehat.  Tetapi tetap berpegang pada peraturan persaingan sehat dalam jangka panjang akan membawa dampak yang baik  – moral yang luhur, reputasi yang tak ternilai harganya, integritas yang utuh, dan kepercayaan baik dari konsumen saat ini maupun konsumen masa yang akan datang. 

Kompetisi memperebutkan pasar bahkan dapat menjadi inspirasi bagi Anda dan perusahaan Anda untuk mencapai tingkat keberhasilan jauh melebihi apa yang selama ini Anda idamkan, pencapaian kompetitif mewujukan keunggulan prima.  Pada tahun 2000, saya mengalami pembedahan untuk menstimulasi otak bagian dalam guna mengobati penyakit Parkinson yang saya derita.  Saya merasa sangat lega karena operasi menunjukkan hasil yang baik.  Bahkan saya menjalani operasi yang sama sebanyak dua kali.  Bagai mujizat, saya kini mampu berjalan, berbicara dan bergerak secara normal.  Ya, saya yakin kompetisi berperan penting dalam perkembangan pesat Perangkat Medtronic – perangkat yang menggantikan hubungan yang terputus dalam otak saya dan menjadi saluran stimulasi elektronik ke dalam otak saya. Para dokter sebelumnya tidak tahu bagaimana alat ini dapat berhasil menyembuhkan, mereka baru tahu setelah melihat hasil operasi yang saya jalani.

Bukankah para peneliti Medtronic akhirnya memasarkan alat tersebut  karena: 1) alat tersebut bermanfaat bagi pasien; 2) alat tersebut menguntungkan; dan 3) teknologi yang mereka miliki merupakan keunggulan kompetitif perusahaan yang mengalahkan pesaing-pesaingnya.  Alasan saya memilih alat itu adalah karena perangkat tersebut adalah solusi paling baik bagi saya – tidak ada alat lain yang dapat mengunggulinya. 

Kompetisi yang dimainkan berdasarkan aturan – dalam hal ini peraturan Tuhan – selalu menghasilkan keunggulan.  Kompetisi seperti itu berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, menggunakan sudut pandang abadi dan tidak pernah mengabaikan orang-orang yang terlibat dalam proses – para karyawan, konsumen, shareholders, bahkan khalayak umum.  Renungkanlah jenis-jenis kompetisi menurut Tuhan yang tercantum dalam “petunjuk bisnis”-Nya, Alkitab:

Berkompetisi dengan tujuan yang jelas dan masuk akal: ”Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1 Corinthians 9:25-27).

Berkompetisi berdasarkan peraturan yang sudah dibuat dan disepakati bersama. “Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga” (2 Timotius 2:5)

Berkompetisi karena alasan yang salah.  “Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain“ (Pengkhotbah 4:4).

Diadaptasi dengan izin dari artikel karya Randal Walti, seorang konsultan bisnis yang tinggal di Titusville, Florida, A.S. Ia adalah penulis majalah berbasis email, “Business Life Today.”  Websitenya dapat diakses di www.buslifetoday.com.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell:
nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi
http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Apa dampak kompetisi pada perusahaan Anda?  Cobalah memberikan contoh mutakhir baik mengenai dampak positif maupun dampak negatif kompetisi terhadap bisnis Anda.

2. Dalam pekerjaan, seringkah Anda  dihadapkan pada godaan bersaing secara tidak sehat, mungkin dengan memilih jalan pintas, sedikit berkompromi, atau menggunakan taktik-taktik lainnya?  Jelaskan jawaban Anda.

3. Pikirkan produk-produk yang kini dipasarkan baik yang seluruhnya maupun yang sebagian saja merupakan hasil dari semangat kompetisi yang kuat.  Menurut Anda, akankah perkembangan produk-produk tersebut – sepesat dan bermutu tinggi – saat ini andaikan tidak ada kompetisi?

4. Apa pendapat Anda mengenai pemikiran untuk menerapkan ajaran dan prinsip Alkitabiah mengenai kompetisi dalam dunia bisnis dan dunia kerja? Apakah hal tersebut realistis?  Mengapa atau mengapa tidak?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat dijadikan dasar merenungkan prinsip-prinsip  kompetisi:

Amsal 12:22, 16:11, 21:6; Matius 7:12, 22:37-40; Filipi 2:3,4 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:45:10 | Permalink | No Comments »

Kesediaan Memberi

21 Agustus  2006

BERKENANKAH ANDA MEMBERI HARI INI?
Oleh: Robert J. Tamasy

Bertahun-tahun saya mendapat kehormatan menjadi donor darah.  Suatu kehormatan karena saya tahu banyak orang tidak dapat mendonorkan darahnya, entah karena masalah kesehatan, atau karena darah mereka telah  dijangkiti oleh penyakit yang didapat dari perjalanan ke pelbagai tempat, atau karena alasan-alasan lainnya.  Jadi saya sungguh merasa terhormat bila setiap delapan minggu dapat menyumbangkan sekantung darah bagi mereka yang sangat membutuhkannya.

Sebagai tanda terima kasih, pusat donor darah di wilayah kami secara cuma-cuma memberikan kaos bergambar kepada semua donor, kadangkala kaos tersebut juga bertuliskan slogan yang berkaitan dengan kegiatan menyumbang darah.   Baru-baru ini, kaos yang saya terima bertuliskan “Born to Give” (“Dilahirkan untuk Memberi”).  Tulisan ini jelas menunjukkan betapa pentingnya menyumbangkan darah.   Jika Anda sakit atau terluka parah dan membutuhkan darah, tidak ada yang dapat menggantikan darah – tidak juga sari buah berwarna merah, sari buah tomat, sari buah anggur, salsa atau semua yang terlihat mirip dengan darah.  Jika Anda membutuhkan darah, maka hanya darah orang lainlah yang Anda perlukan.

Menyumbangkan darah adalah kegiatan yang relatif sederhana. Hanya diperlukan beberapa menit saja,  jika ada rasa tidak nyaman, itu pun nyaris dapat diabaikan.  Selain itu, terdapat beragam cara memberi yang sama penting dan bermaknanya dengan mendonorkan darah.  Malahan, tanpa harus menyumbangkan darah pun, Anda sudah termasuk kelompok mereka yang “dilahirkan untuk memberi.” Memberikan bantuan barang atau uang kepada mereka yang membutuhkan, biasanya segera terbersit dalam benak, bagi mereka yang sedang dalam kesukaran, bantuan keuangan dan materi boleh jadi adalah suatu hal yang sangat berarti.

Apa yang dapat diberikan sesungguhnya tidak hanya terbatas pada sesuatu yang dapat kita sentuh atau pegang.  Kita dapat meluangkan waktu, baik untuk menghibur dan mendukung mereka yang tengah mengalami pencobaan pribadi yang berat, maupun untuk mendengarkan dan kemudian memberikan saran serta nasehat kepada mereka yang harus mengambil keputusan yang sulit.  Saya senantiasa bersyukur atas orang-orang yang menyadari bahwa mereka “dilahirkan untuk memberi,” yang peduli untuk mendiskusikan dan membimbing saya menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan.

Kita dapat memberikan kemampuan, talenta dan energi untuk membantu orang lain menyelesaikan suatu tugas.  Cakupan membantu relatif cukup luas, dari membantu seseorang membersihkan rumah atau memangkas rumput ketika mereka tidak dapat melakukannya karena alasan keterbatasan fisik,  hingga membantu seorang rekan kerja yang bekerja di bawah tekanan tenggat waktu penyelesaian suatu tugas – meski tugas tersebut di luar tanggung jawab kerja kita.

Memberi itu bersifat timbal-balik.  Salah satu keajaiban memberi adalah saat kita memberi sesuatu dari diri kita, waktu, energi atau harta milik kita, kita juga menerima.  Yang kita terima adalah sukacita dan kepuasan dapat membantu mereka yang sedang dalam kesusahan.  “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan” (Amsal 11:24).

Memberi adalah tindakan merendahkan-hati.   Memberi tidak selalu mudah untuk dilakukan; tidak jarang membutuhkan pengorbanan diri.  Tetapi dengan memberi kita memperoleh kesempatan membuat diri kita bermanfaat bagi orang lain. “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: ‘Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima’” (Kisah Para Rasul 20:35). 

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell:
nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi
http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Pernahkah Anda – atau anggota keluarga Anda – menyumbangkan darah?  Apa kesan Anda mengenai pengalaman tersebut?  Pernahkah Anda merasa bahwa hal tersebut adalah suatu kehormatan atau kesempatan istimewa, satu contoh dari beragam cara menyatakan bahwa Anda “dilahirkan untuk memberi”?

2. Menurut Anda siapakah orang paling murah-hati yang Anda kenal?  Gambarkan seperti apa orang tersebut. Menurut Anda apa yang memotivasinya memberi begitu banyak dan tanpa pamrih?

3. Menurut diri Anda sendiri, seberapa antusias Anda berkenan memberi atau membantu orang lain  baik dalam bentuk materi atau bantuan keuangan, maupun dalam bentuk memberikan waktu, energi, membagikan pengetahuan atau pengalaman yang telah Anda peroleh selama bertahun-tahun?  Jelaskan jawaban Anda. 

4. Renungkanlah suatu saat di mana pemberian atau bantuan seseorang – mungkin suatu tindakan yang benar-benar luar biasa – sungguh sangat berarti bagi Anda.  Mengapa Anda merasa begitu bersyukur?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan sebagai dasar merenungkan topik dalam artikel ini:

Amsal 3:27-28,18:16, 22:9, 25:14; Markus 8:37; Lukas 11:9-13 www.sabda.org/alkitab
 

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:37:21 | Permalink | No Comments »

Komitmen

14  Agustus  2006

MENGATASI KRISIS KOMITMEN
Oleh: Rick Boxx

Era komitmen tak tergoyahkan – baik komitmen kepada perusahaan atau maupun kepada pasangan hidup – tampaknya sudah berlalu. Kini, orang berganti pekerjaan dengan cepat, karena pelbagai alasan.   Mungkin karena mereka mencari perubahan wawasan tanggung jawab, atau  mencari  tambahan pendapatan, atau hanya karena rumput tetangga kelihatannya lebih hijau dari rumput di halaman sendiri.  Apapun alasan orang berpindah kerja, loyalitas karyawan tampaknya sudah mengikuti jejak kepunahan dinosaurus dan burung dodo.  Sedihnya, hal yang sama berlaku juga pada banyak perkawinan.  Ikatan perkawinan yang dulu merupakan ikrar sepasang insan yang berlaku tetap dan dalam jangka waktu panjang, kini berubah sehingga mungkin saja ikrar pernikahan akan berbunyi, “sampai perceraian memisahkan kita.’

Hal ini, tidak terjadi pada Ayah saya. Setelah selesai menunaikan wajib militer, di usia 23 tahun Ayah memulai kariernya di General Motors. Ia masih terus bekerja di sana sampai hari ketika GM memutuskan menutup pabriknya 29 tahun berselang. Bahkan setelah itu, ia masih dengan setia mendukung dan mempromosikan produk General Motors.

Ayah menikahi istrinya,  Ibu saya, ketika ia masih berusia 19 tahun.  Tahun ini orang tua saya merayakan ulang tahun ke-50 perkawinan mereka, suatu angka yang jauh melebihi rata-rata standar usia pernikahan masa kini.   Ketika saudara ipar saya bertanya kepada Ayah mengenai rahasia sukses pernikahan, jawabnya sangat sederhana namun mendalam: “Tetaplah bertahan.”

Komitmen pada sesuatu adalah suatu sikap mulia yang kini jarang ditemukan dalam budaya kita. Tingginya tingkat perceraian, kebangkrutan, kegagalan orang tua dalam mendidik anak dan pengunduran diri karyawan merupakan gejala dari suatu masalah: berkurangnya komitmen pribadi.   Selain itu, paling tidak dalam tataran bisnis, kita melihat juga berkurangnya komitmen perusahaan kepada karyawannya.  Dan akibat berkurangnya komitmen tersebut, karyawan pun menjadi tidak loyal kepada perusahaan.

Fakta yang sama berlaku untuk hal-hal berikut:  Ketika perkawinan menghadapi goncangan keras, perceraian “tanpa upaya rekonsiliasi” dianggap sebagai penyelesaian. Ketika pengelolaan uang tidak berjalan dengan baik, kebangkrutan dipilih sebagai solusi.   Jika karena kesalahan diri sendiri, kehamilan terjadi, aborsi pun dipilih sebagai upaya menghapus masalah.  Di tempat kerja, jika beban kerja semakin memburuk, kita memutuskan keluar dari pekerjaan; demikian juga sebaliknya, jika perusahaan mengalami kesukaran, maka jalan keluarnya adalah memecat karyawan.

Sebenarnya, tindakan seperti itu hanyalah solusi temporer, dan dampak yang ditimbulkannya jauh lebih besar – mengancam kehidupan masyarakat dan kehidupan pribadi kita.  Kita sebenarnya membangun suatu budaya rentan dengan sikap yang gampang menyerah, didasari keinginan menghapuskan masalah, dan bukannya membentuk upaya untuk bertahan pada komitmen dan siap menyelesaikan segala persoalan.
 
Kebanyakan pemimpin adalah orang-orang yang setia pada komitmen. Dibutuhkan komitmen untuk menjadi seorang pemimpin besar dan efektif.   Di tempat kerja, mereka yang duduk dalam jajaran pimpinan berkewajiban membentuk integritas dengan menghargai komitmen dan menunjukkan keuletan.  Jika kadang kala dalam pekerjaan kita merasa jemu dan letih, kita perlu tetap ulet, menunjukkan bahwa kita mempunyai komitmen untuk menunaikan segala tugas kita, meski tugas-tugas tersebut tidaklah menyenangkan.

Dengan menanamkan dan menunjukkan kesetiaan yang tinggi pada komitmen, loyalitas dan keuletan, kita membangun landasan mulia sebagaimana yang dicontohkan oleh Ayah saya, dan mengembalikan kesejatian komunitas bisnis, di mana orang benar-benar peduli satu sama lain dan peduli pada perusahaannya, bukan hanya karena mengejar gaji rela meninggalkan pekerjaan begitu melihat kesempatan datang. Yesus berkata “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari” (Yohanes 10:11-12). Dengan perkataan lain, hanya pemimpin sejati yang bertahan pada misinya, tanpa mempedulikan beban pengorbanan maupun kepentingannya sendiri.

(Copyright 2006, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani.  Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan  “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 ▪ Omaha, Nebraska 68154 ▪ U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002 ▪ FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Apakah Anda setuju pada pernyataan bahwa komitmen baik kepada atasan dan perusahaan, ikatan perkawinan, tanggung jawab keuangan atau kewajiban pribadi maupun dalam pekerjaan – kini semakin menipis?  Mengapa atau mengapa tidak?

2. Rick Boxx mencantumkan beberapa faktor yang menurutnya menjadi penyebab penurunan kesetiaan pada komitmen.  Dapatkah Anda menambahkan hal-hal lain yang juga menyebabkan berkurangnya tingkat komitmen?

3. Menurut pendapat Anda sendiri, apakah Anda termasuk orang yang dengan sungguh-sungguh menjaga komitmen, atau termasuk orang yang tingkat komitmennya tergantung dari situasi atau kepentingan diri sendiri?   Jelaskan jawaban Anda.

4. Andaikan Anda ditugaskan meningkatkan tingkat komitmen dalam masyarakat, apa yang akan Anda lakukan? Jika Anda merasa perlu meningkatkan tingkat komitmen personal Anda sendiri – baik berkaitan dengan pekerjaan, hubungan, atau sisi lain kehidupan Anda – langkah apa yang akan Anda ambil, hari ini juga?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat dijadikan dasar merenungkan topik artikel ini:

Amsal  20:25; Lukas 14:28,29; 2 Timotius 2: 3-5; Yakobus 5:12 www.sabda.org/alkitab

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:20:28 | Permalink | No Comments »

Cinta-Kasih

7 Agustus  2006

BENTUK CINTA-KASIH YANG DIBUTUHKAN DI SETIAP TEMPAT KERJA
Oleh: Robert J. Tamasy

“Cinta” atau “Kasih.”  Kata yang jarang kita gunakan berkaitan dengan pasar global abad ke-21.  Kata ini kedengarannya terlalu berorientasi pada perasaan. Lagipula, para pelaku bisnis cenderung membanggakan diri sebagai kaum yang praktis dan pragmatis. Cinta itu tidak kasat mata; padahal keberhasilan di dunia kerja bergantung pada hal-hal kasat mata – hal-hal yang bisa Anda lihat, sentuh dan ukur.  Sebuah lagu kuno mengatakan, “cinta membuat dunia tetap berputar,” tapi cinta tampaknya hanya akan menyebabkan dunia bisnis tiba-tiba berderit sebelum kemudian berhenti.   

Saat kita menyebut kata cinta dalam konteks bisnis, biasanya yang kita maksud adalah hal-hal seperti, “saya mencintai pekerjaan saya,” atau “saya sangat suka pergi ke… (isi dengan nama suatu tempat).”  Cinta kadang dapat mencetuskan perasaan takut, terutama jika dikaitkan dengan sikap dan kebijakan perusahaan mengenai jalinan asmara di tempat kerja dan konsekuensinya.   Cinta-kasih, tampaknya – seperti juga agama dan politik – lebih baik dipisahkan dari rutinitas bisnis sehari-hari.

Namun, ada satu bentuk “cinta-kasih “ yang jelas-jelas mendapat tempat terhormat di tempat kerja – kasih yang diwujudnyatakan dalam kesetiaan, loyalitas dan kepercayaan.  Kasih yang dinyatakan saat sesama kolega saling mendukung serta saling melindungi, dan bukannya saling mengkhianati atau menikam dari belakang demi mencapai keuntungan diri sendiri.  Kasih yang terdapat dalam kesetiaan pada komitmen, bahkan saat mengalami kesukaran atau ketidaknyamanan.  Kasih yang terwujud dalam kerjasama sesama rekan kerja atau rekanan bisnis, bersama-sama bertekad mengatasi segala kesulitan yang menghadang.

Dalam dunia militer, banyak peperangan besar tetap memegang moto, “Tidak seorangpun akan ditinggalkan,” yang bermakna tidak meninggalkan pasukan yang terluka atau yang sekarat di medan pertempuran. Tetapi dalam dunia bisnis, kita cenderung menerapkan kebijakan yang terkuatlah-yang bertahan.  Kita cenderung berpendapat, “Akan buruk akibatnya, jika Anda tidak dapat menghalangi jalan lawan Anda,” pemikiran ini menyebabkan kita tega merugikan orang lain demi kemajuan karier kita.

Kitab kuno Amsal, yang sering menjadi rujukan dalam “Monday Manna,” secara tegas menyampaikan bentuk cinta-kasih yang menuntut kesetiaan dan ketulusan:

Mengasihi berarti bersikap jujur dan terus-terang.  Biasanya, mereka yang bekerja bersama kita cenderung tidak jujur; mereka mengatakan apa yang ingin kita dengar, tetapi di belakang kita mereka mengatakan hal-hal yang berbeda, bahkan hal-hal jahat.  Kemunafikan dan kebohongan dapat mengubah bahkan pelaku bisnis yang paling positif dan optimis sekalipun menjadi seorang yang sinis.  “Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong” (Amsal 19:22).

Mengasihi berarti tetap setia, bahkan ketika dituntut melakukan pengorbanan yang besar.  Ketika badai krisis menerpa perusahaan, bahkan pegawai yang sudah lama bekerja pun menghadapi godaan meninggalkan kapal (perusahaan) dan mencari perairan yang lebih aman dan tenang.  Tetapi beberapa kisah sukses dunia usaha justru berasal dari mereka yang percaya pada misi mereka – dan mempunyai rasa saling percaya antar rekan kerja – menggunakan sumber daya dan kekuatan bersama untuk mengatasi kondisi sulit, bahkan kondisi yang tampaknya tidak mungkin terselesaikan. “Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya” (Amsal 20:6).    

Mengasihi berarti tetap mengikuti panduan pemimpin yang handal. Ketika segala sesuatu berjalan lancar – perusahaan memperoleh laba besar, penjualan meningkat, pangsa pasar bertambah dengan pesat adalah mudah mengikuti pemimpin yang tak kenal lelah bekerja dan memiliki visi yang jelas.  Namun ketika bisnis menurun tajam, pihak-pihak yang pandangannya berseberangan mulai meragukan pemimpin yang dulu mereka akui sebagai pemimpin terpercaya, kesejatian “kesetiaan pada pemimpin” pun menghadapi ujian berat.  Anda mengasihi para pemimpin Anda dalam kondisi menyenangkan – akankah Anda tetap mendukung  mereka saat menghadapi kesukaran?  “Kasih dan setia melindungi raja, dan dengan kasih ia menopang takhtanya”(Amsal 20:28).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

 

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Saat mendengar kata “cinta-kasih” – terutama dalam konteks bisnis – apa yang segera terbersit dalam benak Anda?
  
2. Apa pendapat dan tanggapan  Anda tentang uraian dan ayat-ayat dari Kitab Amsal tentang kasih yang tercantum dalam artikel “Monday Manna” edisi minggu ini?

3. Dapatkah Anda sebutkan saat di mana seorang kolega, rekan kerja, bahkan atasan Anda, gagal menunjukkan “kasih” kepada Anda karena berlaku tidak jujur dan tidak dapat dipercaya? Bagaimana perasaan Anda tentang kejadian tersebut?
 
  
4. Menurut pendapat Anda mengapa bentuk kasih yang dipaparkan dalam artikel ini sangat jarang diterapkan dalam dunia bisnis dan dunia kerja – dan adakah langkah-langkah yang dapat diupayakan untuk mengubah hal tersebut?

Di bawah ini adalah ayat-ayat Alkitab yang dapat dijadikan dasar perenungan topik dalam artikel ini:

Amsal 11:13, 27:6; Matius 5:43-48, 19:19, 22:37-39; Yohanes 12:25; Roma 13:8-10; 1 Petrus 1:22 www.sabda.org/alkitab
 

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:12:42 | Permalink | No Comments »

Komunikasi

31 Juli 2006

CARA AGAR ORANG MENDENGARKAN ANDA
Oleh: Rick Warren

Salah satu masalah yang paling sering terjadi di tempat kerja, atau di rumah, adalah komunikasi yang buruk. Tanpa komunikasi yang efisien, sebaik apapun pemikiran, rencana atau saran Anda akan menjadi tidak berarti. Setiap tahun, banyak perusahaan kehilangan kemungkinan laba bernilai milyaran dolar sebagai akibat mengabaikan ide dan masukan yang cemerlang dari karyawan terabaikan karena komunikasi yang buruk.

Komunikasi bukan suatu hal yang terjadi secara otomatis.  Seseorang yang mendengar apa yang Anda katakan boleh jadi tidak benar-benar mendengarkan Anda.  Untunglah, terdapat tujuh kemampuan yang dapat terus kita asah agar orang lain mendengarkan apa yang kita sampaikan.  Menariknya lagi, panduan sederhana, namun mendalam – dan sangat relevan dengan kehidupan masa kini – ini tercantum dalam lembaran-lembaran Alkitab.

1. PILIH WAKTU YANG TEPAT!  Pemilihan  waktu menjadi kunci utama tercapainya komunikasi yang efektif.  Anda mungkin siap untuk berbicara, tapi apakah audiens Anda juga sudah siap, atau bersedia mendengarkan Anda?  Jangan menjatuhkan bom – melontarkan pernyataan atau pengumuman yang mengejutkan – yang belum siap diterima oleh pendengar Anda.  “Karena untuk segala sesuatu ada waktu pengadilan” (Pengkhotbah 8:6).

2. RENCANAKAN PRESENTASI ANDA.  Sebagai langkah pertama, rencanakan dengan akurat apa yang ingin Anda sampaikan.  Bila apa yang ingin Anda sampaikan adalah sesuatu yang sangat sulit atau sangat penting, rencanakan dengan lebih teliti lagi ilustrasi yang menjadi pengantar dan pendukung topik pembicara Anda tersebut.  Jangan memulai pembicaraan dengan hal-hal yang terlalu rinci sehingga mengaburkan tujuan utama pembicaran Anda.  Gunakan trik yang biasa dipakai TV, saat sutradara mulai menyorot obyek dari jarak jauh, lalu bergerak ke jarak menengah dan akhirnya menyorot obyek dari jarak sangat dekat. “Hati orang bijak menjadikan mulutnya berakal budi, dan menjadikan bibirnya lebih dapat meyakinkan”  (Amsal 16:23).

3. MULAILAH PEMBICARAAN DENGAN APA YANG MENJADI KEBUTUHAN PENDENGAR ANDA.  Seorang pendengar selalu akan mengajukan pertanyaan seperti ini, “Mengapa saya perlu mendengarkan pembicaraan ini?” dan “Apa manfaatnya bagi saya?”  Jika Anda mendudukkan diri Anda juga sebagai pendengar dan dapat menjawab dua pertanyaan ini, pastilah Anda akan mendapatkan perhatian penuh dari audiens Anda - mereka akan menyadari betapa pentingnya apa yang Anda sampaikan. “Tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus  4:29).

4. DENGARKAN ORANG LAIN TERLEBIH DAHULU!  Saat menyampaikan sesuatu yang penting, asumsi justru seringkali menjerumuskan kita ke dalam masalah. Sebelum Anda menyampaikan apa yang ingin Anda katakan, cobalah terlebih dahulu mendengarkan apa yang diinginkan oleh pihak lain dan pahami sudu*t pandang mereka. “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata” (Yakobus 1:19).

5. SAMPAIKAN INTI PEMBICARAAN SECARA POSITIF.  Tidak seorangpun suka mendengar kabar buruk.   Belajarlah untuk realistis sekaligus optimistis.  Anda tidak akan dapat menjadi persuasif bila Anda bersikap abrasif (terlalu keras), atau negatif!  Jika Anda harus menyampaikan kabar buruk, lakukan dengan menyajikan data dan tanpa merujuk seorangpun. Lalu beralihlah ke hal-hal yang lebih positif dan membangun. “Orang yang bijak hati disebut berpengertian, dan berbicara manis lebih dapat meyakinkan” (Amsal 16:21).

6. SAJIKAN KESIMPULAN PEMBICARAAN DENGAN JELAS.   Ringkas dan ikhtisarkan inti pembicaraan untuk meyakinkan bahwa audiens sudah benar-benar memahami pembicaraan.  Sajikan kesimpulan yang spesifik. Sampaikan kembali apa yang telah Anda putuskan – dan apa yang belum Anda putuskan – agar persetujuan menjadi jelas. “Supaya sehati sepikir dalam Tuhan” (Filipi 4:2).

7. AKHIRI PEMBICARAAN DENGAN UCAPAN YANG MEMBESARKAN HATI.  Ucapan di akhir pembicaraan – kalimat penutup – perlu diperhatikan.  Bahkan bila diskusi berlangsung dalam tekanan emosi yang tinggi dan kedua pihak saling melemparkan kritik pedas, usahakan mengakhiri pembicaraan dengan positif dan kesepakatan.  “Siapa mendengarkan nasihat, ia bijak!” (Amsal 12:15).

Rick Warren adalah penulis buku laris berjudul, The Purpose-Drive Life, yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan dijual di seluruh penjuru dunia.  Buku ini memaparkan pentingnya memiliki tujuan hidup yang dengan seksama dan jelas dirumuskan sebagai panduan menjalani kehidupan setiap hari.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL:
mmanna@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org.
 Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi
nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Rick Warren menyatakan bahwa mendengar – yang dapat didefinisikan sebagai kegiatan ragawi menerima gelombang suara – tidaklah sama dengan mendengarkan – yaitu penafsiran dan pemberian makna pada apa yang kita dengar.  Menurut Anda seberapa sering timbul masalah di tempat kerja Anda karena orang tidak mendengarkan dengan baik?

2. Proses mendengarkan tidak semata-mata menjadi tanggung-jawab “audiens”, atau pihak yang oleh para pakar komunikasi disebut sebagai “penerima” (“receiver”).  Pembicara (“pengirim” atau “sender”) juga memiliki tanggung-jawab untuk mengkomunikasikan pesan dengan baik.  Menurut Anda, langkah-langkah praktis apa saja yang harus dilakukan agar orang mendengarkan apa yang kita sampaikan?

3. Menurut Anda sendiri, berapa peringkat Anda sebagai seorang pendengar?  Jelaskan jawaban Anda.  Langkah-langkah apa saja menurut pendapat Anda perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan?

4. Apakah Anda setuju bahwa informasi, baik informasi baik atau buruk, seharusnya disampaikan dengan cara sepositif mungkin? Mengapa atau mengapa tidak? Seberapa mudah menyampaikan informasi dengan cara positif, tanpa maksud memanipulasi atau mengabaikan kenyataan dari suatu keadaan yang sulit?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini berkaitan dengan topik cara mendengarkan dan membangun komunikasi yang efektif:

Amsal 15:1, 15:4, 18:13; Filipi 2:3,4; Kolose 4:6; Yakobus 3:5-6, 9-12 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 05:48:06 | Permalink | No Comments »

Perspektif Hidup

24 Juli  2006

PEDOMAN MENJAGA KEHIDUPAN TETAP DALAM PERSPEKTIF YANG BENAR
Oleh: Ken Korkow

Anda mungkin menganggap hal berikut ini aneh, tetapi inilah yang pertama kali saya lakukan begitu sampai di rumah pulang dari tempat kerja (segera setelah saya mencium istri saya, Liz) yaitu memisahkan rubrik “Sketsa Kehidupan” dari lembaran surat kabar lainnya dan membaca kolom komik.  Komik yang paling saya sukai adalah serial komik “Peanuts,” karena karakter-karakternya sangat luar biasa, kombinasi karakter lucu dan muram.  Charles Schulz, pencipta “Peanuts,” begitu piawai memahami perilaku manusia sehingga tokoh anjing kartunnya yang terkenal itu, Snoopy, masih tetap membuat orang tertawa – lama setelah kematian Mr. Schulz di bulan Februari 2000.

Jauh sebelum kematiannya, Charlie Schulz telah membuktikan bahwa ia adalah seorang kartunis terkenal. Menurut saya, ketenarannya ini, salah satunya adalah, karena ia tahu bagaimana tertawa dan menjaga kehidupan tetap dalam perspektif.  Salah satu komentarnya mengenai kehidupan sehari-hari yang paling berkesan adalah: “Jangan kuatir, akhir zaman tidak akan terjadi hari ini, sebab saat ini di Australia hari besok sudah datang.”

Untuk Anda dan saya yang kini tengah berjuang menjaga kehidupan tetap dalam perspektif, kuis sederhana berikut ini rasanya perlu kita jawab:
1. Sebutkan nama lima orang terkaya di dunia.
2. Sebutkan nama pemain-pemain terkenal di arena pertandingan olahraga favorit Anda dalam lima tahun terakhir.
3. Sebutkan nama para pemenang Golden Globe untuk kategori aktor dan aktris terbaik dalam lima tahun terakhir.
4. Sebutkan nama 10 orang pemenang Hadiah Nobel dan Hadiah Pulitzer.
5. Sebutkan nama acara TV paling popular pada tahun 1999.
6. Sebutkan nama pemenang medali emas untuk nomor keindahan meluncur di atas es kategori pria pada Olimpiade tahun 2002, atau pemenang medali emas nomor 200-meter gaya berganti pada Olimpiade Musim Panas tahun 2000.

Berapa banyak di antara pertanyaan-pertanyaan tersebut yang dapat Anda jawab dengan benar? (Maaf, Anda harus siap untuk kecewa karena saya tidak akan memberikan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jika Anda benar-benar ingin mengetahui jawaban yang benar, Anda harus mencarinya sendiri.)

Intinya adalah, tidak seorang pun di antara kita tetap mengingat para “pembuat tajuk berita,” pesohor, “nama-nama terkenal” di masa lalu. Bukan karena orang-orang tersebut adalah tokoh atau pemenang kelas-dua. Karena mereka semua pada masanya, dalam bidang yang mereka tekuni, adalah tokoh-tokoh terbaik dari yang terbaik. Namun tepuk tangan kekaguman dan pengakuan akhirnya berakhir. Kecemerlangan piala dan medali lambang kemenangan pun luntur. Prestasi-prestasi hebat akhirnya dilupakan orang.  Ulasan penuh pujian, piagam penghargaan, lencana kehormatan dikuburkan bersama pemiliknya.

Kuis di bawah ini, mungkin akan lebih mudah dijawab dibanding kuis sebelumnya:
1. Sebutkan sedikitnya tiga nama guru yang membantu Anda menjalani masa pendidikan ketika masih bersekolah dulu.
2. Sebutkan tiga nama teman yang siap membantu Anda menghadapi saat-saat yang sulit.
3. Sebutkan lima nama orang yang telah mengajarkan hal-hal berguna kepada Anda.
4. Sebutkan tiga nama orang yang membuat Anda merasa berharga dan dihargai.
5. Sebutkan lima orang dengan siapa Anda menikmati hal-hal yang menyenangkan.
6. Sebutkan empat nama pahlawan yang kisahnya menjadi inspirasi hidup Anda.

Saya yakin Anda akan berpendapat kuis kedua lebih mudah dari kuis pertama, dan yang lebih penting lagi, saya tidak harus memberikan jawaban yang benar untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut! Jawaban untuk semua pertanyaan dalam kuis kedua adalah nama orang-orang yang Anda kenal secara pribadi dan selanjutnya – kisah-kisah mereka dapat Anda ceritakan kepada orang lain sehingga membawa dampak dahsyat dalam jangka waktu yang panjang bagi kehidupan paling tidak satu orang yang sangat Anda kenal.

Orang-orang yang membawa pengaruh positif dalam kehidupan kita bukanlah orang-orang yang sangat luar biasa hebatnya, bukan juga mereka yang memiliki kekayaan yang sangat besar, atau mereka yang memiliki setumpuk penghargaan.  Melainkan orang-orang yang peduli – baik kepada kita maupun kepada orang lain.  Mereka  yang menerapkan pengajaran Yesus Kristus “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39).

Ken Korkow berdomisili di Omaha, Nebraska, A.S., tempat ia bekerja sebagai direktur wilayah CBMC. Artikel ini diadaptasi dari kolom mingguannya “Fax of Life” dan  dipublikasikan seijin penulisnya.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Mengapa baik sebagai individu – maupun sebagai bagian dari suatu kelompok masyarat - kita dengan sangat cepat melupakan orang-orang yang pernah menjadi tajuk berita di surat kabar atau pernah  menjadi sorotan kamera TV?

2. Apakah Anda sependapat dengan pernyataan bahwa orang yang benar-benar berarti dalam kehidupan ini bukanlah mereka yang mendapat pelbagai penghargaan bergengsi dan menjadi pusat perhatian mass-media tetapi mereka yang diam-diam membawa pengaruh baik dalam kehidupan orang-orang di sekitar mereka?  Mengapa atau mengapa tidak?

3. Dalam hal apa saran dalam artikel “Monday Manna” ini untuk meletakkan apa yang penting dalam kehidupan pada perspektif yang benar mempengaruhi cara Anda memandang  tujuan dan target – baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi – yang selama ini telah dengan tekun Anda usahakan, bahkan dengan sungguh-sungguh Anda perjuangkan?

4. Yesus Kristus, sungguh, adalah tokoh yang namanya terkenal di seluruh penjuru dunia. Tetapi Ia tidak pernah muncul dalam siaran langsung di televisi, tidak pernah merekam sebuah lagu pun, dan tidak pernah memiliki kekayaan bernilai jutaan dolar. Berdasarkan apa yang Anda ketahui tentang diri-Nya dan kehidupan-Nya, mengapa 2.000 tahun setelah kehadiran-Nya di dunia – jutaan orang masih terus memuliakan-Nya dan melantunkan lagu pujian bagi-Nya?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat Anda gunaakan sebagai dasar merenungkan makna meletakkan kehidupan pada sudut pandang yang benar:

Matius 6:19-21; Yohanes 15:9-17; Kisah Para Rasul 4:32; Filipi 2:3-4; 1 Yohanes 4:7-12 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 05:34:55 | Permalink | No Comments »

Manfaat Pembinaan

17 Juli 2006

MENARIK MANFAAT  SEBANYAK-BANYAKNYA  DARI PEMBINAAN
Oleh: Robert J. Tamasy

Pembinaan (mentoring) menjadi istilah popular dalam dunia bisnis dan dunia kerja masa kini. Tampaknya, semua orang setuju bahwa membina staf yang lebih muda dan masih kurang berpengalaman adalah suatu tindakan yang bermanfaat, karenanya banyak perusahaan telah berupaya melembagakan program pembinaan, meski derajat keberhasilannya sangat beragam.  Selanjutnya, jika Anda menanyakan manfaat program pelatihan kepada mereka yang pernah terlibat di dalamnya, maka penilaian mereka akan bervariasi dari “sangat baik” ke “benar-benar hanya membuang waktu.”

Berdasarkan pengalaman saya pribadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa keragaman tanggapan tersebut sangat dipengaruhi oleh harapan.  Banyak orang mengharapkan menemukan hubungan sejati dengan pembina  mereka, sehingga jika pembina menjalankan tugasnya sekadar melaksanakan pekerjaan, atau bahkan melakukannya dengan enggan, maka baik pembina maupun peserta binaan tidak akan mendapat manfaat.

Akar permasalahan ini adalah kecenderungan kita menganggap pembinaan sebagai suatu “program” - tugas atau pekerjaan yang tercantum dalam daftar “hal-hal yang harus dilakukan” setiap hari atau setiap minggu. Namun, sebagaimana pernyataan saya dan David A. Stoddard dalam buku kami, The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (Intisari Pembinaan: 10 Prinsip yang Sudah Terbukti  untuk Mengembangkan Sumber Daya Manusia hingga dapat Memanfaatkan Seluruh Potensinya), pembinaan sebaiknya dipandang sebagai suatu proses, bahkan sebagai suatu perjalanan yang dilakukan oleh dua orang bersama-sama.

Kami memandang pembinaan sebagai suatu upaya yang melibatkan “keseluruhan pribadi manusia”. menyadari bahwa manusia adalah mahluk yang kompleks dan memiliki kehidupan yang berdimensi-banyak (akal-pikiran, raga, rohani dan sosial), sehingga tidak dapat dihindari pengaruh kehidupan pribadi terhadap kehidupan profesional mereka - demikian juga sebaliknya, kehidupan profesional berpengaruh terhadap kehidupan pribadi mereka.  Meski pendekatan pembinaan yang berfokus sempit dan bersifat satu-dimensi  bermanfaat, orang-orang muda tampaknya akan jauh lebih tertarik pada pembina yang bersedia memberikan pengetahuan dan kebijaksanaan yang merupakan inti-sari semua aspek kehidupan, baik kehidupan keluarga dan keuangan, maupun masalah pekerjaan yang telah dialami oleh para pembina.  Orang-orang muda ini berhasrat belajar dari mereka yang telah lebih jauh menapaki jalan kehidupan. 

Meski Alkitab tidak dengan persis menggunakan istilah “pembinaan,” di dalamnya tercantum beberapa pengajaran yang dapat meningkatkan proses pembinaan. Renungkanlah hal-hal berikut:

Pembinaan memberi manfaat timbal-balik bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.  Dalam pembinaan, kami menyarankan penggunaan istilah “pembina” dan “rekan binaan,” karena dalam proses tersebut keduanya dapat - dan biasanya memang demikian - saling belajar dan menarik manfaat satu sama lainnya.  Paling tidak, dari “rekan” yang lebih muda  itu, para pembina berkesempatan memandang kehidupan dan pekerjaan dari perspektif yang berbeda. Amsal 27:17 mengatakan, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”

Pembinaan berfungsi dengan baik jika semua yang terlibat berperan-serta. Seringkali terjadi mereka yang saya bina, yang meminta saran dari saya justru membantu saya menyelesaikan masalah yang tengah saya hadapi, mereka memberikan nasehat-nasehat berharga, atau dengan pelbagai cara memberikan dukungan dan semangat mengatasi masalah saya.  Dan kami pun bekerja-sama menyelesaikan masalah.  “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya” (Pengkhotbah 4:9-10).

Pembinaan seharusnya merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan. Pembinaan bukan berarti mempunyai “jawaban atas segala hal.”  Seringkali pembinaan hanya membutuhkan telinga yang peduli untuk mendengarkan, hati yang penuh perhatian, atau sekadar kesediaan menyampaikan saran dan dukungan melalui ucapan-ucapan yang tulus pada saat dibutuhkan. “Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” (Amsal 15:23).

Pembinaan adalah sesuatu yang mendatangkan banyak manfaat.  Anda mungkin bertanya-tanya, “Mengapa saya harus bersusah-payah membina orang lain?”  Jawabannya sederhana saja:  Saat memberikan diri Anda - waktu, tenaga, kekayaan pengetahuan dan hikmat yang Anda miliki, Anda akan menerima kepuasan karena telah membantu orang lain. “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini (Tuhan) mengasihi engkau, maka Aku memberikan…bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu” (Yesaya 43:4).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Apakah Anda mempunyai seorang pembina?  Jika Anda punya, gambarkanlah apa arti pembina itu bagi Anda.  Jika Anda tidak punya seorang pembina, apakah Anda ingin mempunyai seorang pembina - dalam hal apa Anda mengharapkan pembina tersebut membantu Anda?

2. Pernahkah Anda mencoba membina orang lain?  Gambarkan hal tersebut. Apakah kegiatan tersebut merupakan pengalaman positif bagi Anda? Mengapa atau mengapa tidak?

3. Apakah ulasan tentang pembinaan dalam “Monday Manna” edisi minggu ini memberikan ide atau perspektif baru bagi Anda?

4. Apa tanggapan Anda mengenai ide bahwa pembinaan melibatkan “keseluruhan pribadi manusia”?  Apakah hal ini masuk akal - atau terasa terlalu berlebihan, terlalu sulit dijalankan, bahkan di luar jangkauan pemikiran Anda? Jelaskan jawaban Anda.

Berikut adalah ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan pembinaan dan memperoleh manfaat dari orang lain:

Lukas 5:1-11, 27-32; Imamat 34:5-9; Yosua 1:1-9; 2 Timotius 2:2; 3 Yohanes 4 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 05:31:22 | Permalink | No Comments »

Kerendahan Hati

10 Juli 2006

BERKENANKAH ANDA MENJADI ‘NOMOR TIGA’?
Oleh: Rick Boxx

Tersembunyi di pedalaman pegunungan Ozark, akan Anda temukan Perkemahan Kanakuk, suatu tempat berkemah musim panas yang luar biasa untuk orang-orang muda. Memang banyak perkemahan seperti ini didirikan untuk melatih dan membentuk ketangguhan fisik, tetapi Perkemahan Kanakuk memiliki tujuan berbeda - yaitu untuk mengembangkan dan melatih para pemimpin yang melayani. 

Putri saya, Megan, baru-baru ini untuk pertama kalinya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh pusat retreat khusus ini.  Dalam perjalanan pulang usai mengikuti perkemahan, saya bertanya pada Megan, “Hal apa yang paling berharga yang kau pelajari selama seminggu ini?”

“Saya adalah nomor tiga!” demikian jawabannya. “Tuhan yang nomor satu, orang lain nomor dua, dan saya nomor tiga.” Kalimat ini terdengar sederhana, sangat berbudi-luhur dan idealistis, namun mengejawantahkan kebenaran ini  melalui cara yang praktis dan realistis tidaklah mudah, seperti yang dipelajari Megan dari kisah sejati seorang bernama Kapten Johnny Ferrier yang disampaikan oleh Joe White.

Bertahun-tahun yang lalu, Kapten Ferrier juga belajar prinsip “Saya ini nomor tiga” di Perkemahan Kanakuk. Ia kemudian menerapkan prinsip ini dalam kehidupannya sebagai atlet yang berprestasi, juga sebagai pilot pesawat jet yang terampil dan diakui kehebatannya. Namun, bukti paling besar atas komitmennya pada prinsip ini, justru terjadi dalam suatu kecelakaan yang merenggut nyawanya.

Dalam suatu pertunjukan atraksi pesawat tempur, Ferrier bersama tiga pesawat lainnya melakukan gerakan sulit di mana mereka harus terbang berpencar ke empat arah yang berbeda membentuk formasi salib. Saat Kapten Ferrier mengarahkan pesawatnya ke tanah, tongkat kendali pesawatnya tidak bekerja.  Lewat radio, Ferrier melaporkan masalahnya kepada menara pengendali, yang menyarankannya untuk segera melontarkan diri keluar dari pesawat.

Namun, sang pilot menolak meninggalkan pesawat, dan berupaya menghindari rumah yang berada tepat di titik jatuh pesawatnya. Dan, beberapa saat sebelum pesawat menghantam rumah tersebut, entah bagaimana ia berhasil menggerakkan tongkat pengendali yang macet, dan berhasil menerbangkan pesawatnya menghindari rumah itu.  Malangnya, karena terbang terlalu rendah, pesawat menghantam sisi lain rumah itu, dan jatuh di kebun.  Dengan meletakkan dirinya di posisi ketiga dan mengorbankan jiwanya, Ferrier berhasil menyelamatkan hidup mereka yang ada dalam rumah tersebut. 

Peristiwa heroik tersebut disaksikan juga oleh seorang teman Ferrier sesama alumnus Perkemahan Kanakuk.  Ia kemudian menceritakan kembali kisah temannya yang luar biasa itu pada suatu kelompok di perkemahan, usai bercerita seorang wanita mendekatinya. Dengan lugas wanita tersebut berkata, “Teman Anda itu sungguh seorang pahlawan.  Anda tahu, saya sedang tidur dalam rumah yang dihindari Kapten Ferrier dalam kecelakaan yang merenggut jiwanya itu.”

Kapten Ferrier mewujudnyatakan derajat integritas dan dedikasi pada suatu prinsip yang hanya dapat ditiru oleh segelintir orang. Teladan utama yang melebihi kisah ini ditunjukkan oleh Yesus Kristus, yang hidup sesuai dengan prinsip-prinsip yang diajarkan-Nya dalam Matius 22:39, ”… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ia juga berfirman, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yohanes 15:13).

Mengapa saya mengirimkan kisah ini melalui e-mail kepada mereka yang ada dalam dunia bisnis dan dunia kerja? Padahal, jarang sekali pekerjaan kita membutuhkan pengorbanan yang mengakibatkan kematian. Namun, dunia bisnis dan dunia kerja membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia menjadi “nomor tiga,” yang meletakkan Tuhan dan orang lain pada prioritas yang lebih utama di atas kepentingan pribadinya. Hal ini mungkin baru dapat diwujudkan dengan sedikit mengalami ketidaknyamanan saat membantu  seseorang; denggan mengorbankan waktu demi membantu seorang rekan kerja menyelesaikan suatu proyek penting; atau bahkan menyarankan para pelanggan melakukan bisnis dengan perusahaan lain agar kebutuhan mereka dapat terpenuhi dengan lebih baik. “Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri” (Filipi 2:3).

Bagaimana dengan Anda?  Apakah Anda bersedia mendahulukan orang lain di atas kepentingan Anda sendiri?

Copyright 2006, Integrity Resource Center, Inc. Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani.  Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan  “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org.
 Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Apa tanggapan Anda terhadap kisah Kapten Johnny Ferrier dan pergorbanan jiwa yang dilakukannya?

2. Apakah Anda pernah menjadi pihak yang mendapat manfaat dari seseorang yang bersedia menjadi “nomor tiga” - baik di tempat kerja maupun dalam kehidupan pribadi?

3. Menurut Anda mengapa sangat tidak lazim - atau sulit - bagi kita menjadi “nomor tiga,” meletakkan tujuan, ambisi dan keinginan pribadi kita di posisi yang lebih rendah dibandingkan dengan kepentingan orang lain?

4. Secara jujur: Menurut Anda apakah filosofi “saya ini nomor tiga” penting dan harus ditumbuhkan dalam kehidupan setiap orang, atau apakah paham tersebut terlalu idealistis dan tidak realistis untuk diterapkan oleh kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari? Jelaskan jawaban Anda

Ayat-ayat Alkitab berikut ini dapat dijadikan dasar perenungan bagaimana meletakkan Tuhan dan orang lain di atas kepentingan diri sendiri:

Amsal 11:17, 22:4, 29:23; Lukas 9:23; 1 Petrus 5:5-6 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 03:41:34 | Permalink | No Comments »