Reputasi
28 November 2005
MENGAPA MEMBANGUN REPUTASI YANG BIASA-BIASA SAJA?
Oleh: Robert D. Foster
“Reputasi yang baik adalah suatu tanggung jawab besar” (Thomas Fuller, 1654-1734). Pernahkah terpikir oleh Anda arti suatu reputasi yang baik, sesuatu yang oleh Fuller disebut sebagai “tanggung jawab yang besar” – atau apakah yang menjadi dasar pembentukan suatu reputasi yang tak tertandingi? Henry Ford seorang pengusaha terkemuka mendefinisikan reputasi dalam kalimat berikut: “Anda tidak dapat membangun suatu reputasi berdasarkan apa yang akan Anda lakukan.”
Berkenaan dengan topik ini, bertahun-tahun yang lalu dalam pariwaranya, baik di Inggris maupun di Amerika Utara, perusahaan minyak Esso mengungkapkan nilai yang dianutnya:
“Hal yang biasa-biasa (Mediocrity) itu sungguh menyenangkan. Sebab sangatlah mudah menjalankan kegiatan yang tidak didasarkan pada standar terbaik; kita bahkan dapat melakukannya dengan santai. Setia pada reputasi yang baik jauh lebih sulit. Karena itu berarti kita harus mengukur keberhasilan setiap hari dengan standar tertinggi yang sudah ditetapkan sebelumnya; hal ini, memaksa kita memberdayakan seluruh kemampuan.”
“Bagi seseorang, yang hanya peduli pada jalur tunggal dalam kehidupannya, mencapai reputasi yang baik tidaklah terlalu sukar. Tetapi bagi suatu industri, yang katakanlah, harus memproduksi ribuan ton setiap jam, pencapaian reputasi yang baik membutuhkan baik perhatian sepenuhnya pada mutu maupun pencarian tanpa akhir bagaimana meningkatkan mutu. Tanpa perhatian penuh dan pencarian terus-menerus seperti itu, reputasi yang sukar-ditandingi tidak akan bertahan lama. Tidak perlu perjuangan mempertahankan standar yang biasa-biasa saja; tetapi reputasi yang baik dibentuk-ulang setiap hari.”
Merenungkan reputasi, cenderung membuat kita mengaitkannya dengan integritas, kejujuran, dan sifat-sifat lain. Tetapi lebih dalam dari itu, Esso Oil merasa perlu dengan tegas membedakan antara kinerja biasa-biasa saja dengan komitmen mencapai keunggulan. Menarik untuk direnungkan, istilah “mediocre” – yang berarti keadaan yang tidak-bagus-tetapi-tidak-juga-buruk, atau biasa-biasa saja – berasal dari kata dalam Bahasa Latin, mediocris, yang berarti, “di bawah puncak.” Menjadi biasa-biasa saja dalam pekerjaan – atau apapun yang kita lakukan – berarti bekerja di bawah puncak kemampuan.
Seseorang pernah menggambarkan “menjadi tua” sebagai keadaan di mana seseorang berlari dalam lingkaran mengitari dataran tinggi terakhir dicapainya. Hidup dapat diibaratkan sebagai pendakian dari satu dataran tinggi ke dataran tinggi yang lain. Setelah mencapai suatu dataran tinggi, kita dapat berhenti untuk sejenak beristirahat, kemudian kembali bangkit dan mulai mendaki menuju dataran yang lebih tinggi lagi. Pada saat kita mencapai suatu dataran tinggi dan merasa puas lalu hanya berlari di seputar lingkaran-lah kita disebut tua, tidak peduli entah kita berusia 25, 45, atau 85 tahun! Kehidupan akan menjadi biasa-biasa saja manakala kita menengadah menatap puncak gunung tetapi menolak melanjutkan pendakian. Kita kehilangan minat mencapai puncak.
Raja Salomo dari Israel, yang karena hikmatnya hingga sekarang tetap menyandang reputasi sebagai salah seorang paling bijaksana yang pernah hidup, beribu-ribu tahun yang lalu menulis: “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Amsal 22:1).
Di toko peralatan kantor, Anda dapat menemukan begitu banyak ragam barang – komputer dan monitor, berbagai jenis dan warna kertas, alat tulis, perabot, pensil dan pena, serta pelengkap meja tulis. Tetapi Anda tidak akan pernah menemukan “Bagian Reputasi,” karena reputasi bukanlah sesuatu yang bisa dibeli. Reputasi karena kualitas kerja dan komitmen mencapai keunggulan hanya dapat diperoleh dengan membangunnya sedikit demi sedikit secara berkesinabungan dari waktu ke waktu.
Kita cenderung hanya menaruh perhatian pada pencapaian tujuan jangka pendek: “Lihat apa yang saya lakukan!” Padahal reputasi lebih merupakan refleksi dari keseluruhan perjalanan hidup, dan dari pengalaman, saya belajar memahami kenyataan bahwa Allah ternyata jauh lebih peduli pada arah perjalanan hidup dan bukan pada pencapaian pribadi. Jadi “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).
Diambil dan disarikan dari The Challenge, yang ditulis dan diterbitkan oleh Robert D. dan Rick Foster. Ijin memperbanyak dengan mencantumkan nama pengarang dan penerbit diberikan dengan cuma-cuma. Pertanyaan atau komentar dapat dikirimkan ke alamat: 29555 Goose Creek Rd, Sedalia, CO 80135, U.S.A., atau faks (303) 647-2315
CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
Pertanyaan Refleksi/Diskusi
-
Apakah Anda sependapat dengan pernyataan Thomas Fuller bahwa reputasi yang baik adalah tanggung jawab besar? Mengapa atau mengapa tidak?
-
Sudahkah Anda memperhitungkan kualitas kerja Anda sebagai bagian penting dari reputasi Anda sebagai pelaku bisnis atau tenaga profesional? Jelaskan jawaban Anda.
-
Sekarang juga, evaluasilah pekerjaan Anda, dapatkah Anda mengatakan bahwa Anda masih terus berjuang mencapai puncak, atau Anda telah mencapai dataran tinggi di mana Anda sudah merasa puas dengan hanya berlari seputar lingkaran, dan tidak lagi berniat mendaki lebih tinggi? Menurut Anda apa pendapat teman-teman yang bekerja bersama Anda mengenai kualitas pekerjaan Anda?
-
Dalam Alkitab (Kolose 3:23) terdapat pengajaran yang menyatakan apapun juga yang kita perbuat, haruslah kita perbuat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Apakah pernyataan ini dapat meningkatkan cara Anda melakukan pekerjaan?
Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan untuk merenungkan kualitas kerja kita:
Mazmur 37:3-6; Amsal 16:3, 21:2; Kolose 1:10, 3:17; 1Tesalonika 2:7-9
Posted by in 07:52:06