Penatalayanan
17 April 2006
Masukan Penting untuk Pelaksanaan Penatalayanan
Oleh Austin Pryor
Berkaitan dengan prinsip Alkitab mengenai manajemen keuangan, tampaknya “Perumpamaan tentang Talenta” yang tertulis dalam Matius 25 pada Perjanjian Baru dapat dianggap sebagai perikop universal yang “wajib” ditelaah. Perikop ini mencakup banyak hal: modal yang dimiliki Sang Tuan dan bukan dipinjam dari para investor; penanganan keuangan yang melibatkan penugasan jangka panjang; pentingnya pencanangan tingkat keuntungan; serta kesetiaan dalam pemeliharaan dan pendayagunaan sumber daya yang pentingnya melebihi hal-hal lain. Perumpamaan ini menyampaikan inti konsep penatalayanan (stewardship) – kepemilikan dan akuntabilitas. Selain perikop ini, terdapat ayat-ayat Alkitab lainnya yang juga mengungkapkan prinsip penatalayanan:
Bahayanya terlibat hutang. “Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi” (Amsal 22:7).
Pentingnya menabung demi masa depan. “Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya“ (Amsal 21:20).
Manfaat memberagamkan resiko. “Berikanlah bahagian kepada tujuh, bahkan kepada delapan orang, karena engkau tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi”(Pengkhotbah 11:2).
Allah sangat menghargai upaya kita menolong orang lain. “…Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga. Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu… “(2 Korintus 8:6-15).
Ayat-ayat di atas memang sangat membantu mengajarkan apa yang harus kita lakukan. Tetapi rasanya tetap masih ada yang kurang. Bertahun-tahun yang lalu, saya mendapatkan ayat lain yang sangat penting namun sangat jarang digunakan dalam konteks penatalayanan. Saat berdiskusi tentang masalah keuangan dengan seorang teman, saya menanyakan ayat Alkitab mana yang menurutnya sangat penting berkaitan dengan penatalayanan. Tanpa ragu, teman saya itu menjawab “Galatia 5:16.” Dalam ayat ini Rasul Paulus menulis, “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” Atau dengan perkataan lain dinyatakan sebagai berikut: “Saya menasehati Anda untuk taat hanya kepada perintah Roh Kudus. Ia-lah yang akan mengarahkan ke mana Anda harus pergi atau apa yang harus Anda lakukan, sehingga Anda tidak akan selalu tunduk pada kemauan berbuat dosa yang dibangkitkan oleh sisi jahat dalam diri Anda.”
Segera saya menangkap hikmat dalam jawaban teman saya itu. Hal yang menyebabkan kita tidak menjalankan penatalayanan sebagaimana diperintahkan umumnya bukanlah karena kita tidak memahami apa yang perlu dilakukan. Berkat ayat-ayat Alkitab tersebut di atas, kita tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tetapi kita tidak MELAKUKAN apa yang seharusnya dilakukan. Kita tidak menjalankan rancangan yang sudah dicanangkan. Mengapa? Karena menjalankan penatalayanan yang benar menuntut kita menguasai, sampai pada taraf sangat mahir, apa yang disebut oleh Alkitab sebagai “sifat-sifat manusia lama.” Bagian diri kita yang ingin mewujudkan hanya apa yang diinginkannya, menjadikan kepuasan-diri sebagai tujuan pengambilan keputusan, dan tidak mengenal pengorbanan-diri.
Bukankah, hal tersebutlah yang menyebabkan kita gagal melaksanakan penatalayanan yang benar? Banyak orang berhutang karena mereka membelanjakan uang untuk apa yang mereka inginkan. Hal ini juga yang menjadi penyebab orang tidak dapat menyisihkan uang untuk keadaan darurat atau untuk tabungan jangka-panjang. Hal yang sama berlaku pada mereka yang cenderung berat hati mendukung pekerjaan Allah melalui pemberian sumbangan. Bahkan banyak orang yang bertekun dalam iman tetap mempunyai kecenderungan “menuruti keinginan daging.”
Saya tidak mengatakan bahwa membelanjakan uang itu salah. Tetapi dorongan membelanjakan uang secara berlebihan untuk sesuatu yang kita inginkan – yang kemudian bahkan menyebabkan kita melalaikan kewajiban membayar hutang, menabung untuk masa depan, atau memberi bantuan kepada orang lain dalam nama Yesus – berasal dari dorongan untuk memuaskan keinginan diri kita sendiri. Dorongan ini, sayangnya, sering kali mengalahkan keinginan kita melaksanakan penatalayanan sebagai cara mentaati dan menyenangkan hati Allah. Jika kita tidak mengendalikan hawa nafsu kita, maka hawa nafsulah yang akan mengendalikan kita!
Lalu bagaimana kita melakukannya? Kita tidak dapat melakukannya! Hanya Roh Kudus Allah, yang diam di dalam setiap diri pengikut Yesus, yang dapat melakukannya. Ia menguatkan dan memberdayakan kita. Bila kita menyerahkan diri sepenuhnya pada kendali dan pimpinan-Nya, Ia akan membentuk “buah” – berupa sifat-sifat positif seperti yang ada dalam kehidupan-Nya (termasuk pengendalian-diri) dalam diri kita. Ia dapat menjadikan kita sebagaimana yang Ia inginkan; seperti yang juga kita idamkan dapat kita lakukan. Itulah mengapa Paulus berkata, “Hiduplah oleh Roh!” Anjuran ini memungkinkan kita mengikuti panduan Alkitab menjalankan penatalayanan.
Austin Pryor adalah penerbit Sound Mind Investing, sebuah buletin keuangan dari sudut pandang Alkitab yang sangat terkemuka di Amerika. Ia telah menulis sebuah buku, berjudul Sound Mind Investing. Saran-sarannya tentang investasi dapat dibaca di www.soundmindinvesting.com.
CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
Pertanyaan Refleksi/Diskusi
1. Austin Pryor membahas penanganan keuangan dalam kerangka “penatalayanan” atau manajemen sumber daya yang membawa manfaat bagi orang lain, tidak dikaitkan dengan kepemilikan. Apakah Anda sependapat dengan sudut pandangnya ini? Mengapa atau mengapa tidak?
2. Manakah di antara prinsip-prinsip manajemen keuangan yang disajikan Austin Pryor yang tampaknya sangat penting bagi Anda dan keadaan pribadi Anda, atau bagi bisnis Anda? Jelaskan jawaban Anda.
3. Pernahkah Anda mempunyai keinginan untuk menggunakan sumber daya keuangan dengan cara-cara yang lebih menguntungkan orang lain, dan bukan untuk memuaskan keinginan dan hasrat pribadi Anda? Jika pernah, berikanlah contoh dan ceritakan apa yang Anda lakukan – atau tidak Anda lakukan.
4. Penulis artikel ini menyebutkan alasan utama kegagalan kita mewujudkan niat baik adalah karena apa yang oleh Alkitab disebut sebagai “keinginan daging.” Apakah Anda memahami apa yang dipaparkan dalam tulisan ini? Jika ya, apa tanggapan Anda terhadap pemikiran tersebut?
Ayat-ayat Alkitab berikut ini dapat dijadikan dasar merenungkan topik yang berkenaan dengan penatalayanan keuangan dan ketergantungan pada Allah:
Lukas 9:23, 14:27; Kisah Para Rasul 20:35; Galatia 2:20, 5:22-23; Roma 6:11; 1 Petrus 1:13-1 www.sabda.org/alkitab
Salam sejahtera,
saya telah menulis buku mengenai hal ini berjudul “Bisakah Kita Kaya Sekaligus Menyenangkan Tuhan?.” Ibu bisa download di URL kami diatas. file e-book tsb diberi password: wealthforgod.
Mohon juga disampaikan kpd teman-teman lain. Tx dan Tuhan memberkati
S Chriatian Robirosa
URL tersebut adalah:
http://backtobible/infoteknika.info