Monday, March 12, 2007

Mengatasi Kesepian

30 Oktober 2006

MENGATASI  KESEPIAN
Oleh: Ken Korkow

Meski hidup dalam dunia yang luas, dalam kota yang berpenduduk sangat padat dan dalam sebuah kantor yang jumlah pegawainnya sangat banyak, kita dapat tetap merasa sangat kesepian. Bukankah hal tersebut sangat mengejutkan? Dengan segala kemajuan abad ke-21, kita hidup dalam suatu masyarakat yang penuh dengan orang-orang kesepian. Suatu studi melaporkan bahwa 15% dari responden yang diwawancarai merasa kesepian dalam sebagian besar waktu mereka, 78% merasa kesepian dalam sebagian kecil waktu mereka, dan hanya 6% menyatakan tidak pernah merasa kesepian.

Penulis buku dan pembicara terkemuka Charles Swindoll mendeskripsikan kesepian sebagai, “kata dengan makna paling penuh keterpisahan….” Tidak seorangpun kebal terhadap dampak menghancurkan yang kesepian. Banyak di antara kita menyadari kebenaran dan hikmat ungkapan, “Sungguh sepi berada di puncak.” Saya membayangkan para pemimpin pemerintahan, para pemimpin tertinggi di perusahaan-perusahaan besar, bahkan para atlet dan tokoh di dunia hiburan yang terkenal mengalami serangan kesepian – paling tidak dalam sebagian dari waktu mereka.

Dalam Alkitab, Rasul Paulus, salah seorang pemimpin terkemuka di awal sejarah gereja, melukiskan episode kesepian dalam 2 Timotius 4:6-21. jadi bahkan seorang yang menjalani kehidupan sangat rohani dan sangat berbakti pada Tuhan juga bergumul mengatasi cengkraman kesepian. Mari kita pelajari beberapa hal yang lazim menyebabkan kesepian, dan saran-saran mengatasinya.

PENYEBAB KESEPIAN

TRANSISI KEHIDUPAN: Kehidupan terdiri dari rangkaian transisi, dari kelahiran ke masa sekolah ke wisuda ke masa bekerja ke pernikahan ke membesarkan anak-anak ke masa pensiun. Setiap perubahan yang Anda buat dalam kehidupan kemungkinan besar akan menyebabkan Anda mengalami kesepian.

PERPISAHAN: Anda mungkin menjadi pemilik segala harta dan uang yang ada dalam dunia ini dan merasa tinggal sendirian di suatu pulau dan Anda merasa sangat tersiksa.  Kita diciptakan untuk bersama dengan orang lain. Banyak orang pergi jauh dari kampung halamannya. dan tercabut dari akar keluarganya. Perpisahan karena tugas kemiliteran, pekerjaan, penyakit, perceraian, atau kematian

OPOSISI: Ketika Anda diserang, dipermalukan atau dikritik, sangat mungkin Anda akan mengalami kesepian.

PENOLAKAN:  Ketika Anda merasa telah dikhianati, disia-siakan atau diabaikan, Anda mungkin akan merasa kesepian. Salah satu kebutuhan emosional terbesar kita adalah kebutuhan untuk diterima. Saat Anda merasa ditolak, kesepian dapat melingkupi Anda.

Bagaimana Anda mengatasi kesepian? Beberapa orang memilih menggunakan obat-obat terlarang, mabuk-mabukan, mencoba program kencan yang diatur oleh komputer, atau menggunakan hal-hal lain sebagai pelipur kesepian. Bahkan pernah seorang pria menemui psikiater untuk mengusahakan agar ia mempunyai kepribadian ganda hingga pria itu mempunyai orang lain hidup bersamanya!

MENGATASI KESEPIAN

ISI WAKTU ANDA. Tolak godaan untuk tidak melakukan apapun. Gunakan waktu Anda untuk memperhatikan kebutuhan ragawi Anda: makan makanan yang baik, istirahat yang cukup, berolahraga, hindari obat-obatan terlarang dan alkohol, tata rambut Anda dengan rapi dan pilih pakaian Anda dengan cermat. Perhatikan kebutuhan mental Anda: jangan menjadi pencandu TV, bacalah buku dan majalah yang berisi hal-hal yang baik.  Perhatikan kebutuhan rohani Anda: bacalah Alkitab (di dalamnya akan Anda temukan arahan, instruksi, penyegar semangat dan pengharapan), berdoa, dan luangkan waktu dengan teman seiman. Perhatikan kebutuhan sosial Anda: jalin persahabatan (Ambil insiatif, berusahalah untuk tidak egois, dan bersabarlah – persahabatan membutuhkan waktu yang panjang) Temukan orang lain yang bernasib lebih tidak beruntung dibanding Anda dan bantulah dia.

MINIMALKAN RASA PEDIH ITU. Jangan pendam kepedihan terus-menerus dalam hati Anda. Jangan biarkan kepahitan dan amarah menguasai Anda.  Tidak seorangpun suka berada dekat seorang yang sinis, penuh kritik, atau dikuasai kemarahan. Kenali kepahitan itu – atur strategi mengatasinya. Redakan dan doakan kepahitan itu

RASAKAN KEHADIRAN TUHAN.  Di manakah Tuhan ketika Anda kesepian? Tuhan ada di mana-mana. Tidak ada tempat di mana Anda ada dan Tuhan tiada. Tuhan mengikat perjanjian ini: “Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yosua 1:5b).  Bukalah mata Anda dan rasakan kehadiran-Nya.

Ken Korkow tinggal di Omaha, Nebraska, A.S., di mana ia menjadi salah seorang direktur area CBMC. Artikel ini diadaptasi dari kolom “Fax of Life” yang ditulisnya setiap minggu.  Dipublikasikan seizin penulisnya. 

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Berkaitan dengan kesepian,  termasuk dalam kelompok survei manakah Anda: apakah Anda termasuk yang kelompok merasa kesepian dalam sebagian besar waktu mereka atau kelompok yang merasa kesepian dalam sebagian kecil waktu mereka, atau Anda termasuk kelompok kecil yang mengaku tidak pernah merasa kesepian?

2. Mengapa kita bisa merasa kesepian di tengah keramaian – merasa sangat kesepian saat sedang berjalan di tengah kota, menonton pertandingan olahraga atau konser bahkan ketika mengikuti kebaktian di gereja?

3. Deskripsikan suatu momen – baik yang terjadi di masa yang lalu atau saat ini – ketika Anda merasa kesepian.  Di masa lalu atau sekarang ini, bagaimana Anda mengatasi kesepian?

4. Menurut Anda apakah saran-saran mengatasi kesepian dalam artikel ini benar-benar membantu – baik Anda maupun orang lain yang Anda kenal – mengatasi kesepian? Jealskan jawaban Anda.

Ayat-ayat Alkitab berikut ini dapat dijadikan dasar merenungkan bagaimana hubungan dengan Tuhan dapat membantu mengatasi kesepian:

Mazmur 23:1-6, 139:1-10; Yesaya 41:10; Matius 28:20; Yohanes 16:5-15 www.sabda.org/alkitab

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:51:36 | Permalink | No Comments »

Friday, March 9, 2007

Antisipasi Kesukaran

23 Oktober  2006

MASA KELIMPAHAN, MASA KELAPARAN
Oleh: Mark Biller

Yusuf adalah salah satu tokoh pemimpin dalam Alkitab yang saya kagumi.  Jalan hidupnya yang naik-turun dengan sangat dramatis dari posisi putra kesayangan lalu menjadi budak kemudian menjadi pengurus rumah tangga selanjutnya terhempas menjadi pesakitan dalam penjara dan akhirnya berhasil menjadi Mangkubumi Kerajaan Mesir sungguh sangat mengagumkan dan memberi inspirasi.  Titik puncak kisahnya tercatat dalam Kitab Kejadian 50:20 saat Yusuf memberikan pengharapan bagi mereka yang tengah menghadapi masa-masa sulit: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Sungguh suatu contoh bagaimana pekerjaan Allah diwujudkan melalui hidup manusia untuk akhirnya mencapai tujuan utama-Nya!

Baru-baru ini saya merenungkan kisah Yusuf dari sudut pandang yang berbeda - menarik pelajaran keuangan.  Titik balik kehidupan Yusuf di Mesir terjadi saat ia berhasil menafsirkan dua mimpi Firaun.  Ia melihat Mesir akan segera mengalami tujuh tahun kelimpahan, yang diikuti oleh tujuh tahun kelaparan.  Pada masa kelimpahan, Yusuf sudah mulai melakukan persiapan menghadapi tahun-tahun kelaparan, sehingga rakyat Mesir terhindar dari bencana kelaparan.
 
Saya bukan bermaksud merumuskan suatu prediksi, tetapi sekadar bertanya-tanya dalam hati bagaimana bila bangsa-bangsa yang kini sedang berada dalam tingkat kesejahteraan yang sangat tinggi diperhadapkan pada skenario “tahun kelimpahan, tahun kelaparan” – entah dengan alasan apapun.  Bila hal tersebut rasanya tidak mungkin terjadi, barangkali akan sangat bijaksana menerapkan kisah Yusuf ini dalam kehidupan pribadi dan segera melakukan persiapan sekarang juga, menyisihkan apa yang diperoleh dalam tahun-tahun penuh kelimpahan, untuk menghadapi tahun-tahun kesusahan yang mungkin menjelang. 

Lebih dari dua puluh tahun, banyak bangsa – terutama bangsa-bangsa di belahan bumi bagian barat – mengalami kesejahteraan ekonomi yang menakjubkan.  Misalnya, sejak tahun 1982, A.S. hanya mengalami dua masa resesi yang pendek dan tak berarti, setiap masa resesi tersebut masing-masing hanya berlangsung dalam waktu sembilan bulan.  Mengapa disebut tak berarti?  Bandingkanlah dengan apa yang terjadi dari tahun 1900 sampai 1982 di mana terjadi 19 masa resesi, yang datang silih berganti dalam rentang rata-rata 3.5 tahun.  Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat menyebabkan peningkatan drastis dalam pasar modal dan pendapatan rumah-tangga yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan pribadi maupun kesejahteraan nasional.  Jangan sampai melakukan kesalahan: Perekonomian dan tingkat kesejahteraan yang luar biasa ini sangat jarang terjadi. 

Idealnya,  kita – baik secara pribadi maupun secara nasional – harus dapat menyisihkan kelimpahan keuangan ini untuk persiapan menghadapi badai keuangan yang mungkin terjadi pada masa mendatang.  Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya.  Renungkan data berikut:
· Pada tahun 1982, pembayaran hutang rumah-tangga hanya sedikit lebih besar dari $1 untuk setiap $10 pendapatan setelah-dipotong-pajak.  Tahun 2005, perbandingan ini meningkat menjadi hampir $1 untuk setiap $7.
· Kebangkrutan personal meningkat menjadi 31.6%  pada tahun 2005.  Dalam tahun itu saja, 1 dari 53 rumah-tangga A.S. menyatakan dirinya bangkrut.
· Laju tabungan nasional turun menjadi -0.5% tahun lalu, menandai bahwa konsumen membelanjakan uang lebih dari pendapatan setelah-dipotong-pajak, hal ini untuk pertama kalinya terjadi sejak tahun 1932-1933, yaitu saat Masa Resesi Berat (Great Depression) berlangsung.

Di tingkat nasional, hal yang sama juga terjadi, pelbagai kemerosotan di pelbagai pelayanan sosial sudah diantisipasi dan didokumentasikan dengan baik.  Namun dalam tingkat kesejahteraan yang sangat baik seperti sekarang ini, belum ada langkah nyata yang dilakukan.

Alkitab dengan tegas memberikan peringatan mengenai hutang.  Dengan memperhatikan data dan kecenderungan keuangan, sangat mudah menemukan potensi kemerosotan ekonomi yang akan terjadi pada suatu waktu di masa depan.   Syukurlah, Tuhan telah menunjukkan kepada kita prinsip bersiap sepanjang tahun-tahun penuh kelimpahan.  Bekerja dengan tekun agar terbebas dari hutang, menabung untuk dana masa-masa darurat, berinvestasi untuk masa depan, dan melakukan penganeka-ragaman investasi.   

Yusuf dengan bijaksana menyisihkan 20% hasil panen gandum, dan karenanya tidak hanya bangsa Mesir tetapi juga bangsa-bangsa lain di sekitarnya berhasil selamat dari bencana kelaparan. Ini seharusnya menjadi tujuan kita – menjadi penata-layan yang setia pada masa-masa yang baik, mempersiapkan diri menghadapi masa-masa sulit di saat mendatang. Melalui penata-layanan yang bijaksana dan setia seperti ini, kita akan melihat bagaimana kita digunakan, seperti Yusuf, menjadi alat Tuhan untuk menawarkan kelegaan mengatasi  saat-saat penuh kesulitan.  “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen” (Amsal 6:6-8).
 
Mark Biller adalah editor eksekutif pada situs-web dan buletin perencanaan keuangan Sound Mind Investing. Informasi dan dasar investasi Sound Mind Investing dapat dibaca pada alamat berikut ini:  www.soundmindinvesting.com.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Saat membaca peringatan dalam “Monday Manna” kali ini, bagaimana perasaan Anda , apakah Anda merasa  - kuatir, marah, termotivasi untuk melakukan suatu perbuatan nyata, cemas atau ragu-ragu? Jelaskan jawaban Anda.

2. Tidak ada satupun masyarakat yang akan selalu menikmati peningkatan kesejahteraan tanpa akhir.  Sebagaimana pepatah kuno menyimpulkan, “setiap hal yang baik akhirnya selesai juga” – termasuk peningkatan ekonomi yang luar biasa.  Menurut Anda apakah bijaksana mempersiapkan kemunduran yang akan terjadi, atau menurut Anda hal tersebut adalah suatu tindakan pesimistis atau bahkan tidak perlu dilakukan?

3. Mark Biller menyarankan empat langkah yang dapat kita lakukan dalam masa-masa kelimpahan untuk persiapan menghadapi saat-saat ketika kondisi ekonomi menurun, yaitu: bekerja agar terbebas dari lilitan hutang, menabung untuk dana pada keadaan darurat, melakukan investasi untuk masa depan, dan melakukan penganeka-ragaman investasi.  Manakah di antara hal-hal tersebut, jika ada, yang paling mungkin Anda lakukan sekarang?  Mengapa?

4. Kitab Amsal menggunakan, semut, tupai, dan hewan-hewan lainnya yang seringkali hanya bertindak mengikut naluri tetapi menunjukkan hikmat penata-layanan yang dapat kita tiru dalam merencanakan masa depan – dan juga masa kini.  Menurut Anda hal ini perlu dilakukan?  Apakah menurut Anda kita memang dapat menarik pelajaran dari mahluk-mahluk yang sering kita anggap kurang-berakal tersebut?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan sebagai dasar merenungkan topik dalam artikel ini:

Amsal 10:5, 11:4, 15:6, 18:11, 22:7; Matius 24:42-51, 25:14-30; Lukas 16:10-12 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 08:08:01 | Permalink | No Comments »

Hal-Hal Positif

16 Oktober  2006

HAL - HAL POSITIF APA SAJA YANG DAPAT KITA PIKIRKAN?
Oleh: Robert J. Tamasy

Siap atau tidak, hari Senin – awal suatu minggu yang baru sudah datang lagi.  Saat Anda bangun hari ini, seperti apa suasana hati Anda? Apakah semangat Anda berkobar-kobar, siap menghadapi tantangan hari ini, atau Anda mengikuti pola pikir “Hukum Murphy”, yang menyakini bahwa jika sesuatu dapat berjalan tidak lancar, maka seperti itulah yang akan terjadi? Apakah Anda menyambut hari ini dengan kalimat penuh semangat “Selamat pagi, Tuhan!” (“Good morning, Lord!”) atau dengan keluhan “Ya Tuhan, sudah pagi lagi!” (“Good Lord, morning!”)?

Selama Bertahun-tahun saya menjalin persahabatan dengan teman-teman penganut apa yang dikenal sebagai aliran “berpikir positif,” suatu mazhab pemikiran yang intinya terangkum dalam pernyataan: “Segala sesuatu yang dapat diterima dan diyakini oleh pikiran, dapat dicapai.”  Saya sangat mendukung cara hidup optimistik seperti itu, tetapi jujur saja; banyak hal yang bahkan oleh pemikir paling positif sekalipun tidak mungkin diwujudkan. Misalnya, sebaik apapun kemampuannya, didukung dengan postur badan setinggi tujuh kaki, pemain bola basket profesional asal Cina Yao Ming, tidak akan dapat menjadi joki yang baik dalam pacuan kuda.  Pengemudi Volkswagen (VW) “Kodok” tidak akan dapat merebut gelar juara dalam sirkuit Formula Satu. 

Beberapa orang secara alami memiliki lebih banyak kemampuan menjalani peran kepemimpinan formal dibanding yang lain, seperti juga tidak dapat diingkari bahwa beberapa orang memiliki bakat di bidang mekanik dibanding yang lain.  Cara berpikir positif hanya mengantar kita sampai sejauh itu – pemikiran ini memiliki keterbatasan-keterbatasan.

Bukan berarti saya menolak cara berpikir positif.  Malahan, seiring dengan berjalannya waktu saya menyadari bahwa cara berpikir saya semakin positif.  Namun, dasar cara berpikir positif saya, bukanlah kemampuan dan kekuatan saya. Dasar optimisme saya yang berlimpah-limpah itu adalah keyakinan yang mendalam akan jaminan dan kepercayaan pada fakta bahwa Tuhan memimpin kehidupan saya, bahwa Ia mempunyai rencana bagi saya dan Ia pasti akan mewujudkannya, tak peduli bagaimana dan apapun yang terjadi.

Milik siapakah hari ini? Hampir setiap pagi, bahkan ketika menghadapi jadual yang sangat padat dan penuh tekanan, saya dibangunkan oleh suatu alarm bernada gembira dari Kitab Mazmur, “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mazmur 118:24). Jika saya memandang segala langkah dan beban dalam suatu hari seluruhnya adalah tanggung-jawab saya sendiri, saya mungkin tidak akan mau bangun dari tempat tidur. Tetapi percaya pada Tuhan yang baik, pengasih dan pemurah memberikan keyakinan bahwa saya memiliki kemampuan untuk tidak hanya menghadapi suatu hari, tetapi juga untuk menikmati hari tersebut. Menurut saya, inilah yang disebut cara berpikir positif.

Pekerjaan siapakah ini?  Beberapa waktu berselang, saya membaca kisah seorang wanita yang berhasil terus menjaga perspektif luar biasa atas pekerjaannya.  Wanita ini mengerjakan tugas membersihkan suatu kantor yang sama selama  40 tahun.   Ketika seorang wartawan bertanya bagaimana ia mengusir kebosanan mengerjakan tugas yang sama setiap hari dalam waktu yang panjang, ia menjawab, “Saya tidak pernah merasa bosan.  Saya mengunakan bahan pembersih yang dibuat oleh Tuhan. Saya membersihkan barang-barang milik orang ciptaan Tuhan dan membuat hidup mereka lebih nyaman. Tangkai sapu saya ibarat tangan Tuhan!”  Seperti itulah, menurut saya, sejatinya cara berpikir positif. “Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah” (Pengkhotbah 3:13). 

Kebenaran siapakah ini? Kita hidup dalam dunia yang membombardir kita dengan pikiran-pikiran negatif.  Acara “bincang-bincang” di radio mengingatkan kita pada segala hal yang salah mulai dari politik luar negeri sampai tim olahraga favorit kita.  Surat kabar dan siaran berita umumnya berfokus pada sisi negatif suatu peristiwa karena mereka menyadari, sayangnya, “kabar baik” tidak mempunyai nilai jual. Tetapi kita memiliki pilihan untuk tidak berkubang dalam kolam limbah penuh hal-hal negatif. Terdapat begitu banyak keindahan dan kebaikan di sekitar kita, kita hanya perlu lebih memperhatikannya. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8). Dan, ya, inilah cara berpikir positif. 

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Secara umum, apakah Anda tergolong seorang yang optimis atau seorang yang pesimis?  Jelaskan jawaban Anda – dan berikan contoh yang dapat membuktikan bahwa Anda adalah seorang yang pesimis atau seorang optimis?

2. Apa pendapat Anda mengenai cara berpikir positif? Pernahkan Anda meluangkan waktu mempelajari cara berpikir positif menghadapi kehidupan –  atau bahkan Anda sudah menerapkannya?

3. Apakah Anda menganggap setiap Senin pagi – awal suatu minggu kerja yang baru – sebagai suatu tantangan yang menyegarkan dan menyenangkan, atau sebaliknya sebagai pemicu luruhnya semangat dan penyebab frustasi? Mengapa?

4. Apa tanggapan Anda mengenai sudut-pandang wanita yang dengan sukacita menjalani pekerjaan yang sama selama 40 tahun, dan menyimpulkan bahwa, “Tangkai sapu saya ibarat tangan Tuhan”? Apakah – atau dapatkah – Anda menerapkan filosofi yang sama dalam pekerjaan Anda?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini digunakan sebagai dasar merenungkan topik artikel ini:

Kejadian 1:27-30; Pengkhotbah 2:17-25; Markus 12:28-31; Lukas 16:1-13; Roma 12:2 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:55:25 | Permalink | No Comments »

Pelayanan pada Konsumen

9 Oktober 2006

SENI MENGANTISIPASI KEINGINAN KONSUMEN
Oleh: Rick Boxx

Begitu sampai di Hotel RIU Palace Mexico tempat kami menginap, saya dan Kathy, istri saya menerima selembar pamflet.  Pamflet itu berbunyi, “Apapun yang Anda butuhkan, kapanpun, kami akan segera menyediakannya dalam keramahan paling hangat.  Jaringan hotel kami telah bertekad mengantisipasi keinginan Anda dan memastikan menjadikan tinggal di hotel kami sebagai kenangan tak terlupakan.”

Banyak bisnis bicara perihal memberikan pelayanan bermutu, tetapi seringkali akhirnya apa yang mereka lakukan justru hal-hal yang sangat mengecewakan. Di Hotel RIU Palace, kami tidak mengalami hal seperti itu.  Saya dan istri saya terkagum-kagum melihat banyaknya pelayan yang tersedia demi memenuhi keperluan kami, juga karena tingginya antusiasme dan perhatian mereka pada hal-hal kecil dan sederhana.

Misalnya, petugas penyambut tamu tidak hanya bersikap profesional,  tetapi juga sangat ramah dan hangat, membuat kami merasa sangat betah.  Resepsionis juga memberikan kesan yang sangat mendalam kepada kami saat ia mengetahui saya tidak membawa sepasang pun celana panjang yang layak untuk dikenakan menghadiri jamuan makan malam; dan entah bagaimana ia berhasil menemukan sepasang celana panjang yang kemudian dipinjamkannya pada saya. Para pelayan, pembantu dan tukang kebun semua sangat bersahabat dan ramah, dan pengalaman kami menikmati pantai yang menyatu dengan hotel tambah mengasyikkan karena secara berkala petugas hotel menawarkan minuman dingin yang menyegarkan kepada kami.

Banyak bisnis berusaha memenuhi kebutuhan Anda.  Beberapa di antaranya, bahkan, mencoba tidak hanya mengantisipasi kebutuhan Anda, tetapi juga keinginan Anda.  Untuk suatu usaha berskala kecil, menciptakan budaya seperti itu sangat sulit dilakukan; sebaliknya, untuk sebuah hotel besar, hal tersebut bahkan dapat diwujudkan dalam hal-hal luar biasa yang melebihi ekspektasi konsumen. Usaha perhotelan dikategorikan sebagai “bisnis keramah-tamahan,” dan pengalaman kami di Hotel RIU Palace membuktikan adanya keramahan-tamahan terbaik yang pernah ada – baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan.

Kolom ini sama sekali bukan pariwara gratis untuk sebuah hotel berbintang lima, tetapi ditulis untuk menyajikan contoh tentang apa yang seharusnya diupayakan oleh setiap bisnis, disesuaikan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya.

Jika Anda bergerak dalam bisnis retail, apakah Anda mempekerjakan para karyawan yang tidak banyak bicara, namun penuh perhatian, siap membantu konsumen jika diperlukan? Apakah para karyawan sudah dilatih dengan baik agar dapat menjawab semua pertanyaan yang akan dan mungkin diajukan konsumen kepada mereka? Jika Anda bergerak dalam bisnis teknologi, apakah Anda mengusahakan agar konsumen Anda tetap menerima informasi mengenai perkembangan-perkembangan baru yang mempermudah atau meningkatkan efisiensi pekerjaan mereka? Jika Anda adalah seorang profesional, seorang pengacara, seorang insinyur atau seorang arsitek, apakah Anda meletakkan kebutuhan dan kepentingan klien sebagai hal yang terutama – atau apakah Anda hanya mementingkan besarnya bayaran yang akan Anda terima?

Raja Salomo dari Kerajaan Israel memahami betapa pentingnya dan perlunya pencapaian keunggulan. Dalam Pengkhotbah 9:10 ia menuliskan pengajaran berikut, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”

Baik ketika melayani konsumen eksternal, maupun konsumen internal, seharusnya setiap tugas dilaksanakan dengan segenap kemampuan, tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan orang lain, tetapi lebih dari itu menuju suatu tingkat yang benar-benar baru yaitu pencarian cara mengantisipasi keinginan para konsumen. Hasil usaha ini pasti akan memuaskan hati konsumen Anda, tetapi lebih penting lagi akan menyenangkan hati Tuhan. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, Rasul Paulus mengajarkan bahwa para pekerja seharusnya bekerja sesuai standar-standar tertinggi: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya” (Kolose 3:23-24).

(Copyright 2006, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani.  Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan  “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 ▪ Omaha, Nebraska 68154 ▪ U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002 ▪ FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Sebutkan saat ketika Anda sangat terkesan oleh pelayanan yang Anda terima dari suatu bisnis penting berskala besar.  Apa yang mereka lakukan hingga membentuk kesan begitu mendalam?

2. Apa pendapat Anda tentang konsep untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumen, tetapi juga mengantisipasi keinginan mereka? Menurut Anda apakah hal tersebut realistis?  Mengapa atau mengapa tidak?

3. Bagaimana caranya agar suatu bisnis – atau seorang pekerja  – dapat lebih mengutamakan kepentingan konsumennya dibanding tujuan dan harapannya sendiri?

4. Menurut Anda, dalam skala 1 sampai 10 berapakah nilai Anda, jika Anda dinilai berdasarkan standar bekerja “dengan segenap kekuatan,” atau “dengan segenap hati”? Jelaskan jawaban Anda. 

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat dijadikan dasar merenungkan topik dalam tulisan ini:

Amsal 13:4, 14:23, 18:9, 21:5; Pengkhotbah 5:18-19; Kolose 3:17 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:49:12 | Permalink | No Comments »

Penyalahgunaan Wewenang

2 Oktober  2006

KEBAJIKAN TIDAK DAPAT MENUTUPI PENYALAHGUNAAN WEWENANG
Oleh: Robert J. Tamasy

Saat salah seorang pimpinan teratas sebuah perusahaan internasional meninggal dunia, pujian atas kebaikannya yang luar biasa karena telah mendermakan dana untuk pelbagai kegiatan kemanusiaan banyak dilontarkan.  Sayangnya, “ketenaran” pemimpin ini bukan karena kebajikannya.  Ia menjadi sorotan publik justru karena pernah merugikan perusahaan dan kehidupan ribuan karyawannya, termasuk mengorbankan uang pensiun mereka. 

Ironis memang, karena meski rajin melakukan kebaikan, tokoh ini gagal memenuhi tuntutan utama mereka yang mempercayainya, mereka yang menyumbangkan kemampuan dan talentanya membantu sang pemimpin memperoleh kekayaan, sehingga ia dapat bebas menderma. Tampaknya tidak tepat bila gelar “filantropik” (atau pengasih sesama manusia) dianugerahkan kepadanya. 

Hal yang sama, sayangnya, terjadi juga pada banyak “pimpinan industri,” baik pemimpin masa lalu maupun pemimpin masa kini, mereka menempatkan ambisi dan kepentingan sendiri di depan kepentingan para pegawai yang telah bekerja dengan tekun dan penuh kepercayaan di bawah arahan para pemimpin tersebut.  Masalah serupa berkali-kali disinggung dalam bab ke-10 buku kuno Amsal, buku yang penulis utamanya adalah Raja Salomo dari Israel.  Penyalahgunaan wewenang demi pencapaian pribadi yang hingga kini masih terus terjadi juga merupakan argumen Salomo dalam bukunya yang lain, ia menuliskan “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pengkhotbah 1:9).  Renungkanlah beberapa pengajaran yang terdapat dalam kitab Amsal:

Hidup benar lebih baik daripada hidup dalam kekayaan. Kekayaan yang diperoleh melalui kompromi etis berumur pendek.  Dan kekayaan sebanyak apapun tidak berguna dalam kubur.  “Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut” (Amsal 10:2).

Berusahalah untuk dikenang karena perbuatan-perbuatan benar.  Kepemimpinan Anda - baik positif maupun negatif - adalah sesuatu yang akan tetap dikenang bahkan setelah peran Anda di dunia ini berakhir.  Kenangan apa yang ingin Anda tinggalkan? “Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk”(Amsal 10:7).

Hidup dengan integritas membawa kedamaian batin.  Orang yang mempraktekkan perilaku tidak etis atau penuh tipu daya pasti akan selalu hidup dalam ketakutan terungkapnya kebohongan-kebohongan mereka.  Sebaliknya, hati nurani yang bersih adalah harta berharga.  “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui” (Amsal 10:9).

Anda akan memetik apa yang Anda tabur.   Bila Anda hidup dan berperilaku mengikuti standar etis yang tinggi, Anda akan memetik imbalan jangka panjang.  Mereka yang mempraktekkan ketidakjujuran akan menerima konsekuensinya.  “Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa” (Amsal 10:16).   
    
Kepemimpinan yang etis dapat tetap bertahan menghadapi permusuhan.  Integritas tidak menyebabkan para pemimpin kebal terhadap kesukaran dan masalah, tetapi dengan menerapkan integritas, mereka tidak perlu khawatir harus bertindak berlebihan mempertahankan diri terhadap serangan kecaman mementingkan diri sendiri.  “Bila taufan melanda, lenyaplah orang fasik, tetapi orang benar adalah alas yang abad” (Amsal 10:25).

Menjalani segala hal dengan cara Tuhan membawa rasa aman.  Dalam Alkitab, Tuhan telah menyediakan “petunjuk pemakaian” menghadapi kehidupan dan pekerjaan setiap hari. Mempelajari dan menerapkannya memberikan kedamaian hati dan perlindungan. Bila Anda mengabaikannya, Anda akan menanggung akibatnya.  “Jalan TUHAN adalah perlindungan bagi orang yang tulus, tetapi kebinasaan bagi orang yang berbuat jahat“ Amsal 10:29).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Menurut Anda apakah perbuatan baik - misalnya menyumbang dengan murah hati untuk suatu kebaikan, atau terlibat dalam kerja sukarela - dapat menutupi etos kerja pribadi yang dipenuhi oleh kompromi etis, tipu daya, dan penyalahgunaan wewenang dan posisi?  Jelaskan jawaban Anda.

2. Hampir setiap minggu, kita membaca dan mendengar berita mengenai pemimpin-pemimpin bisnis yang melakukan hal-hal yang mempermalukan dirinya sendiri dan membawa kehancuran perusahaan yang mereka pimpin.  Dan menurut Amsal, hal ini telah menjadi masalah dari ribuan tahun yang lalu sampai sekarang.  Menurut Anda mengapa hal ini terjadi?

3. Menurut pendapat Anda mengapa banyak sekali pemimpin yang takluk pada godaan memperoleh sesuatu dengan cepat dengan menerapkan keputusan dan tindakan yang tidak etis dan tidak bermoral, meskipun mereka mungkin menyadari bahwa suatu saat pelanggaran yang mereka lakukan akan terungkap?  Atau menurut Anda para pemimpin itu memang mempunyai cara menghindari pengungkapan kesalahan mereka tersebut?

4. Manakah di antara prinsip-prinsip yang dicantumkan dalam Amsal pada artikel ini - jika ada – yang paling berarti bagi Anda?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat dijadikan dasar merenungkan topik artikel ini:

Amsal 10:22, 27, 30; Amsal 11:3, 13:6, 21:28, 28:16; Lukas 12:41-48 www.sabda.org/alkitab

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:31:16 | Permalink | No Comments »

Keinginan Menjadi Kaya

25 September  2006

SEBERAPA KUAT KEINGINAN ANDA MENJADI SEORANG JUTAWAN?
Oleh: Ken Korkow

Menurut Anda apakah Anda akan gembira menerima satu juta dolar?  Andaikan saya memberikan satu juta dolar kepada Anda, dengan satu syarat.  Apa yang akan Anda beli? Sebuah rumah baru? Kapal pesiar? Menjalani operasi plastik? Membeli mobil mewah yang selama hanya menjadi impian Anda?  Ya, pasti, menjadi seorang jutawan memang sangat menyenangkan, membuka banyak kesempatan baru bagi Anda. 

Tetapi jangan lupa, saya telah katakan “dengan satu syarat.”  Syarat apa? Sederhana saja: Anda akan menjadi seorang jutawan sejati yang benar-benar mempunyai uang sebesar satu juta dolar – tapi hanya untuk satu hari. Begitu hari itu berakhir, Anda harus mengembalikan semuanya.  Mengembalikan rumah, kapal pesiar, mobil, dan segala sesuatu yang telah Anda beli.  Anda bahkan harus mengembalikan bedah plastik yang  telah Anda jalani. 

Jika kondisinya seperti itu, tampaknya, menjadi seorang jutawan tidak lagi menarik, bukan?  Mungkin karena kenikmatan sesaat dari kekayaan tidak lagi berarti jika kemudian hilang dalam sekejab.  Sesungguhnya kita hidup dalam dunia yang seperti itu.  Kita ingin semua yang kita ingini terpenuhi sekarang juga.  Menariknya, ternyata telah diteliti bahwa kedewasaan seseorang salah satunya ditandai oleh  kesediaannya mengorbankan kesenangan sementara untuk memperoleh sesuatu yang membawa manfaat  jangka panjang. 

Terdapat dua papan pencatat nilai yang berbeda dalam kehidupan, tak peduli apapun posisi Anda dalam dunia bisnis dan dunia kerja atau dalam bidang olahraga.  Papan pencatat skor yang pertama terdapat di “Planet Bumi”.  Papan ini mencantumkan paling tidak empat kategori umum: Kecantikan, Kecerdasan, Kekuatan, dan Uang. 

Papan ini mencantumkan paling tidak empat kategori umum: Kecantikan, Kecerdasan, Kekuatan, dan Uang. 

Kecantikan berarti penampilan dari luar:  Hal ini berkaitan dengan kemolekan ragawi, keselarasan dan keindahan pakaian yang Anda kenakan, atau apakah pasangan hidup Anda atau “orang di dekat Anda” tampil menawan.  “Kecantikan” juga menyangkut apakah rumah, mobil, perhiasan dan perangkat pribadi, anak-anak, pekerjaan atau hobi Anda membuat orang lain kagum atau iri? 

Kecerdasan berhubungan dengan kapasitas dan kemampuan mental, baik berkait dengan penalaran hal-hal nyata maupun dengan daya imajinasi.   Selama 200 tahun terakhir, pintu kesempatan seringkali hanya terbuka bagi mereka yang mengecap pendidikan tinggi dan berhasil memperoleh gelar sarjana.  Tapi kini pembunuh-konsep atau “killer-concept”: yaitu mereka yang berhasil mengubah konsep yang selama ini dianut para konsumen (misalnya melalui inovasi-inovasi yang kemudian menjadi cikal-bakal perusahaan seperti Federal Express, Apple Computer, Microsoft dan Google) berhasil membuka pintu kesempatan yang sama.  Kini, tidak seperti masa sebelumnya, ide seseorang yang kreatif dan inovatif  dapat mengubah hidup Anda. 

Kekuatan mengacu pada kekuatan raga, penampilan lahiriah dan kebugaran tubuh.  Anda tidak mungkin dapat sepenuhnya menikmati sisi-sisi lain dalam kehidupan ini jika Anda tidak memiliki kesehatan raga yang prima. 
 
Uang sering kali diartikan sebagai kekuasaan:  Sungguh mengagumkan bagaimana kita menghormati sekaligus iri pada orang kaya.  Uang membuka banyak pintu kesempatan – mendapatkan tempat duduk terbaik di restauran, perhatian khusus dalam peristiwa sosial, ditempatkan di posisi terhormat dalam pertemuan-pertemuan penting. 

Namun fakta pahit adalah bahwa kehidupan di atas bumi ini, betapapun indahnya, hanyalah ibarat uap.   Masa hidup kita, dibandingkan keabadian, sama cepatnya dengan hilangnya uap dari teko berisi teh panas.  Kita menjalani kehidupan menurut aturan main Planet Bumi, tetapi suatu hari, lebih cepat dari yang kita kira, segala sesuatu akan lenyap.  Semua akan digantikan oleh apa yang kita kenal sebagai papan pencatat nilai “Surga atau Neraka”: Di manakah Anda akan menjalani keabadian?

Dan inilah penjelasan Alkitab mengenai hal tersebut: “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibrani 9:27).  “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10).
 
Kini rasanya, kecantikan, kecerdasan, kekuatan dan uang menjadi tak bernilai.  Cepat atau lambat kita akan mendapatkan bahwa papan pencatat nilai versi Planet Bumi tidak layak dipertahankan. 

Ken Korkow berdomisili di Omaha, Nebraska, A.S., tempat ia bekerja sebagai direktur wilayah CBMC. Artikel ini diadaptasi dari kolom mingguannya “Fax of Life” dan  dipublikasikan seijin penulisnya.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Jika seseorang memberikan satu juta dolar kepada Anda, apa yang akan Anda lakukan dengan uang tersebut?

2. Apakah Anda sependapat dengan deskripsi Ken Korkow mengenai “papan pencatat nilai Planet Bumi”?  Hal apa lagi, jika ada, yang dapat Anda tambahkan ke dalam daftarnya selain kecantikan, kecerdasan, kekuatan, dan uang? Di antara hal-hal tersebut manakah yang menurut Anda paling penting – dan mengapa?

3. Ketika seorang masih muda, keindahan fisik, kecerdasan dan kekuatan tampaknya merupakan hal-hal yang sangat penting, menurut Anda apakah nilai hal-hal tersebut akan berkurang seiring bertambahnya usia seseorang? Jika ya, apa yang menggantikan hal-hal tersebut?

4. Apakah kita seharusnya menjalani hidup – sebagaimana disarankan oleh penulis artikel Monday Manna kali ini – dalam perspektif yang menyatakan bahwa kita memang insan abadi, bukan hanya mahluk yang hidup selama 50, 60, 70 tahun atau lebih?   Atau haruskah kita hidup semata menikmati apa yang dapat kita usahakan dalam kehidupan ini dan tidak mempedulikan apa yang akan datang setelah itu – itupun jika memang ada sesuatu setelah kehidupan berakhir?  Jelaskan jawaban Anda.

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan sebagai dasar merenungkan topik dalam artikel ini:

Pengkhotbah 2:1-11, 5:10-17; Matius 6:28-34; Markus 8:36; Lukas 9:25 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:19:39 | Permalink | No Comments »

Penanganan Stres

18  September  2006

TUJUH RAHASIA PENANGANAN STRES
Oleh: Rick Warren

Dalam dunia kerja masa kini, stres tidak lagi dapat dihindari.  Stres bahkan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari deskripsi pekerjaan.  Beragam hal dapat menyebabkan kita mengalami stres di tempat kerja, di rumah, bahkan ketika melakukan hal-hal yang kita sukai.  Tetapi stres seharusnya tidak boleh mengalahkan kita – stres dapat dikendalikan.  Renungkanlah apa yang disampaikan oleh Rick Warren dalam tulisannya yang berjudul ‘Seven Secrets Of Stress Management’ (Tujuh Rahasia Penanganan Stres) berikut ini: 

Apakah Anda pernah merasa hidup dan jadual Anda seakan lepas kendali?  Anda memang tidak dapat menghapus stres, tetapi Anda dapat mengendalikannya.  Yang penting bukanlah seberapa banyak stres yang Anda dapat tanggung, tetapi bagaimana Anda menghadapinya.  Yesus Kristus mengalami stres dan tekanan yang luar biasa dahsyatnya, tetapi semua itu tampaknya tidak mempengaruhi ketenangan jiwa-Nya.  Sebaliknya, bahkan dalam penolakan keras akan kehadiran-Nya, permohonan yang terus-menerus harus didengarkan-Nya dan sempitnya ruang gerak privasi-Nya, kehidupan Yesus Kristus justru mencerminkan kedamaian penuh keseimbangan.  Apakah rahasia-Nya?  Penelusuran seksama atas gaya hidup-Nya mengungkapkan tujuh rahasia “peredam stres”:

1. IDENTIFIKASI DIRI: Kenali siapa Anda sebenarnya!  Delapan belas kali secara terbuka Yesus menyatakan identitas-Nya.  Ia sangat mengenal siapa diri-Nya. Jika Anda tidak yakin mengenai identitas Anda, maka sama saja artinya dengan memperkenankan orang lain memaksa Anda mengenakan identitasnya.  Berusaha menjadi orang lain menyebabkan stres!  “Akulah terang dunia…” (Yohanes 8:12).

2. DEDIKASI:  Tentukan siapa yang ingin Anda senangkan.  Anda tidak mungkin menyenangkan hati  semua orang.  Bahkan Allah tidak melakukan hal tersebut.  Karena ketika Anda menyenangkan hati sekelompok orang, kelompok yang lain mungkin merasa kecewa terhadap Anda. Yesus tidak pernah membiarkan ketakutan akan penolakan keberadaan-Nya memanipulasi diri-Nya.  Tidak seorangpun dapat menekan Anda tanpa izin Anda.  “…sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku “ (Yohanes 5:30). 

3. ORGANISASI: Tetapkan target dengan jelas.  Persiapan mencegah tekanan dan penundaan merupakan cikal-bakal tekanan.  Anda dapat memilih bekerja berdasarkan prioritas atau berdasarkan tekanan.  Yesus bersabda, “Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi” (Yohanes 8:14).

4. KONSENTRASI: Pada suatu saat berfokuslah hanya pada satu hal.  Anda tidak mungkin mengejar dua ekor kelinci pada saat yang bersamaan!  Yesus tahu bagaimana menangani interupsi tanpa mengabaikan apa yang menjadi tujuan utama-Nya. “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus” (Lukas 4:42-44).

5. DELEGASI: Jangan mencoba melakukan segala sesuatu sendiri.  Kita dapat menjadi tertekan saat merasa segala hal bergantung pada diri kita.  Yesus merekrut 12 murid.  Jangan biarkan perfeksionisme, atau kekuatiran bahwa orang lain mampu melakukan pekerjaan lebih baik dari Anda, menyebabkan Anda tidak mengikutsertakan orang lain dalam suatu tugas. “Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Markus 3:14).

6. MEDITASI: Biasakan berdoa.  Sesibuk apapun, Yesus selalu meluangkan waktu setiap hari untuk menyendiri dan berdoa.   “Saat Teduh” adalah suatu peredam stres yang ampuh. Gunakan saat teduh tersebut untuk bersama-sama dengan Tuhan membicarakan semua masalah dan tekanan yang Anda hadapi, melakukan evaluasi prioritas yang sudah Anda tetapkan, dan menemukan cara mencapai kesuksesan dalam hidup dengan membaca Alkitab.  “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Markus 1:35).

7. RELAKSASI: Luangkan waktu untuk menikmati kehidupan!  Keseimbangan adalah kunci penanganan stres.  Kerja harus diimbangi dengan kegiatan yang menyenangkan dan ibadah “ …Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’” (Markus 6:30-31).

Rick Warren adalah penulis buku laris berjudul, The Purpose-Drive Life, yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan dijual di seluruh penjuru dunia.  Buku ini memaparkan pentingnya memiliki tujuan hidup yang dengan seksama dan jelas dirumuskan sebagai panduan menjalani kehidupan setiap hari.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 ▪ Omaha, Nebraska 68154 ▪ U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002 ▪ FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell:
nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi
http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Apa penyebab utama stres yang Anda hadapi setiap hari, baik di tempat kerja maupun di rumah?

2. Bagaimana Anda menghadapi stres tersebut – apakah Anda mampu mengendalikan stres, atau justru sebaliknya stres justru yang mengendalikan Anda?  Jelaskan jawaban Anda.

3. Adakah seseorang di tempat kerja Anda – seorang atasan, atau rekan sekerja – yang tampaknya menghadapi stres lebih baik dibanding orang lain?  Menurut Anda apakah rahasianya?

4. Manakah dari “Tujuh Rahasia Penanganan Stres” yang disimpulkan oleh Rick Warren yang bagi Anda sangat berarti dan sangat membantu?  Atau sebaliknya, menurut Anda prinsip-prinsip tersebut tidak praktis dan tidak berguna. Cobalah untuk memberikan jawaban secara rinci.

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan untuk merenungkan topik cara menangani stres dengan efektif:

Yesaya 26:3, 41:10; Filipi 3:12-14, 4:4-9; 1 Tesalonika 5:16-18; Yakobus 1:2-4 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:14:11 | Permalink | No Comments »

Reputasi Perusahaan

11  September  2006

APAKAH REPUTASI PERUSAHAAN ANDA TERANCAM?
Oleh: Rick Boxx

Bagi suatu bisnis, reputasi baik adalah faktor penting dalam mempertahankan keberhasilan jangka panjang.  Dan suka atau tidak suka, meski diperlukan kerja keras untuk mencapai dan menjaga nama baik dan posisi terhormat dalam dunia bisnis dan dunia kerja, tetapi reputasi yang baik dapat hancur dalam waktu yang teramat singkat, dan seringkali bahkan tidak pernah kembali pulih. 

Dalam sebuah artikel berjudul “On Business Strom Proofing” (Menjalankan Bisnis Anti Badai) yang dimuat dalam Wall Street Journal, Leslie Gaines-Ross, kepala peneliti di divisi pengetahuan dan penelitian Burson-Marsteller, sebuah perusahaan konsultan kehumasan bertaraf internasional, menyatakan bahwa perusahaannya telah berhasil menemukan tanda-tanda peringatan perusahaan yang reputasinya terancam.  Penelitiannya menunjukkan tujuh kondisi umum yang biasanya terjadi pada perusahaan-perusahaan bermasalah:

1. Moral karyawan berada di tingkat yang rendah.
2. Perumusan kebijakan internal tampaknya lebih penting ketimbang pelaksanaan pekerjaan dengan baik. 
3. Para pemimpin di strata tertinggi meninggalkan perusahaan.
4. Ketenaran pimpinan utama menjadi lebih penting dibanding kredibilitasnya.
5. Karyawan menganggap pelanggan sebagai gangguan.
6. Karyawan tidak lagi menceritakan hal-hal positif mengenai perusahaan.
7. Manajemen menghabiskan lebih banyak waktu di dalam kantor pusat dibanding di luar kantor pusat.

Dalam banyak kasus seringkali kekayaan perusahaan meningkat cepat pada suatu selang waktu, membuat segala sesuatu terlihat baik-baik saja, sebelum kemudian “peringatan badai” mulai memberikan dampak pada pendapatan keuangan perusahaan.  Saat sebagian gejala probematik terlihat, sudah dapat terdeteksi adanya masalah serius, meski tidak selalu mempengaruhi kondisi finansial.  Dan inilah saat yang tepat untuk mengkaji, secara sangat seksama apa yang terjadi pada para pemimpin. 

Ciri umum yang terdapat dalam ketujuh hal dalam daftar yang dibuat oleh Ms. Gaines-Ross di atas adalah “attitude” atau “sikap.”  Dalam sebuah film bertema olahraga berjudul “Remember the Titans,” terdapat sebuah adegan di mana dua pemimpin tim berperang kata-kata.  Ketika salah seorang kapten tim menyerang kapten tim yang lain, lawan bicaranya menjawab dengan keras: “Sikap seseorang memang mencerminkan kemampuan kepemimpinannya.”

Saat kepemimpinan mulai lebih berfokus pada dasar kekuasaan dan status ketenaran pemimpinnya dan bukan pada kebutuhan fundamental pelanggan dan karyawan, maka sikap “dahulukan-saya” dengan cepat akan menyebarkan sikap buruk di seluruh organisasi.

Amsal 16:18-19 mengingatkan kita, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan. Lebih baik merendahkan diri dengan orang yang rendah hati dari pada membagi rampasan dengan orang congkak.“ Jika organisasi Anda sudah mulai memperlihatkan beberapa – atau bahkan banyak – gejala dari tujuh gejala mematikan dalam daftar di atas, pertama-tama lakukan introspeksi pada diri Anda sendiri. Selanjutnya evaluasi para pemimpin Anda dan coba temukan apakah penyebab masalah tersebut adalah persoalan kecongkakan hati.  Jika ternyata memang akar permasalahan adalah ketinggian hati, akui kesalahan tersebut dengan rendah hati, lalu segera bersiap untuk bekerja dengan lebih baik, dan mulai merumuskan strategi untuk mewujudnyatakan langkah-langkah perbaikan tersebut – baik bagi diri Anda sendiri maupun bagi keseluruhan perusahaan Anda.

(Copyright 2006, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani.  Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan  “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 ▪ Omaha, Nebraska 68154 ▪ U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002 ▪ FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Apakah para pemimpin pada strata tertinggi di perusahaan Anda menganggap penting menjaga reputasi perusahaan?  Jika ya, bagaimana hal tersebut dilakukan?  Jika tidak, apakah alasannya? Apakah karena faktor kesombongan atau karena kepentingan diri sendiri?

2. Saat mempelajari kembali tujuh tanda yang mencirikan kondisi terancamnya reputasi suatu perusahaan, menurut Anda berapa banyak – jika ada – gejala yang kini terjadi di tempat kerja Anda?  Jelaskan jawaban Anda. 

3. Menurut Anda, pengaruh apakah yang dapat – atau yang seharusnya – Anda terapkan baik untuk menghindari “masalah sikap” yang mungkin menghancurkan reputasi dan kelangsungan hidup perusahaan Anda, maupun dalam membantu memperbaiki situasi penuh masalah?

4. Dapatkah Anda sebutkan suatu keadaan di mana Anda melihat para pemimpin – baik di perusahaan Anda maupun pemimpin di tempat lain – yang memiliki pengaruh kuat terhadap sikap mereka yang berada dibawah pimpinan mereka, baik dalam arti yang positif maupun negatif?  Apa yang dilakukan para pemimpin tersebut – dan pelajaran apa yang dapat Anda petik dari perilaku tersebut?

Ayat-ayat Alkitab berikut dapat dijadikan dasar merenungkan topik dalam artikel ini:

Amsal  11:2, 21:24, 27:23-27, 28:2; Kisah Para Rasul 20:28; Filipi 2:3-4 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:06:07 | Permalink | No Comments »

Benar Tapi Salah?

4 September  2006

JIKA RASANYA BENAR, MENGAPA BISA SALAH?
Oleh: Robert J. Tamasy

Bila Anda pernah membaca meski hanya sebagian kolom “Monday Manna” yang saya tulis selama beberapa tahun ini, Anda pasti mengetahui betapa saya sangat mengagumi hikmat dalam kitab Amsal.  Salah satu keistimewaan kitab tersebut adalah bahwa ajaran-ajarannya berlaku tanpa memandang apapun iman-kepercayaan rohani Anda - bahkan sekalipun Anda tidak mempunyai iman-percaya!  Prinsip-prinsip yang tak lekang oleh masa dan padat terangkum dalam ke-31 bab dalam kitab itu sesuai dengan segala sistem budaya, etnik atau kepercayaan - dan hal ini sudah berlangsung selama ribuan tahun.  Penjelasan fakta ini, sebagaimana yang saya tulis dalam buku saya, Business At Its Best, adalah karena kebenaran abadi tidak memiliki tanggal kadaluarsa.

Entah itu masalah etos kerja yang benar, integritas, pengelolaan uang, kemarahan, keputusasaan,  panduan, hubungan, pengambilan keputusan, komunikasi, perencanaan, atau motivasi, Amsal menjadi inspirasi berbagai hikmat yang bernilai untuk direnungkan.  Baru-baru ini, misalnya, saya membaca sebuah ayat dalam buku kuno itu mengenai hal yang sangat menarik: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12).

Bayangkan pada suatu malam Anda mengemudikan mobil di suatu kota yang sama sekali belum Anda kenal. Hari sudah sangat gelap, dan karena rambu-rambu jalan ditulis dalam bahasa yang tidak Anda mengerti, Anda tidak memperoleh banyak informasi jalan. Karena lelah dan putus-asa, Anda mencoba mengatasi masalah Anda.  Akhirnya, Anda memutuskan, “Kelihatannya jalan yang ini menuju arah yang benar,” dan Anda berbelok ke kiri, berharap jalan yang Anda pilih itu benar menuju hotel Anda.  Tiba-tiba, dari arah berlawanan Anda melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mendekati mobil Anda.  Terlambat sudah, Anda ternyata salah arah.

Inilah inti ajaran ayat Amsal tersebut di atas.  Hanya karena kita sangka apa yang kita lakukan benar, bukan berarti hal tersebut memang tepat untuk dilakukan. Menyepelekan kesalahan, atau memilih yang salah dan mengabaikan yang benar mungkin saja tidak menyebabkan kematian raga. Namun, dapat saja berakibat buruk pada pekerjaan, hubungan bahkan kegiatan-kegiatan yang kita sukai.  “Jika rasanya benar, lakukan”  biasanya bukanlah solusi terbaik saat membuat keputusan penting.  Karenanya, peringatan dalam Amsal 14:12 perlu benar-benar diperhatikan.
 
Dari pengalaman melakukan pembimbingan lebih dari 20 tahun, saya menarik kesimpulan bahwa spiritualitas adalah salah satu aspek kehidupan di mana seringkali terjadi apa yang kelihatannya benar ternyata rancu dengan apa yang sejatinya benar.  Kesalahan pertama terjadi ketika kita mengabaikan atau tidak memperhatikan sisi rohani kehidupan.  Tak dapat disangkal, kita adalah mahluk ragawi, berdaya-nalar dan memiliki perasaan.  Tetapi mengabaikan pentingnya dimensi rohani berdampak buruk bagi diri kita.  Karena spiritualitas menjadi dasar cara pandang, sistem nilai, prioritas, bahkan perilaku kita sehari-hari. 

Kesalahan kedua adalah menerima spritualitas secara pasif.  Ini sama saja dengan seorang yang ingin memiliki kesehatan jasmani, tetapi enggan berolahraga.  Rohani yang sehat –  seperti juga jasmani yang bugar – tidak berlangsung otomatis.  Diperlukan perhatian dan pemikiran yang serius.  Berikut adalah sebagian prinsip-prinsip spiritualitas dalam kitab Amsal. 

Untuk memahami suatu karya, kenali terlebih dahulu Sang Penciptanya.  Bila kita ingin mengetahui  bagaimana suatu benda bekerja – misalnya sebuah mobil, jam digital, komputer atau perangkat-perangkat lain – kita harus membaca petunjuk cara kerjanya.  Hal yang sama berlaku juga bagi keberadaan manusia setiap hari.  Bagaimana agar kita dapat berfungsi sebaik-baiknya?  “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian” (Amsal 9:10).

Untuk menghindari perangkap kehidupan, ikuti peta jalan yang handal.  Kehidupan sehari-hari tampaknya penuh dengan ancaman bahaya yang dapat mengagalkan rencana terbaik dan pencapaian kita.  Untuk menghindari “jalan yang berbahaya” tersebut, adalah penting untuk bergantung pada peta jalan spiritual yang dapat memimpin kita menghindari perangkap-perangkap tersebut.  “Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut” (Amsal 14:27).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

 

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell:
nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi
http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Renungkan saat Anda melakukan sesuatu yang Anda sangka benar, tetapi kemudian Anda sadari ternyata apa yang Anda lakukan itu salah.  Seperti apakah rasanya mengalami hal seperti itu?

2. Apakah yang menjadi landasan spiritualitas Anda, bagaimana menerapkannya dalam kehidupan Anda?  Bagaimana Anda memilah hal-hal yang benar dari hal-hal yang salah sesuai dengan iman-percaya Anda?

3. Apakah Anda sependapat bahwa suatu spritualitas dapat menjadi usang, atau Anda cenderung bersikap apapun yang Anda percayai dapat diterima – selama Anda secara tulus mempercayainya?  Jelaskan jawaban Anda.

4. Apakah Anda percaya bahwa spritualitas – jangan samakan dengan “agama” – memiliki peran penting dalam dunia bisnis dan dunia kerja?  Jika ya, dalam hal apa sprititualitas memberi pengaruh?  Jika tidak, mengapa tidak?

Berikut adalah ayat-ayat Alkitab yang dapat dijadikan dasar merenungkan topik dalam artikel ini:

Yosua 1:8; Mazmur 1:1-3, 112:1; Amsal 1:7, 15:33; Yesaya 33:6, 50:10; 2 Timotius 3:16 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:55:28 | Permalink | No Comments »

Kompetisi

28 Agustus  2006

KOMPETISI: MENURUT ATURAN SIAPAKAH ANDA BERMAIN?
Oleh: Randal Walti

Bila berbicara tentang kompetisi, kita cenderung berpikir tentang bidang kehidupan di mana persaingan secara alami terjadi, misalnya dalam olahraga.  Namun,  bahkan dalam olahraga sekalipun,  persaingan yang berlebihan dapat menyebabkan hal-hal buruk.   Pelatih yang terlalu antusias mengusahakan segala cara demi meraih kemenangan, para atlet profesional, calon bintang olahraga masa depan, mempertaruhkan timnya sendiri dan akhirnya dikenai sangsi; pemain seluncur-es yang berupaya menjegal saingan terberatnya agar dapat memenangkan medali emas dan pujian.   Entah dalam olahraga, bisnis atau dalam bidang lain dalam kehidupan, kompetisi membawa dampak baik atau buruk.  Semua tergantung dari peraturan yang Anda ikuti.

Divisi Analisis Kompetitif memungkinkan suatu bisnis memperoleh informasi berlimpah-ruah dari sumber yang legal, tetap mentaati peraturan dan menerapkan etika bisnis yang benar.  Peraturan yang ditetapkan Tuhan dalam Alkitab mencakup larangan untuk berbohong, berbuat curang atau mencuri (termasuk mereka yang bekerja dengan Anda).  Kadangkala tampaknya sangat berat tetap terikat pada peraturan-peraturan seperti itu dalam kondisi begitu sulit memperoleh kesempatan meningkatkan keunggulan kompetitif dan meningkatkan pangsa pasar; alternatifnya adalah bersaing secara tidak sehat.  Tetapi tetap berpegang pada peraturan persaingan sehat dalam jangka panjang akan membawa dampak yang baik  – moral yang luhur, reputasi yang tak ternilai harganya, integritas yang utuh, dan kepercayaan baik dari konsumen saat ini maupun konsumen masa yang akan datang. 

Kompetisi memperebutkan pasar bahkan dapat menjadi inspirasi bagi Anda dan perusahaan Anda untuk mencapai tingkat keberhasilan jauh melebihi apa yang selama ini Anda idamkan, pencapaian kompetitif mewujukan keunggulan prima.  Pada tahun 2000, saya mengalami pembedahan untuk menstimulasi otak bagian dalam guna mengobati penyakit Parkinson yang saya derita.  Saya merasa sangat lega karena operasi menunjukkan hasil yang baik.  Bahkan saya menjalani operasi yang sama sebanyak dua kali.  Bagai mujizat, saya kini mampu berjalan, berbicara dan bergerak secara normal.  Ya, saya yakin kompetisi berperan penting dalam perkembangan pesat Perangkat Medtronic – perangkat yang menggantikan hubungan yang terputus dalam otak saya dan menjadi saluran stimulasi elektronik ke dalam otak saya. Para dokter sebelumnya tidak tahu bagaimana alat ini dapat berhasil menyembuhkan, mereka baru tahu setelah melihat hasil operasi yang saya jalani.

Bukankah para peneliti Medtronic akhirnya memasarkan alat tersebut  karena: 1) alat tersebut bermanfaat bagi pasien; 2) alat tersebut menguntungkan; dan 3) teknologi yang mereka miliki merupakan keunggulan kompetitif perusahaan yang mengalahkan pesaing-pesaingnya.  Alasan saya memilih alat itu adalah karena perangkat tersebut adalah solusi paling baik bagi saya – tidak ada alat lain yang dapat mengunggulinya. 

Kompetisi yang dimainkan berdasarkan aturan – dalam hal ini peraturan Tuhan – selalu menghasilkan keunggulan.  Kompetisi seperti itu berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, menggunakan sudut pandang abadi dan tidak pernah mengabaikan orang-orang yang terlibat dalam proses – para karyawan, konsumen, shareholders, bahkan khalayak umum.  Renungkanlah jenis-jenis kompetisi menurut Tuhan yang tercantum dalam “petunjuk bisnis”-Nya, Alkitab:

Berkompetisi dengan tujuan yang jelas dan masuk akal: ”Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.  Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1 Corinthians 9:25-27).

Berkompetisi berdasarkan peraturan yang sudah dibuat dan disepakati bersama. “Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga” (2 Timotius 2:5)

Berkompetisi karena alasan yang salah.  “Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain“ (Pengkhotbah 4:4).

Diadaptasi dengan izin dari artikel karya Randal Walti, seorang konsultan bisnis yang tinggal di Titusville, Florida, A.S. Ia adalah penulis majalah berbasis email, “Business Life Today.”  Websitenya dapat diakses di www.buslifetoday.com.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell:
nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi
http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Apa dampak kompetisi pada perusahaan Anda?  Cobalah memberikan contoh mutakhir baik mengenai dampak positif maupun dampak negatif kompetisi terhadap bisnis Anda.

2. Dalam pekerjaan, seringkah Anda  dihadapkan pada godaan bersaing secara tidak sehat, mungkin dengan memilih jalan pintas, sedikit berkompromi, atau menggunakan taktik-taktik lainnya?  Jelaskan jawaban Anda.

3. Pikirkan produk-produk yang kini dipasarkan baik yang seluruhnya maupun yang sebagian saja merupakan hasil dari semangat kompetisi yang kuat.  Menurut Anda, akankah perkembangan produk-produk tersebut – sepesat dan bermutu tinggi – saat ini andaikan tidak ada kompetisi?

4. Apa pendapat Anda mengenai pemikiran untuk menerapkan ajaran dan prinsip Alkitabiah mengenai kompetisi dalam dunia bisnis dan dunia kerja? Apakah hal tersebut realistis?  Mengapa atau mengapa tidak?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat dijadikan dasar merenungkan prinsip-prinsip  kompetisi:

Amsal 12:22, 16:11, 21:6; Matius 7:12, 22:37-40; Filipi 2:3,4 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:45:10 | Permalink | No Comments »