Kepemimpinan
30 Januari 2006
‘KEPEMIMPINAN DARI-BAWAH-KE-ATAS’:
KONDISI IDEAL YANG BELUM BANYAK DITERAPKAN
Oleh: Randal Walti
Cukup mengejutkan juga, meski banyak diskusi dan pujian dilontarkan pada apa yang kita sebut sebagai kepemimpinan “dari-bawah-ke-atas” (“bottom-up“) yang berhasil mengantarkan kesuksesan bagi banyak perusahaan di era 1980-an, namun ternyata strategi yang dianut oleh manajemen perusahaan-perusahaan terkemuka di Amerika Serikat dan di banyak bagian dunia lainnya nyaris tidak berubah.
Tak terhitung banyaknya kritik pedas yang dilemparkan oleh para pakar manajemen dan kepemimpinan terhadap sistem manajemen hierarkis “dari-atas-ke-bawah” yang mendominasi perusahaan-perusahaan baik di Amerika maupun di pelbagai penjuru dunia sejak tahun 1950-an, tetapi tetap saja hal tersebut tidak membawa perubahan yang berarti.
Tidaklah mengejutkan bila manajemen organisasi raksasa seperti MCI, Enron dan perusahaan-perusahaan lain tiba-tiba terjerumus dalam skandal perekayasaan “angka-angka fiktif” - mereka mengabaikan kebenaran, mengabaikan kenyataan yang benar-benar terjadi dalam perusahaan-perusahaan mereka. Salah satu penyebab tindakan tidak etis seperti ini adalah karena kebiasaan memanipulasi proses dan laporan demi mencapai target biaya atau laba, sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh para eksekutif di strata tertinggi, sesuatu yang sebenarnya dapat diperbaiki dengan menerapkan pemberdayaan manajemen “dari-bawah-ke-atas.”
Mengapa diperlukan waktu yang lama untuk menyadari bahwa manusia lebih penting dari angka-angka? Mengapa sangat sulit menerima kenyataan bahwa bila kita memperlakukan karyawan dan pelanggan sebagaimana kita ingin diperlakukan, maka biasanya bisnis justru akan makin berkembang? Pemberdayaan “dari-bawah-ke-atas” mengenali mereka yang berada di strata paling bawah, yaitu mereka yang berada paling dekat dengan pekerjaan utama sebagai aset perusahaan, mereka adalah sumber informasi terbesar dan paling akurat mengenai apa yang diperlukan oleh perusahaan atau apa yang diinginkan oleh pelanggan.
Alkitab, yang ditulis dan disusun hampir 2000 tahun yang lalu, ternyata mencantumkan pengamatan yang masih sangat sesuai dengan masa sekarang ini mengenai perbedaan antara kepemimpinan “dari-atas-ke-bawah” dan “dari-bawah-ke-atas.” Jika dengan seksama diperhatikan, dalam keseluruhan Alkitab, kata “kepemimpinan” hanya muncul enam kali, sementara kata “hamba” disebutkan 46 kali hanya dalam kitab Kejadian saja.
Kata “hamba” (“servant“) dalam Perjanjian Lama dan “pelayan” (“minister“) dalam Perjanjian Baru memiliki makna yang sangat mirip. Keduanya mengacu pada “pengayuh di geladak bawah”, yaitu mereka yang berada di bagian terbawah dalam kapal yang membawa para budak belian. Mereka dirantai agar tidak meninggalkan posisi mereka dan dipaksa melakukan pekerjaan paling berat karena harus mengayuh menantang arus laut terdalam. Agar mereka tidak mati kepanasan, langit-langit di atas para budak ini hanya dibuat dari kisi-kisi besi - yang merupakan “lantai” tempat budak di geladak tengah dan di geladak atas duduk mengayuh. Budak-budak di bagian terbawah ini tidak saja terikat hingga tidak mungkin meninggalkan tempat mereka dan dipaksa mengerjakan bagian terberat, tetapi juga harus menderita kehinaan karena kotoran dan peluh manusia jatuh ke atas kepala mereka. Sungguh suatu gambaran yang mencekam, bukan?
Alkitab mengajarkan arti menjadi pelayan sejati, yaitu dengan menjadikan Allah Sang Khalik sebagai target utama kepatuhan, dan menyadari bahwa peran dalam organisasi adalah bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, tak peduli betapa hina dan tidak menyenangkannya jalan yang harus ditempuh. Andaikan Anda menjadi pemimpin seperti ini, pemimpin yang berkenan merendahkan diri, maka karyawan dan teman sekerja Anda akan meniru teladan Anda, baik dalam masa-masa sulit maupun dalam saat-saat menyenangkan!
Dalam Markus 10:43-44, Yesus Kristus melukiskan prinsip ini sebagai berikut: “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Ia juga memaparkan panggilan-Nya menjadi pelayan paling hina melalui kesediaan-Nya menanggung kematian di atas kayu salib sebagai tebusan bagi dosa umat manusia. Dalam ayat berikutnya, Yesus berkata, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
Diadaptasi dengan ijin dari artikel karya Randal Walti, seorang konsultan bisnis yang berdomisili di Titusville, Florida, A.S. Ia juga adalah penulis majalah berbasis e-mail, “Business Life Today.” Situs-webnya dapat diakses di www.buslifetoday.com.
CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
Pertanyaan Refleksi/Diskusi
-
Bagaimana Anda menggambarkan filosofi kepemimpinan dalam perusahaan atau organisasi Anda - apakah “dari-atas-ke-bawah” atau “dari-bawah-ke-atas”? Berikan beberapa contoh penerapan kepemimpinan tersebut.
-
Menurut pendapat Anda, mengapa perusahaan-perusahaan sangat jarang mempercayakan tanggung-jawab kepemimpinan yang penting kepada manajemen strata rendah, padahal manajemen di tingkat ini mengetahui secara langsung dan spesifik apa yang dibutuhkan perusahaan dan karyawan? Apakah menurut Anda, hal tersebut disebabkan oleh ketidak-percayaan eksekutif tingkat tinggi pada kemampuan manajemen di strata bawah untuk mengambil keputusan yang tepat, atau karena para eksekutif tingkat tinggi tidak bersedia menyerahkan kendali? Jelaskan jawaban Anda.
-
Apa tanggapan Anda tentang gambaran “pengayuh di geladak bawah” dalam kepemimpinan, sebagaimana yang diajarkan Alkitab? Apakah pendekatan seperti ini masih realistis diterapkan dalam dunia kerja dan bisnis di abad ke 21 ini? Mengapa atau mengapa tidak
-
Renungkanlah gaya kepemimpinan Anda dan bagaimana Anda menerapkan kepemimpinan. Setelah membaca “Monday Manna” edisi minggu ini adakah perubahan sudut pandang atau penerapan kepemimpinan yang ingin Anda lakukan - atau harus Anda lakukan? Jika ya, perubahan-perubahan apa yang akan Anda lakukan? Dan bagaimana Anda mulai menerapkannya?Berikut adalah ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan kepemimpinan ala pelayan:1 Korintus 12:14-26; Galatia 5:13-14; Efesus 6:5-9; Filipi 2:3,4 www.sabda.org/alkitab
Posted by in 08:20:34