Friday, March 9, 2007

Antisipasi Kesukaran

23 Oktober  2006

MASA KELIMPAHAN, MASA KELAPARAN
Oleh: Mark Biller

Yusuf adalah salah satu tokoh pemimpin dalam Alkitab yang saya kagumi.  Jalan hidupnya yang naik-turun dengan sangat dramatis dari posisi putra kesayangan lalu menjadi budak kemudian menjadi pengurus rumah tangga selanjutnya terhempas menjadi pesakitan dalam penjara dan akhirnya berhasil menjadi Mangkubumi Kerajaan Mesir sungguh sangat mengagumkan dan memberi inspirasi.  Titik puncak kisahnya tercatat dalam Kitab Kejadian 50:20 saat Yusuf memberikan pengharapan bagi mereka yang tengah menghadapi masa-masa sulit: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Sungguh suatu contoh bagaimana pekerjaan Allah diwujudkan melalui hidup manusia untuk akhirnya mencapai tujuan utama-Nya!

Baru-baru ini saya merenungkan kisah Yusuf dari sudut pandang yang berbeda - menarik pelajaran keuangan.  Titik balik kehidupan Yusuf di Mesir terjadi saat ia berhasil menafsirkan dua mimpi Firaun.  Ia melihat Mesir akan segera mengalami tujuh tahun kelimpahan, yang diikuti oleh tujuh tahun kelaparan.  Pada masa kelimpahan, Yusuf sudah mulai melakukan persiapan menghadapi tahun-tahun kelaparan, sehingga rakyat Mesir terhindar dari bencana kelaparan.
 
Saya bukan bermaksud merumuskan suatu prediksi, tetapi sekadar bertanya-tanya dalam hati bagaimana bila bangsa-bangsa yang kini sedang berada dalam tingkat kesejahteraan yang sangat tinggi diperhadapkan pada skenario “tahun kelimpahan, tahun kelaparan” – entah dengan alasan apapun.  Bila hal tersebut rasanya tidak mungkin terjadi, barangkali akan sangat bijaksana menerapkan kisah Yusuf ini dalam kehidupan pribadi dan segera melakukan persiapan sekarang juga, menyisihkan apa yang diperoleh dalam tahun-tahun penuh kelimpahan, untuk menghadapi tahun-tahun kesusahan yang mungkin menjelang. 

Lebih dari dua puluh tahun, banyak bangsa – terutama bangsa-bangsa di belahan bumi bagian barat – mengalami kesejahteraan ekonomi yang menakjubkan.  Misalnya, sejak tahun 1982, A.S. hanya mengalami dua masa resesi yang pendek dan tak berarti, setiap masa resesi tersebut masing-masing hanya berlangsung dalam waktu sembilan bulan.  Mengapa disebut tak berarti?  Bandingkanlah dengan apa yang terjadi dari tahun 1900 sampai 1982 di mana terjadi 19 masa resesi, yang datang silih berganti dalam rentang rata-rata 3.5 tahun.  Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat menyebabkan peningkatan drastis dalam pasar modal dan pendapatan rumah-tangga yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan pribadi maupun kesejahteraan nasional.  Jangan sampai melakukan kesalahan: Perekonomian dan tingkat kesejahteraan yang luar biasa ini sangat jarang terjadi. 

Idealnya,  kita – baik secara pribadi maupun secara nasional – harus dapat menyisihkan kelimpahan keuangan ini untuk persiapan menghadapi badai keuangan yang mungkin terjadi pada masa mendatang.  Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya.  Renungkan data berikut:
· Pada tahun 1982, pembayaran hutang rumah-tangga hanya sedikit lebih besar dari $1 untuk setiap $10 pendapatan setelah-dipotong-pajak.  Tahun 2005, perbandingan ini meningkat menjadi hampir $1 untuk setiap $7.
· Kebangkrutan personal meningkat menjadi 31.6%  pada tahun 2005.  Dalam tahun itu saja, 1 dari 53 rumah-tangga A.S. menyatakan dirinya bangkrut.
· Laju tabungan nasional turun menjadi -0.5% tahun lalu, menandai bahwa konsumen membelanjakan uang lebih dari pendapatan setelah-dipotong-pajak, hal ini untuk pertama kalinya terjadi sejak tahun 1932-1933, yaitu saat Masa Resesi Berat (Great Depression) berlangsung.

Di tingkat nasional, hal yang sama juga terjadi, pelbagai kemerosotan di pelbagai pelayanan sosial sudah diantisipasi dan didokumentasikan dengan baik.  Namun dalam tingkat kesejahteraan yang sangat baik seperti sekarang ini, belum ada langkah nyata yang dilakukan.

Alkitab dengan tegas memberikan peringatan mengenai hutang.  Dengan memperhatikan data dan kecenderungan keuangan, sangat mudah menemukan potensi kemerosotan ekonomi yang akan terjadi pada suatu waktu di masa depan.   Syukurlah, Tuhan telah menunjukkan kepada kita prinsip bersiap sepanjang tahun-tahun penuh kelimpahan.  Bekerja dengan tekun agar terbebas dari hutang, menabung untuk dana masa-masa darurat, berinvestasi untuk masa depan, dan melakukan penganeka-ragaman investasi.   

Yusuf dengan bijaksana menyisihkan 20% hasil panen gandum, dan karenanya tidak hanya bangsa Mesir tetapi juga bangsa-bangsa lain di sekitarnya berhasil selamat dari bencana kelaparan. Ini seharusnya menjadi tujuan kita – menjadi penata-layan yang setia pada masa-masa yang baik, mempersiapkan diri menghadapi masa-masa sulit di saat mendatang. Melalui penata-layanan yang bijaksana dan setia seperti ini, kita akan melihat bagaimana kita digunakan, seperti Yusuf, menjadi alat Tuhan untuk menawarkan kelegaan mengatasi  saat-saat penuh kesulitan.  “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen” (Amsal 6:6-8).
 
Mark Biller adalah editor eksekutif pada situs-web dan buletin perencanaan keuangan Sound Mind Investing. Informasi dan dasar investasi Sound Mind Investing dapat dibaca pada alamat berikut ini:  www.soundmindinvesting.com.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Saat membaca peringatan dalam “Monday Manna” kali ini, bagaimana perasaan Anda , apakah Anda merasa  - kuatir, marah, termotivasi untuk melakukan suatu perbuatan nyata, cemas atau ragu-ragu? Jelaskan jawaban Anda.

2. Tidak ada satupun masyarakat yang akan selalu menikmati peningkatan kesejahteraan tanpa akhir.  Sebagaimana pepatah kuno menyimpulkan, “setiap hal yang baik akhirnya selesai juga” – termasuk peningkatan ekonomi yang luar biasa.  Menurut Anda apakah bijaksana mempersiapkan kemunduran yang akan terjadi, atau menurut Anda hal tersebut adalah suatu tindakan pesimistis atau bahkan tidak perlu dilakukan?

3. Mark Biller menyarankan empat langkah yang dapat kita lakukan dalam masa-masa kelimpahan untuk persiapan menghadapi saat-saat ketika kondisi ekonomi menurun, yaitu: bekerja agar terbebas dari lilitan hutang, menabung untuk dana pada keadaan darurat, melakukan investasi untuk masa depan, dan melakukan penganeka-ragaman investasi.  Manakah di antara hal-hal tersebut, jika ada, yang paling mungkin Anda lakukan sekarang?  Mengapa?

4. Kitab Amsal menggunakan, semut, tupai, dan hewan-hewan lainnya yang seringkali hanya bertindak mengikut naluri tetapi menunjukkan hikmat penata-layanan yang dapat kita tiru dalam merencanakan masa depan – dan juga masa kini.  Menurut Anda hal ini perlu dilakukan?  Apakah menurut Anda kita memang dapat menarik pelajaran dari mahluk-mahluk yang sering kita anggap kurang-berakal tersebut?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan sebagai dasar merenungkan topik dalam artikel ini:

Amsal 10:5, 11:4, 15:6, 18:11, 22:7; Matius 24:42-51, 25:14-30; Lukas 16:10-12 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 08:08:01
Comments

Leave a Reply