Friday, March 9, 2007

Hal-Hal Positif

16 Oktober  2006

HAL - HAL POSITIF APA SAJA YANG DAPAT KITA PIKIRKAN?
Oleh: Robert J. Tamasy

Siap atau tidak, hari Senin – awal suatu minggu yang baru sudah datang lagi.  Saat Anda bangun hari ini, seperti apa suasana hati Anda? Apakah semangat Anda berkobar-kobar, siap menghadapi tantangan hari ini, atau Anda mengikuti pola pikir “Hukum Murphy”, yang menyakini bahwa jika sesuatu dapat berjalan tidak lancar, maka seperti itulah yang akan terjadi? Apakah Anda menyambut hari ini dengan kalimat penuh semangat “Selamat pagi, Tuhan!” (“Good morning, Lord!”) atau dengan keluhan “Ya Tuhan, sudah pagi lagi!” (“Good Lord, morning!”)?

Selama Bertahun-tahun saya menjalin persahabatan dengan teman-teman penganut apa yang dikenal sebagai aliran “berpikir positif,” suatu mazhab pemikiran yang intinya terangkum dalam pernyataan: “Segala sesuatu yang dapat diterima dan diyakini oleh pikiran, dapat dicapai.”  Saya sangat mendukung cara hidup optimistik seperti itu, tetapi jujur saja; banyak hal yang bahkan oleh pemikir paling positif sekalipun tidak mungkin diwujudkan. Misalnya, sebaik apapun kemampuannya, didukung dengan postur badan setinggi tujuh kaki, pemain bola basket profesional asal Cina Yao Ming, tidak akan dapat menjadi joki yang baik dalam pacuan kuda.  Pengemudi Volkswagen (VW) “Kodok” tidak akan dapat merebut gelar juara dalam sirkuit Formula Satu. 

Beberapa orang secara alami memiliki lebih banyak kemampuan menjalani peran kepemimpinan formal dibanding yang lain, seperti juga tidak dapat diingkari bahwa beberapa orang memiliki bakat di bidang mekanik dibanding yang lain.  Cara berpikir positif hanya mengantar kita sampai sejauh itu – pemikiran ini memiliki keterbatasan-keterbatasan.

Bukan berarti saya menolak cara berpikir positif.  Malahan, seiring dengan berjalannya waktu saya menyadari bahwa cara berpikir saya semakin positif.  Namun, dasar cara berpikir positif saya, bukanlah kemampuan dan kekuatan saya. Dasar optimisme saya yang berlimpah-limpah itu adalah keyakinan yang mendalam akan jaminan dan kepercayaan pada fakta bahwa Tuhan memimpin kehidupan saya, bahwa Ia mempunyai rencana bagi saya dan Ia pasti akan mewujudkannya, tak peduli bagaimana dan apapun yang terjadi.

Milik siapakah hari ini? Hampir setiap pagi, bahkan ketika menghadapi jadual yang sangat padat dan penuh tekanan, saya dibangunkan oleh suatu alarm bernada gembira dari Kitab Mazmur, “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mazmur 118:24). Jika saya memandang segala langkah dan beban dalam suatu hari seluruhnya adalah tanggung-jawab saya sendiri, saya mungkin tidak akan mau bangun dari tempat tidur. Tetapi percaya pada Tuhan yang baik, pengasih dan pemurah memberikan keyakinan bahwa saya memiliki kemampuan untuk tidak hanya menghadapi suatu hari, tetapi juga untuk menikmati hari tersebut. Menurut saya, inilah yang disebut cara berpikir positif.

Pekerjaan siapakah ini?  Beberapa waktu berselang, saya membaca kisah seorang wanita yang berhasil terus menjaga perspektif luar biasa atas pekerjaannya.  Wanita ini mengerjakan tugas membersihkan suatu kantor yang sama selama  40 tahun.   Ketika seorang wartawan bertanya bagaimana ia mengusir kebosanan mengerjakan tugas yang sama setiap hari dalam waktu yang panjang, ia menjawab, “Saya tidak pernah merasa bosan.  Saya mengunakan bahan pembersih yang dibuat oleh Tuhan. Saya membersihkan barang-barang milik orang ciptaan Tuhan dan membuat hidup mereka lebih nyaman. Tangkai sapu saya ibarat tangan Tuhan!”  Seperti itulah, menurut saya, sejatinya cara berpikir positif. “Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah” (Pengkhotbah 3:13). 

Kebenaran siapakah ini? Kita hidup dalam dunia yang membombardir kita dengan pikiran-pikiran negatif.  Acara “bincang-bincang” di radio mengingatkan kita pada segala hal yang salah mulai dari politik luar negeri sampai tim olahraga favorit kita.  Surat kabar dan siaran berita umumnya berfokus pada sisi negatif suatu peristiwa karena mereka menyadari, sayangnya, “kabar baik” tidak mempunyai nilai jual. Tetapi kita memiliki pilihan untuk tidak berkubang dalam kolam limbah penuh hal-hal negatif. Terdapat begitu banyak keindahan dan kebaikan di sekitar kita, kita hanya perlu lebih memperhatikannya. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8). Dan, ya, inilah cara berpikir positif. 

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Secara umum, apakah Anda tergolong seorang yang optimis atau seorang yang pesimis?  Jelaskan jawaban Anda – dan berikan contoh yang dapat membuktikan bahwa Anda adalah seorang yang pesimis atau seorang optimis?

2. Apa pendapat Anda mengenai cara berpikir positif? Pernahkan Anda meluangkan waktu mempelajari cara berpikir positif menghadapi kehidupan –  atau bahkan Anda sudah menerapkannya?

3. Apakah Anda menganggap setiap Senin pagi – awal suatu minggu kerja yang baru – sebagai suatu tantangan yang menyegarkan dan menyenangkan, atau sebaliknya sebagai pemicu luruhnya semangat dan penyebab frustasi? Mengapa?

4. Apa tanggapan Anda mengenai sudut-pandang wanita yang dengan sukacita menjalani pekerjaan yang sama selama 40 tahun, dan menyimpulkan bahwa, “Tangkai sapu saya ibarat tangan Tuhan”? Apakah – atau dapatkah – Anda menerapkan filosofi yang sama dalam pekerjaan Anda?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini digunakan sebagai dasar merenungkan topik artikel ini:

Kejadian 1:27-30; Pengkhotbah 2:17-25; Markus 12:28-31; Lukas 16:1-13; Roma 12:2 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar in 07:55:25
Comments

Leave a Reply