Penanganan Karyawan
13 Maret 2006
MENANGANI KARYAWAN PEMBUAT ONAR DAN PEMECAH BELAH
Oleh: Rick Boxx
Beberapa masalah terberat yang dihadapi para manajer adalah masalah sumber daya manusia. Keluhan utama umumnya berkaitan dengan karyawan-karyawan pembuat onar. Di hampir setiap tempat kerja, senantiasa ada karyawan yang senang bergunjing atau membangkitkan perselisihan. Mereka memperolok-olokan orang lain, menyebarkan gosip, atau menunjukkan perilaku yang tidak peka bahkan perlakuan kasar kepada teman-teman sekerjanya.
Seorang pemimpin utama perusahaan yang saya kenal suatu saat menghadapi masalah seperti ini. Salah seorang karyawannya yang sudah lama bekerja menunjukkan kinerja kerja yang cukup baik. Seiring dengan pertumbuhan perusahaan, interaksi antara karyawan itu dengan karyawan yang lain pun menjadi semakin penting, tetapi sayangnya semakin terlihat pula kekurangannya. Ia sering merendahkan orang lain, mengadu-domba, dan bahkan menjelek-jelekkan pemilik perusahaan. Kepada saya, pemimpin perusahaan itu mengajukan pertanyaan, “Apa yang harus saya lakukan pada karyawan yang menimbulkan masalah itu, mengingat sudah lama sekali ia bekerja?”
Amsal 22:10 memberikan jawaban berikut: “Usirlah si pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan akan berhentilah perbantahan dan cemooh.” Memang masa kerja yang panjang, dan kenyataan bahwa baru belakangan ia membuat masalah, menjadi pertimbangan mencari penyelesaian yang adil dan tepat. Tetapi sebenarnya hanya satu dari dua alternatif berikut inilah yang seharusnya diberlakukan kepada karyawan tersebut, yaitu: ia harus berubah, atau ia terpaksa diberhentikan.
Berikut langkah-langkah penanganan masalah tersebut yang saya sarankan kepada pemimpin perusahaan itu:
Menyadarkan karyawan tersebut bahwa ia telah membuat masalah, dan memberikan contoh dan masalah yang ditimbulkannya kemudian menerangkan sejelas-jelasnya masalah tersebut.
Secara lugas menyampaikan harapan dan batas waktu karyawan tersebut untuk merubah perilakunya.
Jika ia menunjukkan perubahan yang positif, pemimpin perusahaan harus memberi pujian dan terus memonitor perilakunya agar masalah tidak lagi terulang.
Jika tidak terjadi perubahan ke arah yang lebih baik, berhentikan karyawan itu.
Banyak manajer yang berhati-lembut menganggap langkah penyelesaian seperti ini sebagai tindakan yang terlalu keras atau terlalu berlebihan. Tetapi, jika Anda bermaksud mengembangkan kemampuan karyawan sebaik-baiknya, maka adalah sangat perlu menegakkan aturan bila karyawan tidak menunjukkan perubahan. Jika perilaku para “pencemooh” (demikianlah Alkitab menyebut mereka) dibiarkan dan tidak ada teguran, mereka tidak akan memiliki motivasi atau keinginan berubah. Dan mereka akan terus memberi dampak negatif pada perusahaan.
Renungkanlah apa yang ditulis dalam Amsal 9:12, “Jikalau engkau bijak, kebijakanmu itu bagimu sendiri, jikalau engkau mencemooh, engkau sendirilah orang yang akan menanggungnya.” Keteguhan hati Anda untuk mengupayakan perubahan perilaku - atau jika tidak ada perubahan maka karyawan pembuat masalah akan dipecat - dapat membantu mengubah sifat memecah-belah perlahan menjadi kebijaksanaan.
Jadi bila ada karyawan yang menimbulkan masalah dalam wewenang kerja Anda, pertimbangkanlah nasehat Raja Salomo dan doronglah karyawan Anda tersebut - untuk merubah perilaku mereka atau keluar dari perusahaan. Tindakan seperti ini mungkin terkesan sangat keras, tetapi dalam jangka panjang tindakan ini akan membentuk karyawan yang produktif dan bersikap positif bahkan bila kelak terjadi pergantian pemimpin.
Copyright 2006, Integrity Resource Center, Inc. Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani. Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.
Pertanyaan Refleksi/Diskusi
-
Dapatkah Anda menyebutkan seseorang di tempat kerja yang dapat dikategorikan sebagai seorang “pencemooh,” seseorang yang sering mengadu-domba atau membuat masalah dengan rekan kerjanya? Jika ada karyawan yang seperti itu, gambarkan atau berikan contoh perilaku buruk karyawan tersebut.
-
Apa dampak jangka-panjang bila perilaku karyawan pembuat masalah tidak berhasil diubah? Apakah akan berpengaruh pada moral kerja dan produktivitas perusahaan?
-
Apakah menurut Anda tindakan “menyingkirkan si pencemooh” adalah tindakan yang keras dan tanpa perasaan? Mengapa atau mengapa tidak?
-
Apakah Anda akan merubah - atau menambahkan - langkah-langkah penanganan karyawan pembuat onar yang tercantum dalam tulisan ini? Jelaskan jawaban Anda.
Gunakan ayat-ayat Alkitab berikut ini untuk merenungkan lebih lanjut topik Monday Manna edisi minggu ini:
Amsal 9:7-9, 14:9, 29:8; Filipi 2:3,4 (www.sabda.org/alkitab)