Thursday, March 23, 2006

Jaringan

20 Maret 2006 

PRINSIP-PRINSIP YANG SUDAH TERBUKTI UNTUK MEMBANGUN JARINGAN

Oleh: Rick Warren

 

Semua pemimpin percaya dan memberdayakan jaringan (networking). Sebelum menjadi presiden atau pemimpin utama sebuah perusahaan atau organisasi berukuran besar, selama bertahun-tahun terlebih dahulu seseorang harus membangun dan memelihara jaringan yang luas dan kuat yang terdiri dari teman-teman, kolega dan orang-orang yang dapat memberi nasehat atau konsultasi.

President A.S. George Bush, misalnya, dikisahkan hingga kini masih terus memelihara hubungan pribadi dengan jaringannya melalui pembicaraan pendek lewat telepon atau pesan singkat setiap hari. Bahkan di akhir suatu hari yang sibuk. ia diketahui masih menyempatkan diri menerima telepon atau menelepon paling tidak 20 teman-teman dari pelbagai pelosok negeri.

KEBERHASILAN HAMPIR TIDAK PERNAH MERUPAKAN HASIL UPAYA SATU ORANG. BIASANYA KESUKSESAN ADALAH HASIL KERJA KELOMPOK. Bertemu dengan banyak orang. Bekerja sama dalam satu tim. Menjaga keharmonisan hubungan dengan mereka yang kita percaya dapat memberi nasehat dan konsultasi. Menjalin hubungan secara pribadi dengan mereka yang memiliki wewenang pada akses sumber daya yang kita perlukan. Semua hal ini adalah aspek pembentukan jaringan. Dan teknologi masa kini mempermudah pembentukan dan pelestarian jaringan dibanding masa-masa sebelumnya.

Konferensi jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi telekomunikasi, mesin faksimili, jasa pengiriman surat dan dokumen dalam satu hari, e-mail, dan telepon seluler adalah beberapa bentuk teknologi masa kini yang memungkinkan Anda berhubungan dengan lebih banyak orang di tempat-tempat yang tak terjangkau oleh teknologi sebelumnya. Perangkat hasil penemuan yang mempercanggih kehidupan ini kini dapat dimanfaatkan oleh mereka yang menyadari pentingnya jaringan. Jaringan kini tidak lagi hanya terdiri dari mereka yang tinggal di dekat Anda atau yang Anda temui secara langsung setiap hari. Anda dapat menjangkau dan menyapa setiap orang dalam jaringan Anda di mana pun mereka berada sesering yang Anda inginkan - dengan bantuan teknologi.

BAGAIMANA MEMBANGUN JARINGAN PRIBADI YANG EFEKTIF? Terdapat banyak pendekatan untuk membangun dan mengembangkan jaringan kerja yang berguna bagi para pemimpin untuk mencapai misi dan tujuan mereka. Namun, beberapa di antara metode-metode tersebut ternyata hanya bermanfaat bagi satu pihak saja dan bersifat manipulatif, dirancang hanya bagi kepentingan para pemimpin. Alkitab, sebagai suatu nara sumber yang sudah sangat kuno tetapi yang nilai-nilainya tetap relevan hingga saat ini mencantumkan apa yang saya sebut sebagai enam komponen terwujudnya hubungan yang saling menguntungkan dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang:

 

Seorang pemimpin haruslah SETIA KAWAN DAN PENUH PERHATIAN. “Saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada kota yang kuat, dan pertengkaran adalah seperti palang gapura sebuah puri.’ (Amsal 18:19).

 

 

Seorang pemimpin haruslah dapat SETIA MENJAGA KEPERCAYAAN. “Siapa mengumpat, membuka rahasia, tetapi siapa yang setia, menutupi perkara” (Amsal 11:13).

 

 

Seorang pemimpin haruslah JUJUR. “Siapa memberi jawaban yang tepat mengecup bibir” (Amsal 24:26).

 

 

Seorang pemimpin haruslah KONSTRUKTIF. “Besi menajamkan besi, orangmenajamkan sesamanya” (Amsal 27:17).

 

 

Seorang pemimpin haruslah KONSISTEN. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (Amsal 17:17).

 

 

Seorang pemimpin harus berani BERKOMITMEN. “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara” (Amsal 18:24).

Jelas terlihat inti pengajaran ini: Jika seorang pemimpin berharap memiliki jaringan yang terdiri dari teman-teman dan rekan-rekan yang dapat memberi saran dan nasehat yang penuh perhatian, setia menjaga kepercayaan, jujur, konsisten dan berani berkomitmen, maka pemimpin tersebut harus terlebih dahulu menunjukkan sifat-sifat tersebut kepada orang lain. Dalam jaringan hubungan pribadi maupun jaringan kerja profesional terapkanlah sifat-sifat tersebut maka:

 

Tak peduli siapa atau bagaimanapun diri Anda, Anda pasti akan menarik hati banyak orang!

 

Rick Warren adalah penulis buku laris berjudul, The Purpose-Drive Life, yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan dijual di seluruh penjuru dunia. Buku ini memaparkan pentingnya memiliki tujuan hidup yang dengan seksama dan jelas dirumuskan sebagai panduan menjalani kehidupan setiap hari. Artikel ini diedit dan diadaptasi untuk “Monday Manna” dari salah satu kolom yang ditulis oleh Rick Warren.

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
 
 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Apakah Anda memiliki jaringan yang terdiri dari teman-teman, para kolega dan mereka yang handal memberi nasehat atau saran? Jika Anda memiliki jaringan seperti itu, bagaimana Anda menggambarkan jaringan tersebut - apakah jaringan tersebut menunjang Anda melaksanakan pekerjaan-pekerjaan Anda setiap harinya?
  2. Sifat-sifat apa saja yang Anda cari dalam seseorang yang Anda anggap “memenuhi kriteria” menjadi bagian jaringan Anda? Mengapa sifat-sifat tersebut Anda anggap penting?
  3. Menurut Anda apakah Anda menjadi bagian dari jaringan pemimpin bisnis lain? Jika ya, menurut pandangan Anda apa sumbangsih Anda dalam meningkatkan efektifitas kerja pemimpin tersebut?
  4. Sependapatkah Anda dengan rumusan Rick Warren mengenai “enam komponen” jaringan pribadi yang efektif? Mengapa atau mengapa tidak?
  5.  

 

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan sebagai dasar perenungan topik membangun suatu jaringan:

 

Amsal 1:5, 20:18; Matius 14:7-11; Markus 12:28-31; Yohanes15:13-15 (www.sabda.org/alkitab)

Posted by Suzanna L. Siregar at 10:09:20 | Permalink | No Comments »

Penanganan Karyawan

13 Maret 2006 

MENANGANI KARYAWAN  PEMBUAT ONAR DAN PEMECAH BELAH

Oleh: Rick Boxx

Beberapa masalah terberat yang dihadapi para manajer adalah masalah sumber daya manusia. Keluhan utama umumnya berkaitan dengan karyawan-karyawan pembuat onar. Di hampir setiap tempat kerja, senantiasa ada karyawan yang senang bergunjing atau membangkitkan perselisihan. Mereka memperolok-olokan orang lain, menyebarkan gosip, atau menunjukkan perilaku yang tidak peka bahkan perlakuan kasar kepada teman-teman sekerjanya.

 

Seorang pemimpin utama perusahaan yang saya kenal suatu saat menghadapi masalah seperti ini. Salah seorang karyawannya yang sudah lama bekerja menunjukkan kinerja kerja yang cukup baik. Seiring dengan pertumbuhan perusahaan, interaksi antara karyawan itu dengan karyawan yang lain pun menjadi semakin penting, tetapi sayangnya semakin terlihat pula kekurangannya. Ia sering merendahkan orang lain, mengadu-domba, dan bahkan menjelek-jelekkan pemilik perusahaan. Kepada saya, pemimpin perusahaan itu mengajukan pertanyaan, “Apa yang harus saya lakukan pada karyawan yang menimbulkan masalah itu, mengingat sudah lama sekali ia bekerja?”

 

Amsal 22:10 memberikan jawaban berikut: “Usirlah si pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan akan berhentilah perbantahan dan cemooh.” Memang masa kerja yang panjang, dan kenyataan bahwa baru belakangan ia membuat masalah, menjadi pertimbangan mencari penyelesaian yang adil dan tepat. Tetapi sebenarnya hanya satu dari dua alternatif berikut inilah yang seharusnya diberlakukan kepada karyawan tersebut, yaitu: ia harus berubah, atau ia terpaksa diberhentikan.

 

Berikut langkah-langkah penanganan masalah tersebut yang saya sarankan kepada pemimpin perusahaan itu:

Menyadarkan karyawan tersebut bahwa ia telah membuat masalah, dan memberikan contoh dan masalah yang ditimbulkannya kemudian menerangkan sejelas-jelasnya masalah tersebut.

Secara lugas menyampaikan harapan dan batas waktu karyawan tersebut untuk merubah perilakunya.

Jika ia menunjukkan perubahan yang positif, pemimpin perusahaan harus memberi pujian dan terus memonitor perilakunya agar masalah tidak lagi terulang.

Jika tidak terjadi perubahan ke arah yang lebih baik, berhentikan karyawan itu.

 

 

Banyak manajer yang berhati-lembut menganggap langkah penyelesaian seperti ini sebagai tindakan yang terlalu keras atau terlalu berlebihan. Tetapi, jika Anda bermaksud mengembangkan kemampuan karyawan sebaik-baiknya, maka adalah sangat perlu menegakkan aturan bila karyawan tidak menunjukkan perubahan. Jika perilaku para “pencemooh” (demikianlah Alkitab menyebut mereka) dibiarkan dan tidak ada teguran, mereka tidak akan memiliki motivasi atau keinginan berubah. Dan mereka akan terus memberi dampak negatif pada perusahaan.

 

Renungkanlah apa yang ditulis dalam Amsal 9:12, “Jikalau engkau bijak, kebijakanmu itu bagimu sendiri, jikalau engkau mencemooh, engkau sendirilah orang yang akan menanggungnya.” Keteguhan hati Anda untuk mengupayakan perubahan perilaku - atau jika tidak ada perubahan maka karyawan pembuat masalah akan dipecat - dapat membantu mengubah sifat memecah-belah perlahan menjadi kebijaksanaan.

 

Jadi bila ada karyawan yang menimbulkan masalah dalam wewenang kerja Anda, pertimbangkanlah nasehat Raja Salomo dan doronglah karyawan Anda tersebut - untuk merubah perilaku mereka atau keluar dari perusahaan. Tindakan seperti ini mungkin terkesan sangat keras, tetapi dalam jangka panjang tindakan ini akan membentuk karyawan yang produktif dan bersikap positif bahkan bila kelak terjadi pergantian pemimpin.

 

Copyright 2006, Integrity Resource Center, Inc. Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani. Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.

 

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
 
 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Dapatkah Anda menyebutkan seseorang di tempat kerja yang dapat dikategorikan sebagai seorang “pencemooh,” seseorang yang sering mengadu-domba atau membuat masalah dengan rekan kerjanya? Jika ada karyawan yang seperti itu, gambarkan atau berikan contoh perilaku buruk karyawan tersebut.
  2. Apa dampak jangka-panjang bila perilaku karyawan pembuat masalah tidak berhasil diubah? Apakah akan berpengaruh pada moral kerja dan produktivitas perusahaan?
  3. Apakah menurut Anda tindakan “menyingkirkan si pencemooh” adalah tindakan yang keras dan tanpa perasaan? Mengapa atau mengapa tidak?
  4. Apakah Anda akan merubah - atau menambahkan - langkah-langkah penanganan karyawan pembuat onar yang tercantum dalam tulisan ini? Jelaskan jawaban Anda.

Gunakan ayat-ayat Alkitab berikut ini untuk merenungkan lebih lanjut topik Monday Manna edisi minggu ini:

 

Amsal 9:7-9, 14:9, 29:8; Filipi 2:3,4 (www.sabda.org/alkitab)

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 09:48:26 | Permalink | No Comments »

Keunggulan Diri

6 Maret 2006 

SISI NEGATIF UPAYA MEMPERLIHATKAN KEUNGGULAN DIRI

Oleh: Robert J. Tamasy

 

Kita hidup dalam dunia di mana upaya menunjukkan keunggulan diri (self-promotion) tidak hanya dianggap lumrah, tetapi juga seolah dianjurkan – bahkan dituntut untuk dilakukan. Saya teringat kejadian beberapa dekade yang lain ketika Cassius Clay (yang kemudian mengganti namanya menjadi Muhammad Ali) meraih gelar juara tinju kelas berat. “Sayalah yang terbesar!” adalah ungkapan kebanggaan akan keunggulan dirinya. Ungkapan yang dilontarkan sang petinju berkaitkan dengan prestasinya dalam olahraga tinju.

 

Kita menyaksikan banyak contoh ungkapan keunggulan diri dari arena olahraga dan hiburan. Para pemain sepak bola profesional dan bintang bola basket bergaya habis-habisan di depan kamera usai pertandingan-pertandingan penting, memastikan semua orang memperhatikan mereka. Para atlet menuntut perundingan-ulang kontrak, karena menurut pendapat mereka, “mereka dibayar terlalu murah dan tidak dihargai.” Bintang-bintang film dan para selebriti yang kerap muncul di layar televisi mengenakan pakaian-pakaian aneh dan mempertontonkan perilaku yang tak biasa, semua dilakukan sebagai upaya publisitas dan memperoleh lebih banyak tawaran pekerjaan.

 

Menunjukkan keunggulan diri juga sudah menjadi bagian yang lazim dalam dunia bisnis dan dunia kerja: Para eksekutif penjualan menceritakan betapa mereka telah melebihi target penjualan bulanan atau bahkan target penjualan triwulanan. Manajer-manajer yang ambisius melakukan pelbagai pertemuan dan pembicaraan dalam usaha memperoleh tanggung jawab yang lebih besar – sekaligus memperoleh lebih banyak pendapatan dan bonus. Para eksekutif di strata atas mengusahakan ketenaran nama mereka ke seantero negeri – bahkan ke seluruh pelosok dunia – melalui liputan televisi maupun media lainnya yang bertubi-tubi, seringkali mereka bahkan menjadi lebih terkenal dibanding perusahaan yang mereka pimpin.

 

Mengungkapkan keunggulan diri, meski dapat dikatakan sebagai fenomena abad ke 20 dan ke 21, sesungguhnya sudah sama tuanya dengan sejarah dunia. Sebagai contoh dapat kita baca, dalam Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama bagaimana Nebukadnezar Raja Babel yang terkenal itu dengan angkuh menyatakan, “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” (Daniel 4:30).

 

Meski harus kita akui, mengungkapkan keunggulan diri sudah semakin lazim, tidakkah tetap saja terasa menganggu menyaksikan bagaimana orang senantiasa mencari perhatian? Tidakkah rasanya orang selalu berteriak-teriak, “Hei, lihatlah saya. Lihat siapa saya. Lihat apa yang sudah saya raih!”?

 

Kitab Amsal dalam Alkitab sependapat dengan Anda, bahwa adalah lebih bernilai bila orang lain yang memuji Anda dibanding bila Anda memuji diri Anda sendiri:

 

Lebih baik menerima pujian daripada mengumbar pujian pada diri sendiri. Andaikan dapat memilih, manakah yang Anda pilih – menceritakan keberhasilan-keberhasilan diri Anda, sehingga mereka yang mendengarkan Anda menyadari betapa hebat dan suksesnya Anda, atau menerima tanggapan positif mengenai diri Anda dari orang-orang yang Anda hormati dan kagumi? Pastilah kita semua akan memilih menerima pujian dari orang lain, karena hal ini menjadi bukti bahwa segala upaya kita sudah dikenali dan dihargai. “Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu, orang yang tidak kaukenal dan bukan bibirmu sendiri” (Amsal 27:2).

 

Cara kita menanggapi pujian yang dilontarkan kepada kita merupakan ujian karakter kita. Bila seseorang memuji pekerjaan yang telah Anda laksanakan dengan baik, bagaimana tanggapan Anda? Apakah Anda menepuk dada berbesar hati, atau apakah Anda menerima pujian dengan terima kasih dan kerendahan hati, dengan rasa syukur atas karunia, kemampuan dan pengalaman melaksanakan pekerjaan tersebut dengan baik? “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu” (Amsal 27:19). “Kui untuk melebur perak dan perapian untuk melebur emas, dan orang dinilai menurut pujian yang diberikan kepadanya”(Amsal 27:21).

 

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

 

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Seberapa peka Anda menyadari keberadaan orang-orang yang sangat mahir mengungkapkan keunggulan mereka di tempat kerja Anda? Apakah Anda juga termasuk golongan orang-orang tersebut? Jelaskan jawaban Anda.
  2. Secara umum bagaimana reaksi Anda saat menghadapi rekan sekerja yang tanpa sungkan-sungkan mengungkapkan keunggulan dirinya? Menurut Anda, mengapa Anda bereaksi demikian?
  3. Merenungkan kehidupan orang tenar dan selebriti – di dalam dunia olahraga, hiburan, politik – siapa sajakah yang segera terbersit dalam benak Anda berkaitan dengan kecenderungannya mengungkapkan keunggulan diri?
  4. Sependapatkah Anda pada pernyataan bahwa cara kita menanggapi pujian – ketika kita menerima pujian dari orang lain – adalah suatu ujian bagi karakter diri kita? Mengapa atau mengapa tidak?
  5.  

 

 

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat dijadikan dasar perenungan topik berkaitan dengan mengungkapkan – atau malah tidak mengumbar – pujian kepada diri sendiri:

 

Mazmur 57:9-11; Amsal 16:24; Filipi 2:3,4; 1 Petrus 5:5,6 (www.sabda.org/alkitab)

 

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 09:32:59 | Permalink | No Comments »

Alternatif terhadap Kegagalan

27 Februari 2006 

APA ALTERNATIF LAIN KETIKA SEGALANYA GAGAL?

Oleh: Ken Korkow

 

Baru-baru ini, saya memeriksakan diri kepada seorang dokter. Akhirnya, saya harus menemui dua dokter - seorang dokter umum dan seorang dokter spesialis guna mendiskusikan sakit kepala menahun yang saya derita.

 

Saat diperiksa oleh dokter umum, saya berkomentar, “Saya rasanya lebih menyukai pekerjaan saya dibanding pekerjaan Anda.” Dengan pandangan heran, dokter itu bertanya, “Mengapa?” “Karena apapun yang Anda kerjakan, akhirnya pasien-pasien Anda akan meninggal juga,” saya menjelaskan. “Tetapi dalam pekerjaan saya, saya menyaksikan bagaimana orang melakukan perubahan yang berdampak pada kehidupan kekal.”

 

Pernyataan saya kemudian membuka percakapan yang menyenangkan di mana saya dan dokter itu dapat berdiskusi tentang Allah dan Yesus tanpa jatuh dalam “perangkap agama.” Sungguh suatu waktu yang indah meski harus disertai sakit kepala.

 

Saat merenungkan percakapan tersebut, terbersit di benak saya betapa seringnya kita mencurahkan banyak tenaga dan sumber daya bergelut dengan pengharapan yang tidak realistis. Misalnya, kita cenderung berpendapat, dengan dokter dan obat yang “tepat,” dengan pendidikan yang “tepat,” dengan pekerjaan yang “tepat,” dengan pasangan hidup yang “tepat,” dengan mobil yang “tepat,” atau dengan klub golf yang “tepat,” maka kehidupan akan sesuai dengan harapan dan kita akan hidup “bahagia selama-lamanya.” Sayangnya, ternyata segala sesuatu itu gagal.

 

PERANG GAGAL: Kita pernah mengalami perang yang kita sebut sebagai “perang untuk menghentikan semua perang,” yakni Perang Dunia I. Namun, ternyata perang tersebut tidak menghentikan perang lain setelahnya. Kitapun tidak berhasil menghapuskan terorisme dengan perangkat militer. Kita mendukung pemimpin pemerintahan, dan membayar pajak. Kita bahkan mendukung putra-putra kita saat mereka memutuskan menjadi anggota militer. Namun kita juga harus menerima kenyataan bahwa pergumulan melawan pembunuhan dan terorisme di atas muka bumi ini, masih kita hadapi dan masih terus akan kita hadapi sampai Yesus Kristus kembali ke dunia sesuai dengan janji-Nya.

 

PENDIDIKAN GAGAL: Ibu, istri, ibu mertua, bahkan putri sulung saya adalah seorang guru. Saya sendiri berhasil meraih gelar sarjana strata dua. Namun menurut pendapat saya, tatanan masyarakat tidak berkembang seturut dengan upaya kita meningkatkan pendidikan. Demikian juga yang saya rasakan saat bergaul dengan teman-teman saya yang cemerlang dan terpelajar, tidak ada “kebahagiaan penuh.” Malahan, saya merasakan apa yang digambarkan dalam hikmat Raja Salomo: “Karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan”(Pengkhotbah 1:18).

 

TEKNOLOGI GAGAL: Hari Minggu yang lalu saya menunjukkan kepada Liz, istri saya sebuah gambar dalam surat kabar lokal. Gambar itu memperlihatkan sebuah ruang tamu yang indah bagian dari sebuah rumah yang indah. Tetapi kursi dan sofa tidak ditata untuk suatu percakapan. Kursi dan sofa diletakkan semata-mata agar mereka yang duduk di sana mendapatkan jarak pandang yang tepat untuk menikmati tontonan dari seperangkat televisi berlayar lebar - dekat dengan telepon gengam, e-mail, komputer - pengaturan perabot yang meningkatkan stres sehari-hari, serta mengurangi keakraban hubungan dan kasih dengan sesama.

SISTEM HUKUM GAGAL: Saat ini masyarakat kita memiliki sistem hukum yang jauh lebih efektif dibanding masa-masa lalu, kita mengeluarkan dana yang besar untuk kepolisian, aparat penegak hukum dan sistem peradilan. Tetapi setiap hari surat kabar terus-menerus menurunkan berbagai artikel yang menyibakkan sisi ke-tidakmanusiawi-an manusia.

 

AGAMA GAGAL: Sistem yang terdiri dari tata ibadah dan jubah, gema lonceng dan wangi dupa, program dan proyek sebenarnya hanyalah upaya manusia memperbaiki dirinya sendiri. Namun upaya perbaikan-diri dan ritual keagamaan tidak memuaskan hati Sang Pencipta. Ia, memutuskan mengutus Yesus Kristus untuk membayar semua hutang dosa kita di atas kayu salib. “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21).

Pengharapan bahwa obat-obatan, kekuatan militer, pendidikan, teknologi, sistem hukum atau agama akan mewujudkan perdamaian, sukacita, harapan atau keamanan adalah sia-sia. Karena semua hal tersebut gagal. Tak peduli siapapun Anda atau apapun pekerjaan Anda, kehampaan hati hanya dapat dipuaskan oleh satu cara yaitu melalui hubungan pribadi yang terus-menerus bertumbuh kepada Allah melalui Yesus Kristus.

 

Ken Korkow tinggal di Omaha, Nebraska, A.S., di mana ia menjadi salah seorang direktur area CBMC. Artikel ini diadaptasi dari kolom “Fax of Life” yang ditulisnya setiap minggu. Dipublikasikan seizin penulisnya.

 

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org
Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
 
 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

 

  1. Bilamanakah baru-baru ini Anda menghadapi apa yang sangat Anda harapkan ternyata tidak terwujud. Bagaimana perasaan Anda?
  2. Pernahkah suatu waktu Anda berpikir bahwa seandainya Anda mempunyai pekerjaan yang “tepat,” pendidikan yang “tepat,” kesempatan yang “tepat,” pasangan hidup yang “tepat,” atau apapun dalam hidup Anda adalah sesuatu yang “tepat,” maka segala masalah akan dapat teratasi? Bagaimana perasaan Anda saat itu - dan apakah sekarang Anda merasakan hal yang sama? Mengapa atau mengapa tidak?
  3. Penulis edisi minggu ini menyatakan bahwa kekuatan militer, teknologi, sistem hukum dan agama sebagai elemen kehidupan masyarakat telah gagal memenuhi harapan menciptakan dunia yang ideal. Apakah Anda sependapat dengannya? Jika ya, apakah hal itu karena hal-hal tersebut memang tidak mampu membangkitkan perubahan yang dibutuhkan, atau karena hal-hal tersebut belum cukup “berkembang”? Jelaskan jawaban Anda.
  4. Apa pendapat Anda atas pernyataan bahwa kerinduan terdalam dan pengharapan terbesar dan kehidupan hanya dapat diwujudkan melalui Yesus Kristus?
  5.  

 

 

Beriku adalah ayat-ayat Alkitab yang dapat digunakan sebagai bahan perenungan topik yang berkaitan dengan pengharapan dalam hidup:

 

Mazmur 37:4,5; Amsal 3:5-6, 16:3; Yeremia 29:11, 33:3; Yohanes 14:2-3 (www.sabda.org/alkitab)

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 09:25:34 | Permalink | No Comments »

Berhala

20 Februari 2006 

PERANGKAP MEMPERTUHANKAN KEKAYAAN

Oleh: Robert D. Foster

 

Setiap tahun majalah FORTUNE mempublikasi laporan mengenai orang-orang terkaya di dunia. Banyak di antara mereka terkenal ke seantero dunia karena kesuksesan bisnis mereka, tetapi lebih dari itu, mereka terkenal karena memiliki kekayaan yang luar biasa besarnya. Tampaknya apa yang mereka miliki lebih penting dibanding pencapaian yang telah mereka raih. Beberapa di antara orang-orang terkaya ini terkenal karena kemurahan hati dan karena kepeduliaannya pada sesama, namun lebih banyak di antara mereka yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut. Kebanyakan beranggapan. “Saya sudah berusaha keras mendapatkan kekayaan dan karenanya saya berhak menyimpan dan menggunakan kekayaan saya sesuai dengan keinginan saya.”

 

Kekayaan, dan bukan Tuhan, dapat menjadi tujuan utama bagi banyak orang. Hidup mereka semata diarahkan pada pemenuhan pangan dan sandang, mobil dan rumah, perjalanan wisata dan hiburan. Pada dasarnya tidak ada yang salah menikmati kenyamanan dari benda-benda tersebut, namun seringkali, benda-benda ini justru menjadi motivasi utama bagi pencapaian kemajuan bisnis, kesejahteraan keuangan bahkan kenyamanan”sarang-istirahat” di masa pensiun.

 

Sangatlah baik bila tujuan hidup Anda tidak terlalu berpusat pada hal-hal kebendaan - mencurahkan waktu dan tenaga untuk mengumpulkan hal-hal yang tidak abadi atau hal-hal yang daya tariknya luntur dalam sekejab. Renungkanlah saran Raja Salomo, yang terkenal sebagai orang paling bijaksana sekaligus paling kaya sepanjang masa. Ia menuliskan nasehat ini: “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini. Kalau engkau mengamat-amatinya, lenyaplah ia, karena tiba-tiba ia bersayap, lalu terbang ke angkasa seperti rajawali ” (Amsal 23:4,5).

 

Ironisnya, Raja Israel yang cemerlang ini gagal mengikuti anjurannya sendiri, ia terperangkap dalam materialisme. “Adapun berat emas, yang dibawa kepada Salomo dalam satu tahun ialah seberat enam ratus enam puluh enam talenta, belum terhitung yang dibawa oleh saudagar-saudagar. … Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat”(2 Tawarikh 9:13, 14, 22). Jika kekayaan Raja Salomo masa itu dinilai dengan ukuran kekayaan abad ke 21 ini, maka nilainya kira-kira akan setara dengan setengah milyar dollar (AS) sekarang ini. Raja tersohor ini menjadikan pencarian benda-benda yang bersifat sementara sebagai tujuan utama kehidupannya. Ia mengisi tangan, hati dan waktunya untuk mengumpulkan semua benda-benda berharga ini hingga ia menjadi hamba kekayaan. Kelak dalam kitab Pengkhotbah, Raja Salomo mengisahkan pencariannya yang sia-sia mendapatkan kebahagiaan dari hal-hal yang bersifat kebendaan.

 

Lembaran mata uang dan saldo rekening bank itu dapat menipu. Pada saat baru saja Anda merasa telah memperoleh semua uang yang Anda perlukan, uang itu seolah bersayap dan terbang meninggalkan Anda. Semakin erat Anda mempertahankan harta milik Anda, semakin cepat harta benda tersebut menggelinding pergi. Seperti buah anggur tanpa kulit yang segera meluncur dari tangan, saat Anda berusaha menahan dengan menjepitnya di antara dua jari Anda.

 

Renungkanlah perjalanan uang yang ada dalam dompet Anda hari ini. Kemarin uang itu berada di tangan orang lain, dan besok uang yang sama akan menjadi milik orang lain. Dalam beberapa minggu, tidak seorangpun tahu ke mana uang itu akan pergi. Tidak peduli sekeras apapun upaya Anda, Anda tidak dapat mempertahankan harta milik Anda selamanya. Anda mungkin dapat mencoba menggunting sayapnya, tetapi tetap saja, Anda tidak pernah akan dapat mencegahnya terbang.

 

Dalam penyimpanan, uang dapat saja dimakan rayap atau diambil oleh pencuri. Namun, terdapat beberapa prinsip sederhana yang dapat Anda gunakan untuk memastikan uang Anda tidak terbang secepat elang. Enam aturan sederhana tersebut dirumuskan mengikuti akronim dalam bahasa Inggris “CHANGE”:

 

Choose your investments with the care of prayer. Pilih investasi Anda dengan bertekun dalam doa.

Harness your heart with discipline and direction. Kendalikan hati Anda dengan disiplin dan arahan.

Analyze your securities with diligence and stewardship. Analisa perkembangan investasi Anda dengan teliti dan bertanggungjawab.

Nurture your mind and heart with an eternal perspective. Isi hati dan pikiran Anda dengan hal-hal yang kekal.

Guard your desires and appetites for “more and more.” Kekang keinginan dan nafsu Anda untuk selalu mendapatkan “semakin banyak dan terus semakin banyak.”

Enslave your will to be content with what you have. Kuasai keinginan Anda agar dapat puas

pada apa yang telah Anda miliki

“Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luke 12:15).

 

Disarikan dan diadaptasi dari Take Two On Monday Morning yang ditulis dan diterbitkan oleh Robert D. dan Rick Foster. Ijin untuk memperbanyak dengan mencantumkan nama penulis dan sumber - diperkenankan dan diberikan secara cuma-cuma. Pertanyaan dan komentar dapat dialamatkan pada: 29555 Goose Creek Rd, Sedalia, CO 80135, U.S.A., atau faks (303) 647-2315.

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Menurut Anda mengapa benda-benda berharga secara umum memikat hati kebanyakan orang?
  2. Bertahun-tahun yang lalu, seorang penulis terkemuka menyatakan dirinya sebagai seorang “yang kembali menjadi seorang materialis.” Apakah materialisme - pencarian lebih banyak harta dan hal-hal baru tanpa akhir - menjadi masalah yang Anda hadapi, meski tidak dalam seluruh – hanya dalam sebagian - waktu Anda?
  3. Apakah Anda sependapat dengan pernyataan bahwa memusatkan perhatian dan tenaga pada pencarian kekayaan adalah suatu usaha yang sia-sia, karena akhirnya benda-benda yang berhasil dikumpulkan akan “hilang lenyap”? Jelaskan jawaban Anda.
  4. Adakah di antara prinsip-prinsip yang disebutkan oleh Mr. Foster di akhir “Monday Manna” edisi kali ini yang sejalan dengan pandangan dengan Anda? Jika ada, prinsip (atau prinsip-prinsip) yang manakah itu - dan mengapa?

Ayat-ayat Alkitab berikut ini dapat dijadikan dasar perenungan topik Monday Manna edisi kali ini:

 

Amsal 16:8, 18:11, 19:4; Pengkhotbah 5:8-20; Lukas 18:18-30; Filipi 4:19 (www.sabda.org/alkitab)

Posted by Suzanna L. Siregar at 08:58:42 | Permalink | No Comments »

Daya Pulih

13 Februari 2006 

DAYA PULIH YANG MENAKJUBKAN!

Oleh: Rick Boxx

 

Dr. Dick Wynn, wakil pemimpin utama sebuah organisasi nir-laba terkemuka, dua tahun silam berada di persimpangan antara jalan kehidupan dan jalur pekerjaannya. Setelah bertahun-tahun berhasil menjalankan peran kepemimpinan di strata tertinggi dengan baik, karier Dr. Wynn memasuki tahap baru. Ia merasa mendapat panggilan untuk mulai mengajar prinsip-prinsip Manajemen Keuangan berdasarkan Alkitab kepada berjuta-juta orang di luar Amerika Serikat.

 

Pekerjaan barunya segera memperlihatkan hasil yang memuaskan namun tiba-tiba dan tanpa diduga, Dr. Wynn sudah harus berbaring di ranjang rumah sakit, menantikan kepulihan yang lambat dan menyakitkan akibat kehilangan salah satu kakinya. Komplikasi penyakit diabetes yang dideritanya menyebabkan dokter tidak punya pilihan lain kecuali mengamputasi salah satu kakinya mulai dari lutut ke bawah.

 

Pada suatu malam yang diliputi trauma pasca operasi, Dr. Wynn mulai merasa bahwa masa baktinya bepergian ke pelbagai tempat dan membantu orang lain telah berakhir. Ia merasa putus asa dan siap menyerah, tetapi pagi-pagi benar, saat ia berdoa memohon jawaban dari Allah yang telah dengan setia dilayaninya selama bertahun-tahun, Tuhan memberikan jawaban: “Dick, bukankah engkau ingin menjalani kehidupan seperti yang engkau tulis?”

 

Dr. Wynn pun teringat pada sebuah buku yang tengah ditulisnya, sebuah buku berjudul “The Three R’s of Leadership – Relationships, Results, and Resiliency” (“Tiga Hal Penting dalam Kepemimpinan - Hubungan, Hasil, dan Daya Pulih”). Ia seolah diingatkan pada pengajarannya sendiri bagaimana seorang pemimpin besar haruslah memiliki daya pulih, ia menyadari, meski sedang dihadang pelbagai kesulitan, menyerah sama sekali bukan pilihan.

 

Pada tahun 2005, saya mendapat kehormatan mengikuti retreat di mana pria ini, seorang pengikut Yesus Kristus yang setia, menjadi salah seorang pembicara. Sungguh suatu hal yang meneguhkan hati, melihat bagaimana Dr. Wynn bergerak dari satu gedung ke gedung lainnya tanpa bantuan, kecuali bantuan dari kaki palsunya yang menggantikan kakinya yang diamputasi. Banyak peserta yang baru pertama kali mengikuti retreat tidak mengetahui besarnya upaya dan tekad yang diperlukan oleh Dr. Wynn untuk ambil bagian dalam retreat tersebut.

 

Rasul Yakobus memahami dan mengajarkan pentingnya daya pulih: “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.(Yakobus 1:12). Sebelumnya, masih dalam pasal yang sama, Yakobus menuliskan suatu pernyataan yang sangat mengesankan: “Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun” (Yakobus 1:2-4).

 

Berabad-abad sudah, dunia usaha dibentuk oleh orang-orang yang memiliki visi dan tujuan, orang-orang yang berhasil bertahan - dan mengatasi - pelbagai rintangan dan kesulitan dengan memberdayakan kemampuan pemulihan diri serta meneguhkan tekad pribadi. Beberapa harus berjuang keras mengatasi kesukaran-kesukaran yang melatarbelakangi kehidupan mereka; yang lainnya berhasil mengalahkan hambatan ekonomi, pendidikan atau jasmani.

 

Rahasia kepemimpinan yang berhasil dalam dunia bisnis dan dunia kerja tidak terletak pada penyelesaian sebuah proyek dengan memenuhi semua elemen “Rencana A” sebagaimana yang diharapkan. Kecepatan pulih dari keterkejutan akibat kegagalan Rencana A dan kemudian segera melakukan penjajakan, pengujian dan penerapan “Rencana B” - atau alternatif-alternatif lain - lah yang diperlukan.

 

Apakah kini Anda sedang menghadapi kesukaran yang menyesakkan, rintangan yang tampaknya tidak mungkin Anda atasi dan membuat Anda berpikir untuk berhenti berusaha, menyerah pada kegagalan? Renungkanlah hikmat dan teladan yang diberikan oleh Dr. Wynn saat menghadapi keterbatasan ragawinya. Seorang pemimpin besar memiliki daya pulih.

 

(Copyright 2005, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani. Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.

 

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Pernahkah Anda mengalami kesulitan pribadi yang membuat Anda berpikir untuk menyerah? Mungkin saat ini Anda sedang menghadapi masalah seperti itu? Bantuan-bantuan apa yang Anda perlukan untuk mengatasi masalah tersebut?
  2. Menurut Anda apakah yang dimaksud dengan “daya pulih”? Apakah menurut Anda, Anda memiliki “daya pulih”? Jelaskan jawaban Anda.
  3. Menurut Anda, langkah-langkah apa saja yang perlu diambil dalam proses pembelajaran agar menjadi lebih cepat pulih saat menghadapi kesukaran yang tiba-tiba dan tak terduga datang dalam kehidupan atau pekerjaan?
  4. Apakah iman dan kehidupan rohani berpengaruh terhadap daya pulih, terhadap kemampuan menerima dan mengatasi kesulitan yang tiba-tiba menghadang? Mengapa atau mengapa tidak? Jika ya, dalam bentuk apa pengaruh tersebut dapat dirasakan?
  5.  

 

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini, dapat Anda gunakan sebagai dasar perenungan topik daya pulih:

Kejadian 37, 39-41 (Kisah Yusuf bangkit dari keterpurukan dan kemudian memperoleh wewenang di tanah Mesir); Daniel 1:1-21; Roma 5:3-5; Ibrani 12:5-11 (www.sabda.org/alkitab)

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 08:20:45 | Permalink | No Comments »

Bisnis Ideal

6 Februari 2006

SEPERTI APAKAH BISNIS ATAU FIGUR PROFESIONAL YANG IDEAL BAGI ANDA? 

Oleh: Robert J. Tamasy

 

Andaikan anda harus menciptakan suatu bisnis atau membentuk figur profesional yang ideal, karakter atau sifat apakah yang Anda syaratkan? Di antara karakter-karakter tersebut, manakah karakter yang paling penting - yang menjadi prioritas teratas - menurut pendapat Anda?

 

Apakah figur ideal bagi Anda adalah seseorang yang berhasil mencapai banyak hal, seorang “pelaksana”? Bagaimana dengan figur yang memiliki visi, seseorang yang dapat menjadi inspirasi dan menjadi sosok pembimbing menghadapi tantangan masa depan yang tak pasti? Apakah kejujuran dan integritas menjadi sifat-sifat yang Anda utamakan? Adakah tempat bagi kecerdasan, kemampuan, pengalaman, fleksibilitas, intuisi, bahkan pikiran sehat dalam “rancangan” Anda tentang sosok ideal untuk dunia bisnis di abad ke-21 ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya merujuk pada apa yang disebut sebagai “Perempuan menurut Amsal 31,” seperti yang tertulis dalam pasal terakhir kitab Amsal, suatu bagian Alkitab berupa kumpulan hikmat yang luar biasa. Isi perikop ini mengacu pada gambaran istri teladan bagi seorang pemuka masyarakat. Tetapi, sifat-sifat positif dalam pasal ini juga relevan diterapkan dalam dunia kerja dan bisnis - baik bagi pria maupun wanita. Malahan, seseorang yang memiliki sifat-sifat seperti yang diajukan dalam Amsal ini sangat sesuai menjadi kandidat CEO sebuah perusahaan besar. Mari kita diskusikan beberapa sifat yang dimaksud:

 

Karakter dan reputasi yang baik menjadi hal yang penting. Menjadi sosok yang memegang teguh prinsip moral tidak hanya berdampak positif pada diri pribadi kita saja; tetapi juga memberi citra positif pada organisasi di mana kita bekerja. “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.… Suaminya dikenal di pintu gerbang, kalau ia duduk bersama-sama para tua-tua negeri.…Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya” (Amsal 31:10,23,26)

Dapat dipercaya dan dapat diandalkan meningkatkan kepercayaan orang lain kepada kita. Jika kita dapat dipercaya dan dapat diandalkan saat menghadapi kesulitan atau tekanan, maka nilai kita di mata organisasi akan meningkat. Ketika seseorang meminta kita melakukan sesuatu, orang tersebut berharap mendapatkan kepastian kita melaksanakan pekerjaan itu – dan melakukannya dengan baik. “Hati suaminya percaya kepadanya, suaminya tidak akan kekurangan keuntungan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya” (Amsal 31:11,12).

 

Orang-orang yang rajin dan siap bekerja-keras adalah aset perusahaan. Dalam dunia bisnis, sering kita jumpai orang-orang yang bekerja sekadarnya - tidak mungkin mengharap mereka bekerja lebih giat lagi. Seorang pekerja-keras yang berupaya mencapai keunggulan adalah aset berharga bagi perusahaan. “Ia… senang bekerja dengan tangannya. Ia bangun kalau masih malam, lalu menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagi-bagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan…. Ia mengikat pinggangnya dengan kekuatan, ia menguatkan lengannya” (Amsal 31:13,15,17).

 

Kebijaksanaan pemimpin yang baik tercermin dari caranya menggunakan sumber daya. Para pelaku bisnis yang efektif berjuang memaksimalkan sumber daya penting - manusia, modal, dan kompetensi inti - perusahaan. Mereka mengusahakan sumber daya untuk menjaga kesinambungan produktivitas sekarang maupun masa depan. “Ia membeli sebuah ladang yang diingininya, dan dari hasil tangannya kebun anggur ditanaminya” (Amsal 31:16).

 

Adalah penting untuk tetap berfokus pada “tujuan utama”. Setiap organisasi, baik perusahaan berorientasi laba maupun organisasi nir-laba, harus mengusahakan pendapatan yang memadai untuk membayar semua tagihan dan gaji karyawan. Target yang luar biasa harus diimbangi dengan kondisi keuangan harian yang realistis. “Ia tahu bahwa pendapatannya menguntungkan, pada malam hari pelitanya tidak padam. Ia membuat pakaian dari lenan, dan menjualnya, ia menyerahkan ikat pinggang kepada pedagang” (Amsal 31:18,24).

 

Sumber daya manusia menempati prioritas tertinggi. Para pemimpin yang baik secara berkala memberikan pengakuan atas nilai sumbangsih yang diberikan karyawannya. Mereka tidak melihat manusia sebagai alat pencapaian tujuan, tetapi memperlakukan manusia dengan penuh hormat, adil, dan pengertian serta berupaya peka dan tanggap terhadap kebutuhan setiap pribadi. “Ia memberikan tangannya kepada yang tertindas, mengulurkan tangannya kepada yang miskin” (Amsal 31:20).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 
E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
Pertanyaan Refleksi/Diskusi
  1. Dapatkah Anda mengingat seseorang, yang bahkan meski hanya dalam pikiran, ternyata mempengaruhi nilai ideal Anda bagi suatu bisnis atau figur profesional? Jika ada, sifat-sifat apa saja yang Anda kagumi dari orang tersebut?
  2. Kita mungkin pernah menyaksikan bagaimana orang mencapai kemajuan dan sukses dalam dunia bisnis dengan menerapkan taktik dan perilaku yang kurang baik dan kurang terpuji. Mengapa menurut Anda dalam dunia kerja orang-orang seperti ini seringkali “dianggap” sebagai kurang berbudi-luhur.
  3. Sifat-sifat apa saja yang disebutkan dalam “Perempuan menurut Amsal 31″ yang sangat penting menurut Anda? Jelaskan jawaban Anda.
  4. Menurut Anda adakah gunanya berjuang membangun bisnis atau figur profesional yang ideal? Apakah hal tersebut realistis? Apa nasehat Anda bagi seseorang yang inginmembentuk sifat seperti yang ditulis dalam “Monday Manna” edisi kali ini?
  5.  

 

Sangat dianjurkan, untuk membaca seluruh ayat dalam Amsal 31 (www.sabda.org/alkitab) agar Anda dapat melihat prinsip-prinsip lain yang relevan dan dapat diterapkan di tempat kerja saat ini.

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:21:47 | Permalink | No Comments »