Monday, February 20, 2006

Kepemimpinan

30 Januari 2006
 
‘KEPEMIMPINAN DARI-BAWAH-KE-ATAS’:
KONDISI IDEAL YANG BELUM BANYAK DITERAPKAN
Oleh: Randal Walti
Cukup mengejutkan juga, meski banyak diskusi dan pujian dilontarkan pada apa yang kita sebut sebagai kepemimpinan “dari-bawah-ke-atas” (“bottom-up“) yang berhasil mengantarkan kesuksesan bagi banyak perusahaan di era 1980-an, namun ternyata strategi yang dianut oleh manajemen perusahaan-perusahaan terkemuka di Amerika Serikat dan di banyak bagian dunia lainnya nyaris tidak berubah.
 
Tak terhitung banyaknya kritik pedas yang dilemparkan oleh para pakar manajemen dan kepemimpinan terhadap sistem manajemen hierarkis “dari-atas-ke-bawah” yang mendominasi perusahaan-perusahaan baik di Amerika maupun di pelbagai penjuru dunia sejak tahun 1950-an, tetapi tetap saja hal tersebut tidak membawa perubahan yang berarti.
 
Tidaklah mengejutkan bila manajemen organisasi raksasa seperti MCI, Enron dan perusahaan-perusahaan lain tiba-tiba terjerumus dalam skandal perekayasaan “angka-angka fiktif” - mereka mengabaikan kebenaran, mengabaikan kenyataan yang benar-benar terjadi dalam perusahaan-perusahaan mereka. Salah satu penyebab tindakan tidak etis seperti ini adalah karena kebiasaan memanipulasi proses dan laporan demi mencapai target biaya atau laba, sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh para eksekutif di strata tertinggi, sesuatu yang sebenarnya dapat diperbaiki dengan menerapkan pemberdayaan manajemen “dari-bawah-ke-atas.”
 
Mengapa diperlukan waktu yang lama untuk menyadari bahwa manusia lebih penting dari angka-angka? Mengapa sangat sulit menerima kenyataan bahwa bila kita memperlakukan karyawan dan pelanggan sebagaimana kita ingin diperlakukan, maka biasanya bisnis justru akan makin berkembang? Pemberdayaan “dari-bawah-ke-atas” mengenali mereka yang berada di strata paling bawah, yaitu mereka yang berada paling dekat dengan pekerjaan utama sebagai aset perusahaan, mereka adalah sumber informasi terbesar dan paling akurat mengenai apa yang diperlukan oleh perusahaan atau apa yang diinginkan oleh pelanggan.
 
Alkitab, yang ditulis dan disusun hampir 2000 tahun yang lalu, ternyata mencantumkan pengamatan yang masih sangat sesuai dengan masa sekarang ini mengenai perbedaan antara kepemimpinan “dari-atas-ke-bawah” dan “dari-bawah-ke-atas.” Jika dengan seksama diperhatikan, dalam keseluruhan Alkitab, kata “kepemimpinan” hanya muncul enam kali, sementara kata “hamba” disebutkan 46 kali hanya dalam kitab Kejadian saja.
 
Kata “hamba” (“servant“) dalam Perjanjian Lama dan “pelayan” (“minister“) dalam Perjanjian Baru memiliki makna yang sangat mirip. Keduanya mengacu pada “pengayuh di geladak bawah”, yaitu mereka yang berada di bagian terbawah dalam kapal yang membawa para budak belian. Mereka dirantai agar tidak meninggalkan posisi mereka dan dipaksa melakukan pekerjaan paling berat karena harus mengayuh menantang arus laut terdalam. Agar mereka tidak mati kepanasan, langit-langit di atas para budak ini hanya dibuat dari kisi-kisi besi - yang merupakan “lantai” tempat budak di geladak tengah dan di geladak atas duduk mengayuh. Budak-budak di bagian terbawah ini tidak saja terikat hingga tidak mungkin meninggalkan tempat mereka dan dipaksa mengerjakan bagian terberat, tetapi juga harus menderita kehinaan karena kotoran dan peluh manusia jatuh ke atas kepala mereka. Sungguh suatu gambaran yang mencekam, bukan?
 
Alkitab mengajarkan arti menjadi pelayan sejati, yaitu dengan menjadikan Allah Sang Khalik sebagai target utama kepatuhan, dan menyadari bahwa peran dalam organisasi adalah bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, tak peduli betapa hina dan tidak menyenangkannya jalan yang harus ditempuh. Andaikan Anda menjadi pemimpin seperti ini, pemimpin yang berkenan merendahkan diri, maka karyawan dan teman sekerja Anda akan meniru teladan Anda, baik dalam masa-masa sulit maupun dalam saat-saat menyenangkan!
 
Dalam Markus 10:43-44, Yesus Kristus melukiskan prinsip ini sebagai berikut: “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” Ia juga memaparkan panggilan-Nya menjadi pelayan paling hina melalui kesediaan-Nya menanggung kematian di atas kayu salib sebagai tebusan bagi dosa umat manusia. Dalam ayat berikutnya, Yesus berkata, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
 
Diadaptasi dengan ijin dari artikel karya Randal Walti, seorang konsultan bisnis yang berdomisili di Titusville, Florida, A.S. Ia juga adalah penulis majalah berbasis e-mail, “Business Life Today.” Situs-webnya dapat diakses di www.buslifetoday.com.
 
CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
 
Pertanyaan Refleksi/Diskusi
  1. Bagaimana Anda menggambarkan filosofi kepemimpinan dalam perusahaan atau organisasi Anda - apakah “dari-atas-ke-bawah” atau “dari-bawah-ke-atas”? Berikan beberapa contoh penerapan kepemimpinan tersebut.
  2. Menurut pendapat Anda, mengapa perusahaan-perusahaan sangat jarang mempercayakan tanggung-jawab kepemimpinan yang penting kepada manajemen strata rendah, padahal manajemen di tingkat ini mengetahui secara langsung dan spesifik apa yang dibutuhkan perusahaan dan karyawan? Apakah menurut Anda, hal tersebut disebabkan oleh ketidak-percayaan eksekutif tingkat tinggi pada kemampuan manajemen di strata bawah untuk mengambil keputusan yang tepat, atau karena para eksekutif tingkat tinggi tidak bersedia menyerahkan kendali? Jelaskan jawaban Anda.
  3. Apa tanggapan Anda tentang gambaran “pengayuh di geladak bawah” dalam kepemimpinan, sebagaimana yang diajarkan Alkitab? Apakah pendekatan seperti ini masih realistis diterapkan dalam dunia kerja dan bisnis di abad ke 21 ini? Mengapa atau mengapa tidak
  4. Renungkanlah gaya kepemimpinan Anda dan bagaimana Anda menerapkan kepemimpinan. Setelah membaca “Monday Manna” edisi minggu ini adakah perubahan sudut pandang atau penerapan kepemimpinan yang ingin Anda lakukan - atau harus Anda lakukan? Jika ya, perubahan-perubahan apa yang akan Anda lakukan? Dan bagaimana Anda mulai menerapkannya?

     
    Berikut adalah ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan kepemimpinan ala pelayan:
    1 Korintus 12:14-26; Galatia 5:13-14; Efesus 6:5-9; Filipi 2:3,4 www.sabda.org/alkitab
Posted by Suzanna L. Siregar at 08:20:34 | Permalink | No Comments »

Masa Depan

23 Januari 2006

BAGAIMANA ANDA MENGHADAPI MASA DEPAN, DENGAN KEGENTARAN ATAU DENGAN ANTISIPASI?

Oleh: Robert J. Tamasy

 

Mendengar kata “masa depan”, apakah yang terbersit dalam pikiran Anda? Perasaan apa yang timbul dalam hati Anda? Apakah Anda merasa bersemangat, bertekad-bulat dan siap melakukan antisipasi? Atau Anda merasakan ketakutan? Menyebabkan Anda dalam kebimbangan, kegelisahan, ketidakpastian, bahkan merasa tak berdaya?

Masalah utama dengan masa depan adalah tidak seorangpun tahu apa yang akan terjadi pada masa depan. Seperti buku yang lembaran halamannya terbuka satu per satu, demikianlah masa depan terbuka bagi kita sehari demi sehari disertai bayangan tentang apa yang mungkin atau akan terjadi pada hari-hari, minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang - sama sekali tanpa jaminan dan bukan juga suatu janji yang pasti.

 

Ketidakpastian itu jugalah yang membuat saya sangat terkesan pada pernyataan seorang ahli manajemen terkemuka Peter Drucker. Dalam bukunya yang berjudul The Daily Drucker: 366 Days of Insight and Motivation for Getting the Right Things Done (Risalah Harian Drucker: 366 hari Mendapatkan Hikmat dan Motivasi untuk Mewujudkan Hal-Hal yang Benar), yang merupakan kumpulan pemikiran yang disarikan dari buku-bukunya, Drucker mengajukan pemikiran tentang perencanaan jangka panjang, di tengah ketidakpastian masa depan:

“Masa depan berarti membuat keputusan – lakukan sekarang juga. Masa depan berarti berani menanggung resiko – lakukan sekarang juga. Masa depan membutuhkan alokasi sumber daya, utamanya sumber daya manusia – lakukan sekarang juga. Masa depan membutuhkan kerja keras – lakukan sekarang juga.”

 

Terdapat dua cara pandang ekstrem tentang masa depan - tidak melakukan apapun dan hanya membiarkan masa depan “terjadi” atas hidup kita, atau menjadi begitu terobsesi dengan merencanakan segala sesuatu untuk setiap minggu, setiap bulan dan setiap tahun mendatang sehingga kita tidak dapat menghargai masa sekarang. Sebenarnya ada cara pandang ketiga. Yaitu dengan menjalankan pekerjaan dan kebijakan, berdasarkan apa yang kita ketahui dan apa yang dapat kita antisipasi, tanpa memungkiri bahwa bahkan perencanaan paling sempurnapun tidak lepas dari ancaman kegagalan akibat kejadian-kejadian tak terduga dalam dunia bisnis dan ekonomi.

Kitab kuno Amsal menggunakan kehidupan semut yang sederhana sebagai teladan menghadapi masa depan: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen” (Amsal 6:6-8).

Semut-semut memang tidak dapat mencanangkan perencanaan strategi jangka panjang, tetapi secara naluriah mereka mengetahui bagaimana bertahan dalam musim dingin, bagaimana menghadapi kelangkaan makanan, mereka dengan rajin mengumpulkan makanan selama makanan masih tersedia. Dengan cara serupa, para pemimpin bisnis yang bijaksana tidak berpuas-diri ketika mengalami kejayaan dan tidak panik ketika menghadapi kemunduran usaha yang tiba-tiba terjadi, mereka dengan bijaksana bersiaga menghadapi segala keadaan. entah itu baik atau buruk. Di atas segalanya Alkitab mengingatkan bahwa merencanakan masa depan tidaklah sama dengan mencemaskan masa depan, juga berbeda dengan bersandar sepenuhnya pada masa depan.

Jangan kuatir akan masa depan. Kekuatiran kelihatannya membuat kita produktif karena kita seolah mengerahkan banyak pikiran dan perasaan, padahal sesungguhnya kekuatiran adalah sesuatu yang sia-sia karena melibatkan banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan. Dan kebanyakan hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34).

Jangan bersandar sepenuhnya pada masa depan. Perencanaan yang baik memang bernilai tinggi, tetapi juga harus cukup fleksibel menghadapi perubahan atau perkembangan tak terduga. Jangan hanya berpedoman pada keberhasilan rencana A; siapkan juga rencana B. “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu” (Amsal 27:1).

Jangan meremehkan peran Allah dalam masa depan. Seseorang pernah berujar, “Bekerjalah seolah semua tergantung pada Anda - dan berdoalah seolah segalanya tergantung pada Allah.” Kegagalan mengenali keterlibatan Allah dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari dapat menjadi pangkal kegagalan perusahaan Anda. “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: ‘Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung’, sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok.… Sebenarnya kamu harus berkata: ‘Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu’” (Yakobus 4:13 - 15)

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapa dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749

 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Secara umum bagaimana Anda memandang masa depan? Apakah secara positif dan penuh pengharapan, atau berdasarkan pengalaman di masa lalu, Anda memandang masa depan dengan pesimis dan penuh keraguan? Atau kombinasi keduanya? Jelaskan jawaban Anda.
  2. Dalam fabel “Belalang dan Semut,” sang belalang menghadapi masa depan dengan santai dan baru bertindak setelah masalah terjadi, sementara semut, seperti, yang juga digambarkan dalam ayat dalam kitab Amsal, dengan seksama mempersiapkan diri menghadapi kesulitan-kesulitan masa depan yang secara naluriah mereka ketahui akan terjadi. Saat Anda mengerjakan tugas sehari-hari, apakah Anda melihat diri Anda lebih seperti sang belalang atau lebih seperti sang semut? Berikan contoh.
  3. Apakah Anda sering menguatirkan masa depan, gentar menghadapi apa yang akan terjadi? Jika demikian, apakah kekuatiran tersebut bermanfaat bagi Anda? Jika Anda bukanlah seseorang yang terlalu menguatirkan masa depan, bagaimana Anda mengatasi ketakutan yang timbul karena tekanan peristiwa-peristiwa tak terduga yang terjadi dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari?
  4. Apa peran hidup kerohanian (spiritualitas), jika ada, sehubungan dengan masa depan? Apakah Anda percaya Allah campur-tangan secara langsung dan aktif dalam kehidupan sehari-hari? Mengapa atau mengapa tidak?

Berikut adalah ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan topik mengantisipasi dan merencanakan masa depan:

Amsal 3:5,6; Yesaya 26:3, 41:10; Filipi 4:6,7; 1 Petrus 5: 7 www.sabda.org/alkitab

 

 

 

 

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:58:04 | Permalink | No Comments »

Uang dan Saham

16 Januari 2006

SEKALI LAGI TENTANG UANG DAN SAHAM

Oleh: Robert Foster


Bagi masyarakat Amerika Serikat, Banteng (The Bulls) dan Beruang (The Bears) tidak hanya dikaitkan dengan tim bola basket dan tim sepakbola (American Football) profesional dari Chicago. Kedua istilah ini (paling tidak kini masih menjadi trend) dipakai dalam sistem keuangan di Amerika serikat. Menjadi kebiasaan bagi berjuta-juta pelaku bisnis, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di seluruh penjuru dunia, meninjau-ulang laporan bursa saham di sela-sela rehat kopi menjelang tengah hari. Apakah bursa mengalami “bullish” (yang artinya secara keseluruhan saham mengalami peningkatan harga) atau apakah “beruang-beruang” (the “bears”) sudah ditaklukkan, ungkapan yang mengisyaratkan penurunan ekonomi dalam suatu selang waktu yang tak jelas?

 

Dalam perjalanan kereta api menuju kantor atau ketika terjebak dalam kemacetan lalu-lintas pagi hari, para eksekutif yang sangat terikat pada waktu seakan serentak mengajukan pertanyaan tajam berikut: “Apakah pasar bergerak naik atau turun?” Mereka membaca Wall Street Journal untuk mengetahui apa yang sedang terjadi; mereka membolak-balik Nation’s Business untuk menemukan cara menanggulangi apa yang sedang terjadi, dan mereka membaca majalah FORTUNE untuk mengetahui para aktor di balik segala kejadian ekonomi tersebut! Sama sekali bukan aktivitas yang buruk. Para profesional dan pelaku bisnis yang bijaksana memang sepatutnya senantiasa berusaha memperoleh informasi terkini mengenai kecenderungan pasar yang mempengaruhi kondisi keuangan usaha mereka. Namun, pengalaman panjang selama bertahun-tahun telah mengajarkan pada saya suatu pelajaran penting tentang investasi. Pastikanlah saham, surat-surat berharga, dan investasi-investasi lainnya tidak bertentangan dengan prinsip hikmat manajemen keuangan dalam Alkitab.

Pastikanlah bahwa angka-angka yang terpampang di papan Bursa Saham tidak menjadi lebih penting atau mengendalikan perhatian Anda lebih dari prinsip-prinsip Alkitabiah tentang mencari, mengelola dan menginvestasikan uang. Secara sederhana, pastikanlah hal-hal yang sementara tidak akan menggantikan hal-hal yang kekal.

 

Perspektif yang benar mengenai hal tersebut dapat kita peroleh dari kisah Ayub menanggapi segala penderitaan pribadi maupun keuangan yang tertulis dalam Alkitab. Tragedi demi tragedi yang terjadi dalam hidupnya membuat Ayub secara sungguh-sungguh dan sejujur-jujurnya menemukan apa yang paling penting dalam kehidupannya. “Jikalau aku menaruh kepercayaan kepada emas, jikalau aku bersukacita, karena kekayaanku besar … maka hal itu juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim, karena Allah yang di atas telah kuingkari” (Ayub 31:24-28).

Akan menjadi suatu investasi - dalam bentuk waktu - yang bermanfaat jika Anda dapat membaca dan mempelajari riwayat Ayub, yang terletak tepat di tengah Perjanjian Lama. Dalam keadaan benar-benar tak berdaya dikepung “kepailitan”, Ayub masih harus mempertahankan keseimbangan integritas moral berikut ini: Pada uangkah saya letakkan kepercayaan saya? Apakah kekayaan dapat menjamin kebahagiaan pribadi dan keluarga?

Meski tidak terlihat nyata sesungguhnya investasi dalam bentuk uang dan kekayaan dapat menjadi suatu investasi yang sia-sia. Melakukan investasi dengan membeli saham-saham blue-chip memang baik, tetapi masih ada yang jauh lebih baik. Menurut saya, melakukan evaluasi investasi dan sekuritas pada Allah Sang Maha Kuasa setiap hari jauh lebih penting daripada melakukan investasi pada perusahaan-perusahaan terkemuka seperti DuPont atau GE, Microsoft atau GM. Memang kebanyakan dari kita menyimpan kekayaan dalam “kantong yang berlubang.”

Allah tidak membutuhkan uang atau saham Anda, tetapi Ia benar-benar membutuhkan diri Anda! Ia bahkan dapat saja menanggalkan seluruh kekayaan Anda dari keberadaan diri Anda, sebagaimana yang dilakukan-Nya pada Ayub, untuk mengetahui siapa yang mengendalikan apa dan mengapa. Apakah Anda yang mengendalikan “kekayaan” Anda, atau kekayaan Anda yang mengendalikan Anda? Yesus dengan tegas memberikan nasehat berikut: “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6: 19 – 21).

 

Ayat Alkitab lainnya menyimpulkan kebenaran ini dengan cara yang sedikit berbeda: “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7).

 

Disarikan dan diadaptasi dari Take Two On Monday Morning yang ditulis dan diterbitkan oleh Robert D. dan Rick Foster. Ijin untuk memperbanyak dengan mencantumkan nama penulis dan sumber - diperkenankan dan diberikan secara cuma-cuma. Pertanyaan dan komentar dapat dialamatkan pada: 29555 Goose Creek Rd, Sedalia, CO 80135, U.S.A., atau faks (303) 647-2315.

 

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749

E-MAIL: mmanna@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

 

 

  

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Seberapa tekun ada mengikuti perkembangan investasi keuangan Anda? Apakah Anda mengenal seseorang yang dapat dikatakan terobsesi mengikuti perkembangan investasi dari hari ke hari? Apa pendapat Anda tentang keterikatan seperti itu?
  2. Investasi terbaik apakah yang pernah Anda lakukan? Jelaskan mengapa menurut Anda investasi tersebut bernilai tinggi?
  3. Menurut pendapat Anda apakah hikmat kuno dalam kisah Ayub, yang menilai-ulang kehidupannya dan hal-hal yang dianggapnya penting setelah mengalami kehilangan segalanya (termasuk anak-anak dan harta kekayaan), dapat menjadi pedoman bagi kita? Mengapa atau mengapa tidak.
  4. Bagi Anda secara pribadi, bagaimanakah membandingkan pentingnya investasi yang sementara dengan investasi yang kekal? Apakah kini Anda sedang mengumpulkan “harta di bumi”, “harta di surga”, atau Anda sedang berusaha melakukan keduanya? Jelaskan jawaban Anda.   Jika Anda berencana mulai mengumpulkan harta di sorga, atau mulai menekankan pentingnya mengumpulkan harta di sorga dalam kehidupan Anda, bagaimana Anda mewujudnyatakan rencana tersebut?

    Berikut adalah ayat-ayat Alkitab yang berkenaan dengan topik edisi kali ini:

    Amsal 11:8, 11:28, 15:6, 18:11; Yesaya 55:1-2; Matius 6:24-34; Lukas 19:11-26  www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:22:32 | Permalink | No Comments »

Panggilan Hidup

9 Januari 2006

APAKAH ANDA MEMENUHI PANGGILAN HIDUP ANDA?

Oleh: Rick Boxx

Beberapa waktu yang lalu, putri saya dengan sangat mengesankan mengajarkan kebijakan suatu teladan menyangkut hal bekerja, suatu teladan yang layak menjadi renungan.

 

Renungkanlah fakta berikut: Mengapa seorang remaja putri berusia 15 tahun bersedia menghabiskan libur Musim Panasnya untuk melayani seorang bocah lelaki penderita autisme - remaja putri ini juga harus membayar untuk kesempatan kerja tersebut? Pertanyaan itulah yang terbersit dalam benak, ketika saya dan keluarga mengunjungi Perkemahan Barnabas, perkemahan yang berlokasi di Purdy, Missouri ini menyediakan fasilitas berkemah bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Anak perempuan saya, Megan, dan banyak remaja lain yang luar biasa di Perkemahan Barnabas, menggunakan waktu libur seminggunya untuk merawat dan menunjukkan kasih dan perhatian kepada seorang anak berkebutuhan khusus.

 

Para remaja ini tetap membayar biaya perkemahan, meski memperoleh potongan harga sebagai imbalan melayani anak-anak lain. Ketika saya menanyakan mengapa ia mau bekerja - dan harus pula membayar kesempatan kerja itu - Megan menjawab, “Supaya saya dapat berkemah di tempat yang hebat ini sekaligus bekerja dengan anak-anak yang luar biasa ini.”

 

Awalnya, Megan dijadualkan bekerja di dapur, tetapi saya percaya Allah mengatur sedemikan rupa hingga akhirnya ia menerima panggilan selama seminggu mengalami kesempatan luar biasa melayani seorang anak berkebutuhan khusus. Suatu pengalaman indah dan tak terlupakan, pengalaman sekali seumur hidup bagi Megan. Bayangkan harus membayar untuk kesempatan melayani mereka yang kurang beruntung - dan menikmati setiap menit kesempatan tersebut.

 

Sungguh bertolak-belakang dengan apa yang sering kita alami di tempat kerja. Lebih dari setengah orang dewasa dalam suatu survei menyatakan tidak menyukai pekerjaan mereka. Mereka malah menganggap pekerjaan mereka sebagai “kejahatan yang terpaksa dilakukan,” dan semata-mata melakukan perkerjaan tersebut demi mengumpulkan uang untuk menunjang gaya hidup yang mereka pilih. Orang-orang yang berpendapat seperti ini tidak suka melihat jam menunjukkan waktu untuk berangkat kerja, dan tidak sabar menunggu jam menunjukkan waktu untuk pulang.

 

Menurut Anda apa yang membedakan mereka yang menyukai pekerjaannya dengan mereka yang membenci pekerjaan mereka? Mungkin akan banyak jawaban yang berbeda, tetapi menurut saya ada satu hal mendasar yang membedakannya, sesuatu yang berkaitan dengan panggilan dan tuntunan Allah bagi kehidupan kita.

 

Jika Anda memenuhi panggilan Allah, Ia akan memperlengkapi dan memberkati hingga Anda mampu menunaikan panggilan itu, Anda juga akan mengalami kesukacitaan dan bukan kepedihan dalam pekerjaan. Raja Salomo, dalam Pengkhotbah 5:19-20, menuliskan nasehat bijak ini, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itupun karunia Allah. Tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.

 

Berabad-abad kemudian, dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Rasul Paulus menulis bahwa perwujudan dan kepuasan yang didapat dari pekerjaan sangat tergantung dari apa yang menjadi pusat perhatian kita: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya” (Kolose 3:23-24).

 

Apakah Anda menemukan kesukacitaan, kegembiraan besar dalam hati, saat melaksanakan pekerjaan yang kini menjadi tanggung jawab Anda? Jika ya, maka Anda sungguh seorang yang diberkati - dan termasuk sedikit orang yang beruntung. Seseorang yang menyukai pekerjaannya, akan menunjukkan kinerja kerja yang baik karena ia melakukannya dengan semangat tinggi. Namun, jika Anda tidak menyukai pekerjaan Anda, ada baiknya berhenti sejenak dan mengevaluasi apa yang sedang Anda tekuni. Tanyakan pada Allah, apakah pekerjaan Anda sekarang ini adalah panggilan dan tuntunan-Nya bagi hidup Anda.

 

 

(Copyright 2005, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani. Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.

 

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

: Robert Milligan, President

1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749

E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

 

 

 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Sejujur-jujurnya, apakah Anda sungguh-sungguh menyukai pekerjaan Anda? Mengapa atau mengapa tidak?
  2. Andaikan terdapat jaminan bahwa Anda akan memperoleh kepuasan dalam hal pendapatan secara finansial tanpa peduli apapun yang Anda kerjakan, apakah Anda akan tetap melakukan pekerjaan Anda sekarang ini? Jika tidak, andaikan ada kesempatan yang lain memilih pekerjaan yang Anda sukai, apakah yang akan Anda lakukan?
  3. Apakah akibatnya jika alasan bertahan pada suatu pekerjaan hanyalah karena pekerjaan tersebut menyediakan pendapatan yang cukup dan menjamin kehidupan Anda, dan mengabaikan kenyataan bahwa pekerjaan tersebut tidak menyenangkan dan tidak sesuai dengan hati nurani Anda?    Kata “pekerjaan” atau “vocation” berasal dari kata dalam Bahasa Latin, “voco,” yang berarti, “memanggil.” Apakah Anda setuju dengan pemikiran bahwa idealnya pekerjaan adalah perwujudan atas “panggilan” pribadi seseorang? Jelaskan jawaban Anda.
  4. Dalam kenyataan, tidaklah mudah berhenti dari suatu pekerjaan sebelum menemukan pekerjaan lain yang lebih sesuai dan memuaskan sebagai gantinya? Jika seseorang tidak mempunyai pilihan selain tetap bertahan pada pekerjaannya yang sekarang, meskipun pekerjaan ini kurang disukainya, menurut Anda apakah yang dapat dilakukan orang ini untuk memenuhi panggilan hidupnya di luar lingkup pekerjaannya?

    Berikut adalah ayat-ayat Alkitab yang berkenaan dengan topik panggilan hidup dan bagaimana menghubungkannya dengan karier kita:

    Kejadian 1:26-30; Ulangan 2:7; Amsal 16:3; Pengkhotbah 3:9-13; Kolose 3:17 www.sabda.org/alkitab

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:12:46 | Permalink | No Comments »

Menolong Sesama

2 Januari 2006

SEBERAPA PEKA ANDA TERHADAP KESULITAN YANG SEDANG DIALAMI ORANG-ORANG DI SEKITAR ANDA

Oleh: Robert J. Tamasy

Bertahun-tahun yang lalu, seorang pakar bisnis menyimpulkan bahwa “mata uang” yang paling berharga bukanlah uang, tetapi waktu. Kebenaran pernyataan ini berlaku hingga hari ini. Begitu banyak hal menyita waktu kita, dan karena tekanan begitu banyak waktu tenggat, kesempatan membangun dan memelihara hubungan positif dengan karyawan dan rekan kerja menjadi langka - layaknya hewan yang nyaris punah. Namun ketika kita menengok ke belakang dan merenungi jejak karier, seringkali yang paling membekas dalam benak bukanlah penjualan besar atau proyek-proyek besar di mana kita terlibat, melainkan hubungan yang kita alami, hubungan yang terbentuk di tengah tuntutan meraih prestasi kerja yang gemilang.

Saat bekerja, ada baiknya menyadari makna dan pentingnya mengejawatahkan ungkapan “meluangkan waktu untuk mencium harum bunga mawar” - menghargai tidak hanya pekerjaan kita sendiri, tetapi juga menghargai orang-orang yang berperan-serta dan turut bekerja keras mewujudkan pekerjaan dan tujuan kita.

Baru-baru ini, seorang teman menceritakan suatu kisah tentang “Terry”, seorang karyawan yang memiliki karier panjang yang cemerlang di perusahaan tempatnya bekerja tetapi tiba-tiba mengalami penurunan kinerja kerja secara drastis sehingga membuat atasannya kuatir. Sang atasan berprasangka kemunduran kinerja Terry disebabkan oleh ketergantungan Terry pada minuman keras dan obat-obat terlarang, sesuatu yang kini cenderung menjadi kelaziman dalam dunia kerja. Atasan tersebut berencana meminta Terry menjalani tes ketergantungan Narkoba. Dan jika memang dia terbukti menggunakan obat-obat terlarang, Terry akan dipecat tanpa mengindahkan prestasi kerja cemerlang yang pernah diraihnya.

Sebelum pemecatan terjadi, seorang eksekutif lain yang kebetulan mengenal Terry memberi kabar. “Tidakkah Anda tahu apa yang sedang dialami Terry? Istrinya baru saja didiagnosis menderita kanker stadium lanjut, ia tidak hanya harus merawat istrinya tetapi juga harus mengurus kedua anak mereka yang masih kecil-kecil. Itulah yang setiap hari ia lakukan sebelum berangkat bekerja.” Tiba-tiba keadaan menjadi lebih jernih dan atasan Terry pun mengambil langkah penyelesaian masalah - tentu saja bukan dengan memecat Terry. Setelah berbicara dengan Terry untuk mengetahui detail masalah yang sedang dihadapinya, atasannya memberi Terry cuti beberapa bulan - dengan gaji tetap dibayarkan - agar ia dapat memusatkan perhatian dan tenaga untuk mengatasi masalah keluarga yang sedang dialaminya.

Saat kita bergumul dengan pekerjaan rutin sehari-hari dan mengalami pelbagai tekanan, sangatlah mudah kehilangan kepekaan terhadap apa yang sedang dihadapi orang-orang di sekitar kita. Kitab Amsal menawarkan prinsip-prinsip berharga yang berguna dalam menjaga keseimbangan sudut pandang saat harus menghadapi orang-orang yang sedang berjuang mengatasi masalah-masalah berat.

 Menyadari seseorang mungkin tengah menderita atau mengalami masalah pribadi. Kebanyakan orang sangat hati-hati menyimpan masalah pribadi, mereka enggan mendiskusikannya dengan orang lain - terlebih dengan atasan mereka. Tetapi biasanya kesulitan yang mereka alami akan menyebabkan penurunan efisiensi dan kualitas kerja, menyebabkan keteledoran atau meningkatkan kesalahan dalam pekerjaan mereka. Selalu ada alasan-alasan logis yang dapat menjelaskan penurunan produktivitas tersebut. Jadi sebelum terburu-buru menarik kesimpulan, carilah terlebih dahulu “kisah di balik kisah” penurunan kinerja kerja karyawan atau rekan kerja Anda. Jika Anda menemukan perubahan perilaku atau penurunan kinerja yang drastis, carilah penyebabnya. “Kenallah baik-baik keadaan kambing dombamu, perhatikanlah kawanan hewanmu” (Amsal 27:23).

Jangan takut melatih kepekaan dan kepedulian. Kepekaan dan kepedulian dapat menjadi aset manajemen yang penting. Masalah yang dihadapi seorang karyawan boleh jadi lebih dari sekadar masalah pribadi. Karyawan andalan mempengaruhi kinerja rekan kerjanya, juga mempengaruhi produktivitas perusahaan secara keseluruhan. Menunjukkan kepekaan dan perhatian kepada seorang karyawan tidak hanya berarti memperlihatkan kepedulian kepada satu individu saja, tetapi juga memperlihatkan kepedulian perusahaan yang besar terhadap kebutuhan dan kesejahteraan setiap individu dalam perusahaan. Menunjukkan bahwa kebaikan menjadi itikad mendasar perusahaan. “Perempuan yang baik hati beroleh hormat; sedangkan seorang penindas beroleh kekayaan. Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri” (Amsal 11:16-17). “… maka engkau mempunyai domba-domba muda untuk pakaianmu dan kambing-kambing jantan untuk pembeli ladang, pula cukup susu kambing untuk makananmu dan makanan keluargamu, dan untuk penghidupan pelayan-pelayanmu perempuan” (Amsal 27:24-27).

Masalah yang dihadapi seorang karyawan boleh jadi lebih dari sekadar masalah pribadi. Karyawan andalan mempengaruhi kinerja rekan kerjanya, juga mempengaruhi produktivitas perusahaan secara keseluruhan. Menunjukkan kepekaan dan perhatian kepada seorang karyawan tidak hanya berarti memperlihatkan kepedulian kepada satu individu saja, tetapi juga memperlihatkan kepedulian perusahaan yang besar terhadap kebutuhan dan kesejahteraan setiap individu dalam perusahaan. Menunjukkan bahwa kebaikan menjadi itikad mendasar perusahaan. “Perempuan yang baik hati beroleh hormat; sedangkan seorang penindas beroleh kekayaan. Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri” (Amsal 11:16-17). “… maka engkau mempunyai domba-domba muda untuk pakaianmu dan kambing-kambing jantan untuk pembeli ladang, pula cukup susu kambing untuk makananmu dan makanan keluargamu, dan untuk penghidupan pelayan-pelayanmu perempuan” (Amsal 27:24-27).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress) dan bersama Ken Johnson menulis buku berjudul: Pursuing Life With A Shepherd’s Heart (River City Press). Informasi lebih lanjut, dapat Anda temukan di www.theheartofmentoring.com.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749

E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

 

 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Saat menghadapi masalah pribadi, mudahkah bagi Anda menceritakannya kepada orang lain? Apakah menurut Anda masalah keluarga, kesulitan keuangan, persoalan kesehatan dan masalah-masalah lain dapat diabaikan dan tidak mempengaruhi pekerjaan Anda? Jelaskan jawaban Anda.
  2. Dapatkah Anda menceritakan saat seseorang yang Anda kenal - bukan diri Anda - menghadapi masalah berat dan secara nyata menurunkan kinerja kerja mereka? Langkah-langkah apa yang diambil, jika ada, untuk membantu orang tersebut, atau paling tidak meringankan tekanan yang dialaminya?
  3. Dapatkah Anda mengganggap diri Anda sebagai pemerhati orang lain, dapat mengetahui bilamana rekan kerja Anda sedang menghadapi masalah? Apakah menurut Anda kepedulian terhadap orang-orang yang memang tengah membutuhkan perhatian khusus - atau apa yang oleh salah satu ayat dalam Amsal disebut sebagai “memerhatikan kawanan hewanmu” adalah sesuatu yang dapat dipelajari? Mengapa atau mengapa tidak?
  4. Menyadari bahwa penurunan prestasi seorang pekerja berdampak pada kinerja seluruh divisi - bahkan berdampak pada kinerja seluruh perusahaan - tidakkah sangat penting berusaha peka terhadap karyawan-karyawan yang sedang menghadapi masalah pribadi? Atau adakah motivasi lain yang diperlukan untuk menggugah kita membantu orang lain?

    Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan sebagai dasar perenungan topik menyadari dan bagaimana bersikap terhadap mereka yang sedang menghadapi masalah-masalah berat:

    Matius 9:36, 14:14, 18:23-35; Yohanes 11:32-35; Galatia 6:2 www.sabda.org/alkitab/

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:59:07 | Permalink | No Comments »

Friday, February 17, 2006

Catatan (Notes)

12 Desember 2005 - 2 Januari 2006

Berhubung LIBUR NATAL dan TAHUN BARU: Artikel Monday Manna dari tanggal 12 Desember 2005 sampai dengan 2 Januari 2006 tidak saya terjemahkan.

Untuk artikel dalam Bahasa Inggris, silakan mengunjungi arsip Monday Manna di website CBMC International: http://www.cbmcint.org/modules.php?name=Devotionals&file=archive

Due to CHRISTMAS and NEW YEAR holiday, I did not translate the December 12, 2005 - January 2, 2006 Monday Manna.

The English version of the articles are kept in the archives at the CBMC website: http://www.cbmcint.org/modules.php?name=Devotionals&file=archive

God Bless,

Susan

Posted by Suzanna L. Siregar at 08:34:01 | Permalink | No Comments »

Perencanaan

5 Desember 2005

PERENCANAAN YANG BAIK MENYEDIAKAN RUANG BAGI FLEKSIBILITAS

Oleh: Robert J. Tamasy


Menapaki hari-hari dalam bulan terakhir di tahun 2005 ini, pikiran kita tertuju pada masa depan. Suasana libur hari raya, mengisi benak kita - pelbagai kegiatan perayaan, hadiah-hadiah yang harus dibeli, dan harapan mendapat cuti antara Natal dan Tahun Baru. Lebih jauh lagi, kita mulai memikirkan tahun 2006: Apa yang akan terjadi tahun depan, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi? Akan adakah peristiwa tak terduga yang mempengaruhi perjalanan karier, kehidupan keluarga dan kelangsungan organisasi kita? Seperti apa pertumbuhan ekonomi tahun depan? Akankah perusahaan dapat mempertahankan pangsa pasar, atau perlukah dilakukan inovasi dan penyesuaian besar-besaran agar mampu mengimbangi perusahaan pesaing?

Kita melakukan perencanaan, suatu proses yang bijaksana dalam memproyeksikan keadaan di masa depan yang belum kita ketahui berdasarkan pengamatan situasi dan data terkini. Kita menjadualkan pertemuan-pertemuan penting, menganalisis dan menyiapkan anggaran, menetapkan waktu-tenggat, dan berusaha memprediksi upaya yang perlu dilakukan bagi pencapaian tujuan. Namun senantiasa ada hal yang tidak pernah dapat kita rencanakan sesuatu yang tidak terduga, tidak dapat diramalkan, dan tidak diketahui bilamana terjadi.

Bertahun-tahun yang lalu, sebagai jurnalis muda, saya ditugaskan menjadi asisten editor pada suatu surat kabar. Hari itu hari Sabtu, suatu hari yang “tenang”, saya telah selesai merancang dengan seksama halaman depan surat kabar edisi hari itu. Tetapi, tanpa diduga muncul berita mengenai bencana besar yang baru saja terjadi, kurang dari satu jam sebelum surat kabar naik cetak. Terjadinya bencana tersebut tidak mungkin diabaikan, sehingga tata letak halaman depan harus diubah secara total. Karena belum berpengalaman, kepanikanpun menyergap. “Bagaimana saya mengubah tata letak halaman-halaman surat kabar ini dengan cepat?” Saya mengumam lirih.

Tiba-tiba, pertolongan datang. Editor masuk ke ruang berita memeriksa keadaan. Melihat kepanikan saya, ia menggulung lengan kemejanya dan menunjukkan bagaimana dengan cepat melakukan perubahan sehubungan terjadinya berita penting. Di sela-sela pekerjaannya, sang editor itu, berhenti sejenak, menatap saya dan memberikan nasehat: “Selalu siapkan rencana alternatif, rencana B!”

Sejak saat itu, nasehat ini membantu saya menghadapi banyak peristiwa. Kitab Amsal yang sudah sangat tua juga menuliskan banyak hikmat mengenai bagaimana membuat rencana secara efektif. Beberapa di antaranya, dapat Anda temukan di bawah ini, semua berhubungan dengan “selalu menyiapkan rencana B”:

Sadari keterbatasan kendali Anda. Kita memang dapat belajar dari masa lalu dan dengan hati-hati mengamati kondisi sekarang, tetapi masa depan tetaplah suatu ketidakpastian. Kita dapat menduga dengan cerdik dan bersiap menghadapi apa yang akan terjadi tetapi satu-satunya yang mengetahui dengan pasti apa yang terjadi di masa depan hanyalah Allah. “Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?” (Amsal 20:24). “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN” (Amsal 21:31).

Kita memang dapat belajar dari masa lalu dan dengan hati-hati mengamati kondisi sekarang, tetapi masa depan tetaplah suatu ketidakpastian. Kita dapat menduga dengan cerdik dan bersiap menghadapi apa yang akan terjadi tetapi satu-satunya yang mengetahui dengan pasti apa yang terjadi di masa depan hanyalah Allah. “Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?” (Amsal 20:24). “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN” (Amsal 21:31).

Jangan bertindak tanpa informasi yang cukup. Perencanaan harus dilakukan berdasarkan riset yang teliti dan menyeluruh agar keputusan yang dihasilkan tepat dan handal. Seringkali yang terjadi adalah kita lalai menyertakan Allah - apa rencana-Nya bagi kita? Menyertakan Allah dalam perencanaan, berarti melengkapi perencanaan dengan doa dan kepatuhan menyelaraskan rencana kita dengan kehendak Sang Maha Kuasa. “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” (Amsal 16:4). “Mata TUHAN menjaga pengetahuan, tetapi Ia membatalkan perkataan si pengkhianat.” (Amsal 22:12).

Perencanaan harus dilakukan berdasarkan riset yang teliti dan menyeluruh agar keputusan yang dihasilkan tepat dan handal. Seringkali yang terjadi adalah kita lalai menyertakan Allah apa rencana-Nya bagi kita? Menyertakan Allah dalam perencanaan, berarti melengkapi perencanaan dengan doa dan kepatuhan menyelaraskan rencana kita dengan kehendak Sang Maha Kuasa. “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” (Amsal 16:4). “Mata TUHAN menjaga pengetahuan, tetapi Ia membatalkan perkataan si pengkhianat.” (Amsal 22:12).

 Waspada pada asumsi-asumsi Anda. Kita sering merencanakan banyak hal berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelumnya, dengan anggapan tidak akan ada halangan yang dapat mengagalkan rencana tersebut. Tetapi, pada kenyataannya halangan besar mungkin menerpa - topan badai dan gempa bumi, pergolakan ekonomi, kerugian tiba-tiba pada perhitungan bisnis, krisis internasional, kehilangan staff kepercayaan. Perencana yang bijaksana tidak mengasumsikan terlalu banyak hal yang dapat menyebabkan perubahan yang dramatis. “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” (Amsal 27:1).

Kita sering merencanakan banyak hal berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelumnya, dengan anggapan tidak akan ada halangan yang dapat mengagalkan rencana tersebut. Tetapi, pada kenyataannya halangan besar mungkin menerpa topan badai dan gempa bumi, pergolakan ekonomi, kerugian tiba-tiba pada perhitungan bisnis, krisis internasional, kehilangan staff kepercayaan. Perencana yang bijaksana tidak mengasumsikan terlalu banyak hal yang dapat menyebabkan perubahan yang dramatis. “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” (Amsal 27:1).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress) dan bersama Ken Johnson menulis buku berjudul: Pursuing Life With A Shepherd’s Heart (River City Press). Informasi lebih lanjut, dapat Anda temukan di www.theheartofmentoring.com.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749

E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

 

 

 

 

 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Apakah Anda sudah mulai merencanakan hal-hal yang harus dilakukan tahun depan? Rencana besar dalam bidang apakah yang membutuhkan perhatian lebih?
  2. Dari pengalaman baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi, apakah kesulitan yang ditemui saat menyusun rencana? Peristiwa apakah yang menghambat rencana yang telah tersusun dengan baik
  3. Saat menyelesaikan pekerjaan, atau membuat rencana, pernahkah Anda merasa perlu mempersiapkan rencana alternatif atau “rencana B”? Jelaskan jawaban Anda.
  4. Apakah Anda percaya bahwa rencana Allah penting bagi keberhasilan rencana Anda? Apakah Anda pernah menyertakan Allah dalam rencana pribadi Anda, tetapi mengabaikan-Nya dalam perencanaan bisnis Anda? Mengapa atau mengapa tidak?

    Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan sebagai dasar perenungan topik yang berkaitan dengan perencanaan:

     

    Mazmur 37:4-5; Amsal 3:5-6, 16:3, 16:9, 16:33, 19:21

     

     

     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 08:06:01 | Permalink | No Comments »

Reputasi

28 November 2005
 
MENGAPA MEMBANGUN REPUTASI YANG BIASA-BIASA SAJA?
Oleh: Robert D. Foster
 
“Reputasi yang baik adalah suatu tanggung jawab besar” (Thomas Fuller, 1654-1734). Pernahkah terpikir oleh Anda arti suatu reputasi yang baik, sesuatu yang oleh Fuller disebut sebagai “tanggung jawab yang besar” – atau apakah yang menjadi dasar pembentukan suatu reputasi yang tak tertandingi? Henry Ford seorang pengusaha terkemuka mendefinisikan reputasi dalam kalimat berikut: “Anda tidak dapat membangun suatu reputasi berdasarkan apa yang akan Anda lakukan.”
 
Berkenaan dengan topik ini, bertahun-tahun yang lalu dalam pariwaranya, baik di Inggris maupun di Amerika Utara, perusahaan minyak Esso mengungkapkan nilai yang dianutnya:
“Hal yang biasa-biasa (Mediocrity) itu sungguh menyenangkan. Sebab sangatlah mudah menjalankan kegiatan yang tidak didasarkan pada standar terbaik; kita bahkan dapat melakukannya dengan santai. Setia pada reputasi yang baik jauh lebih sulit. Karena itu berarti kita harus mengukur keberhasilan setiap hari dengan standar tertinggi yang sudah ditetapkan sebelumnya; hal ini, memaksa kita memberdayakan seluruh kemampuan.”
 
“Bagi seseorang, yang hanya peduli pada jalur tunggal dalam kehidupannya, mencapai reputasi yang baik tidaklah terlalu sukar. Tetapi bagi suatu industri, yang katakanlah, harus memproduksi ribuan ton setiap jam, pencapaian reputasi yang baik membutuhkan baik perhatian sepenuhnya pada mutu maupun pencarian tanpa akhir bagaimana meningkatkan mutu. Tanpa perhatian penuh dan pencarian terus-menerus seperti itu, reputasi yang sukar-ditandingi tidak akan bertahan lama. Tidak perlu perjuangan mempertahankan standar yang biasa-biasa saja; tetapi reputasi yang baik dibentuk-ulang setiap hari.”
 
Merenungkan reputasi, cenderung membuat kita mengaitkannya dengan integritas, kejujuran, dan sifat-sifat lain. Tetapi lebih dalam dari itu, Esso Oil merasa perlu dengan tegas membedakan antara kinerja biasa-biasa saja dengan komitmen mencapai keunggulan. Menarik untuk direnungkan, istilah “mediocre” – yang berarti keadaan yang tidak-bagus-tetapi-tidak-juga-buruk, atau biasa-biasa saja – berasal dari kata dalam Bahasa Latin, mediocris, yang berarti, “di bawah puncak.” Menjadi biasa-biasa saja dalam pekerjaan – atau apapun yang kita lakukan – berarti bekerja di bawah puncak kemampuan.
 
Seseorang pernah menggambarkan “menjadi tua” sebagai keadaan di mana seseorang berlari dalam lingkaran mengitari dataran tinggi terakhir dicapainya. Hidup dapat diibaratkan sebagai pendakian dari satu dataran tinggi ke dataran tinggi yang lain. Setelah mencapai suatu dataran tinggi, kita dapat berhenti untuk sejenak beristirahat, kemudian kembali bangkit dan mulai mendaki menuju dataran yang lebih tinggi lagi. Pada saat kita mencapai suatu dataran tinggi dan merasa puas lalu hanya berlari di seputar lingkaran-lah kita disebut tua, tidak peduli entah kita berusia 25, 45, atau 85 tahun! Kehidupan akan menjadi biasa-biasa saja manakala kita menengadah menatap puncak gunung tetapi menolak melanjutkan pendakian. Kita kehilangan minat mencapai puncak.
 
Raja Salomo dari Israel, yang karena hikmatnya hingga sekarang tetap menyandang reputasi sebagai salah seorang paling bijaksana yang pernah hidup, beribu-ribu tahun yang lalu menulis: “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Amsal 22:1).
 
Di toko peralatan kantor, Anda dapat menemukan begitu banyak ragam barang – komputer dan monitor, berbagai jenis dan warna kertas, alat tulis, perabot, pensil dan pena, serta pelengkap meja tulis. Tetapi Anda tidak akan pernah menemukan “Bagian Reputasi,” karena reputasi bukanlah sesuatu yang bisa dibeli. Reputasi karena kualitas kerja dan komitmen mencapai keunggulan hanya dapat diperoleh dengan membangunnya sedikit demi sedikit secara berkesinabungan dari waktu ke waktu.
 
Kita cenderung hanya menaruh perhatian pada pencapaian tujuan jangka pendek: “Lihat apa yang saya lakukan!” Padahal reputasi lebih merupakan refleksi dari keseluruhan perjalanan hidup, dan dari pengalaman, saya belajar memahami kenyataan bahwa Allah ternyata jauh lebih peduli pada arah perjalanan hidup dan bukan pada pencapaian pribadi. Jadi “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23).
 
Diambil dan disarikan dari The Challenge, yang ditulis dan diterbitkan oleh Robert D. dan Rick Foster. Ijin memperbanyak dengan mencantumkan nama pengarang dan penerbit diberikan dengan cuma-cuma. Pertanyaan atau komentar dapat dikirimkan ke alamat: 29555 Goose Creek Rd, Sedalia, CO 80135, U.S.A., atau faks (303) 647-2315
 
CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
 
Pertanyaan Refleksi/Diskusi
  1. Apakah Anda sependapat dengan pernyataan Thomas Fuller bahwa reputasi yang baik adalah tanggung jawab besar? Mengapa atau mengapa tidak?
  2. Sudahkah Anda memperhitungkan kualitas kerja Anda sebagai bagian penting dari reputasi Anda sebagai pelaku bisnis atau tenaga profesional? Jelaskan jawaban Anda.
  3. Sekarang juga, evaluasilah pekerjaan Anda, dapatkah Anda mengatakan bahwa Anda masih terus berjuang mencapai puncak, atau Anda telah mencapai dataran tinggi di mana Anda sudah merasa puas dengan hanya berlari seputar lingkaran, dan tidak lagi berniat mendaki lebih tinggi? Menurut Anda apa pendapat teman-teman yang bekerja bersama Anda mengenai kualitas pekerjaan Anda?
  4. Dalam Alkitab (Kolose 3:23) terdapat pengajaran yang menyatakan apapun juga yang kita perbuat, haruslah kita perbuat dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Apakah pernyataan ini dapat meningkatkan cara Anda melakukan pekerjaan?
 
Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan untuk merenungkan kualitas kerja kita:
 
Mazmur 37:3-6; Amsal 16:3, 21:2; Kolose 1:10, 3:17; 1Tesalonika 2:7-9
Posted by Suzanna L. Siregar at 07:52:06 | Permalink | No Comments »

Mengucap Syukur

21 November 2005
 
DAPATKAH ANDA MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA HAL?
Oleh: Robert J. Tamasy
 
Beberapa hari lagi, orang-orang di seluruh penjuru Amerika Serikat, demikian juga orang-orang Amerika yang tinggal di pelbagai bagian dunia, akan merayakan hari Thanksgiving (Pengucapan Syukur). Setiap tahun Thanksgiving dirayakan pada Kamis keempat bulan November, perayaan ini ditetapkan secara resmi pada tahun 1883 oleh Presiden Abraham Lincoln, yang dalam pernyataannya menyampaikan amanat ini, “Tahun yang akan segera berlalu ini telah dipenuhi oleh berkat panen yang berlimpah dan cuaca yang baik. Menerima berkat yang berlimpah dan terus menerus seperti ini menyebabkan kita cenderung melupakan sumber berkat ini, dan berkat-berkat lain yang juga telah ditambahkan… Sesungguhnya semua ini adalah rahmat tak ternilai dari Allah yang Maha Tinggi.”
 
Menarik untuk direnungkan, karena pernyataan Lincoln tentang Thanksgiving dikemukakan pada saat Perang Saudara berkecamuk, perang yang juga dikenal sebagai “Perang Antar Negara Bagian.” Di tengah gejolak peperangan yang meluluh-lantakkan negara Kesatuan, Presiden memilih mengutarakan kenyataan positif berikut: ” … Semua bangsa telah bertekad mempertahankan perdamaian, dengan menegakkan aturan, menghormati dan mematuhi hukum, hingga kerukunan hadir di mana-mana kecuali dalam arena persengketaan militer….”
 
Beberapa tahun yang lalu, saya membantu seorang sahabat, Albert Diepeveen, menuliskan hikmah tantangan dan pencobaan yang dialami sepanjang kehidupannya. Ia memberikan judul buku kecil itu, “Mengatakan ‘Terima Kasih’ Bahkan Ketika Anda Merasa Tidak Dapat Bersyukur.” Pengamatannya sangat mendalam, setiap orang dapat bersyukur jika segalanya berjalan dengan baik, tetapi dapatkah Anda mengucap syukur dan berterima kasih ketika banyak hal tidak sejalan dengan keinginan atau harapan Anda?
 
Bila Anda dapat membayar semua tagihan setiap bulan dan masih mempunyai sejumlah uang yang bisa Anda tabung atau investasikan, mudah bagi Anda untuk bersyukur. Tetapi andaikan suatu keadaan darurat tiba-tiba datang dan menguras habis tabungan dalam rekening bank dan seluruh sumber keuangan Anda - dapatkah Anda tetap bersyukur?
 
Jika karier Anda berjalan mulus, Anda berhasil melampaui target dan menerima pujian dari atasan Anda, mudah rasanya untuk berterima-kasih. Namun bila Anda tidak termasuk mereka yang mendapat promosi yang sudah sangat Anda dambakan, atau Anda gagal memenuhi target (sebagian karena faktor-faktor di luar kendali Anda), dan atasan Anda menekan Anda untuk bekerja lebih giat lagi - masihkan mudah untuk mengucap syukur?
 
Bila hasil pemeriksaan kesehatan Anda menyatakan Anda dalam “keadaan prima”, mudah bagi Anda untuk bersyukur. Tetapi andaikan dokter mengernyit cemas saat pemeriksaan, lalu menyuruh Anda mengikuti serangkaian tes, dan ternyata hasil tes tidaklah menggembirakan - dapatkah Anda tetap bersyukur?
 
Jika perkawinan Anda berjalan baik dan keluarga hidup dalam kerukunan, penuh cinta dan kedamaian, mudah bagi Anda untuk mengucap syukur. Namun bila tiba-tiba pasangan hidup Anda memutuskan berpisah beberapa saat dengan dalih untuk memperbaiki perkawinan, atau ketika anak-anak Anda mengalami masalah serius - apakah Anda dapat tetap bersyukur?
 
Alkitab dengan jelas menyatakan hal ini. 1Tesalonika 5:16-18 mencatat hikmat ini: “Bersukacitalah senantiasa…. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Dari sudut pandang Allah, kita harus mengucap syukur untuk segala hal yang diperkenankan-Nya terjadi atas kita - baik hal baik maupun buruk. Tidakkah hal ini terdengar ganjil, atau bahkan tidak masuk akal? Tidak bagi pengikut Yesus, karena Allah sudah berjanji, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).
 
Allah ingin kita percaya - dan meyakini - bahwa Ia mengendalikan segala hal yang kita hadapi, percaya bahwa jika Ia memperkenankan sesuatu terjadi dalam hidup kita, maka Allah akan menggunakannya demi kebaikan kita. Jika kita mempercayai hal ini, maka kita pun dapat mengucap syukur dalam segala hal.
 
Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress) dan bersama Ken Johnson menulis buku berjudul: Pursuing Life With A Shepherd’s Heart (River City Press). Informasi lebih lanjut, dapat Anda temukan di www.theheartofmentoring.com.
 
CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
E-MAIL: mmanna@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org….
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
 
 
PERTANYAAN DISKUSI/REFLEKSI
  1. Saat Thanksgiving mendekat, adakah hal yang patut Anda syukuri? Jika Anda hidup di bagian dunia di mana tidak ada perayaan hari Thanksgiving, apakah Anda pernah meluangkan waktu untuk merenungkan hal-hal dalam kehidupan yang patut Anda syukuri?
  2. Apakah bagi Anda hal-hal baik adalah berkat dari Allah, atau semata-mata terjadi karena nasib baik, atau hasil kerja keras dan inisiatif Anda sendiri? Mengapa?
  3. Apa pendapat Anda tentang gagasan untuk mengucap syukur atas hal-hal buruk yang terjadi dalam kehidupan? Menurut pendapat Anda dapatkah kesukaran-kesukaran yang kita hadapi dalam kehidupan dipandang sebagai sesuatu yang baik sehingga kita seharusnya mengucap syukur karenanya? Atau menurut Anda pemikiran seperti ini murni suatu idealisme - bersyukur atas kesukaran dan kemunduran adalah tindakan yang bodoh? Jelaskan jawaban Anda
  4. Renungkanlah kesulitan dalam kehidupan - baik dalam pekerjaan, masalah pribadi maupun kesehatan - yang baru-baru ini Anda alami. Sejujur-jujurnya, apakah Anda mengucap syukur atas kesukaran tersebut? Jika ya, mengapa? Jika tidak, bagaimana kini Anda meninjau-ulang situasi tersebut - percaya bahwa Allah mengetahui kesulitan itu dan campur tangan mengatasinya - sehingga Anda dapat “mengucapkan ‘terima kasih’ bahkan ketika Anda merasa tidak dapat bersyukur?
 
Berikut adalah Ayat-ayat Alkitab yang dapat digunakan sebagai dasar perenungan topik rasa syukur dan pengucapan syukur:
2 Korintus 4:7-15, 9:6-15; Filipi 4:4-7; Kolose 2:6-7; 1Timotius 4:4-5
Posted by Suzanna L. Siregar at 07:31:20 | Permalink | No Comments »

Penjualan

14 November 2005
 
MENJUAL DENGAN MEMPERHATIKAN KEBUTUHAN PEMBELI
Oleh: Rick Boxx
 
Beberapa tahun yang lalu, melalui telepon saya menerima penawaran dari dua orang wiraniaga (salesman) yang menerapkan dua metode yang sangat berbeda. Penawaran pertama dilakukan oleh seorang wiraniaga yang menjual layanan telekomunikasi. Ia menjelaskan keunggulan produknya dengan sangat lancar dan jelas. Pertanyaan yang diajukan dan tanggapan yang diberikannya juga sangat tepat.
 
Sayangnya, harga produk dan layanannya tidak dapat menyaingi harga dan pelayanan perusahaan yang sekarang menjadi pemasok saya. Mengetahui hal tersebut, eksekutif penjualan tersebut dengan sopan membenarkan bahwa saya telah memperoleh harga dan layanan yang terbaik, dan meyakinkan saya untuk tetap menggunakan produk dari pemasok saya. “Tetapi jika suatu saat Anda memerlukan layanan yang lebih baik lagi,” lanjutnya, “Anda tahu kami dapat menyediakannya untuk Anda.”
 
Wiraniaga itu tidak bersikeras membujuk saya untuk beralih ke layanan perusahaan lain di mana saya tidak memperoleh tambahan manfaat apapun, tetapi justru dengan cara seperti ini, ia membuka peluang menjalin hubungan bisnis dengan saya. Ia jelas-jelas menunjukkan bahwa ia mempedulikan kebutuhan saya.
 
Wiraniaga kedua yang menghubungi saya menawarkan alat-alat keperluan printer. Seperti wiraniaga sebelumnya, ia juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, dan dengan cepat mengerti apa yang saya perlukan. Segera saya ketahui harga produknya lebih dari dua kali lipat harga dari pemasok saya, dengan perbedaan produk yang nyaris tidak ada. Namun, kali ini, alih-alih mengakhiri pembicaraan telepon dengan santun, ia malah menggunakan waktu tambahan beberapa menit untuk meyakinkan saya bahwa produk dan layanan perusahaannya jauh lebih baik dibanding dengan produk dan layanan yang sekarang saya gunakan. Ia tampaknya tidak peduli bahwa saya merasa tidak perlu atau tidak berminat beralih ke produk dan layanan yang lain. Wiraniaga itu terus saja berbicara, tidak mendengarkan saya, akhirnya tidak ada yang dapat saya lakukan kecuali menutup telepon.
 
Andaikan harga dan layanan yang ditawarkan kedua wiraniaga itu sama dengan harga dan kondisi layanan pemasok Anda, manakah di antara mereka yang Anda pilih untuk bertransaksi dengan Anda? Alkitab khususnya Filipi 2:4 mencatat hikmat berikut, “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” Diilhami pengajaran ini, saya pasti akan memilih wiraniaga yang pertama. Saya merasa ia dapat dipercaya melakukan dan menyediakan apa yang terbaik bagi saya.
 
Menjual dengan integritas bukanlah suatu hal yang mudah. Karena akan selalu ada tekanan yang kuat untuk meningkatkan penjualan, baik untuk meningkatkan penilaian kinerja kerja maupun untuk meningkatkan perolehan komisi. Dengan persaingan dunia usaha yang kini semakin ketat, kita cenderung tergoda untuk menutupi kebenaran atau melebih-lebihkan keunggulan produk kita agar dapat meningkatkan peluang penjualan. Tetapi penerapan sikap menjunjung tinggi nilai integritas saat menjual mempunyai nilai jangka panjang, karena klien - dan calon klien - akan yakin Anda tidak akan menyesatkan mereka untuk segera setuju bertransaksi.
 
Harus diakui, menjual dengan integritas adalah sesuatu yang mudah diakui kebenarannya tetapi sulit diwujud-nyatakan. Menjual dengan integritas memerlukan pengendalian-diri, serta itikad tulus membangun hubungan, bukan dengan menerapkan strategi egois yang bertujuan memanipulasi klien untuk setuju bertransaksi. Kali berikut, ketika sedang menjual atau mempromosikan keunggulan suatu produk, berhentilah melakukannya berdasarkan kepentingan Anda, dan cobalah terlebih dahulu memahami kebutuhan pelanggan Anda.
 
Mungkin akan lebih mudah memahami situasi ini jika memandangnya dari sisi yang berbeda, dari sudut pandang orang lain. Bagaimana rasanya jika seorang wiraniaga berusaha meyakinkan Anda untuk membeli produk dan layanan yang sebenarnya adalah produk dan layanan Anda sendiri, wiraniaga itu menawarkan apa yang sudah Anda miliki dan sudah sangat Anda kenal?
 
Anjuran berikut merupakan rangkuman sederhana tetapi sangat mendalam yang diutarakan Yesus Kristus berabad-abad silam untuk menghadapi situasi seperti ini: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka… ” (Matius 7:12).
 
 
(Copyright 2005, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani. Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.
 
 
CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org
Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Diskusi/Refleksi

  1. Bagaimana reaksi Anda menghadapi seseorang yang berupaya keras membujuk Anda membeli sesuatu - baik barang maupun layanan - yang tidak Anda perlukan atau inginkan? 
  2. Jika Anda bekerja di bagian Penjualan, atau terlibat dalam suatu divisi di mana penjualan menjadi ukuran kinerja kerja, tekanan apa sajakah yang Anda temukan dalam pekerjaan? Bahkan jika Anda tidak secara langsung terlibat dalam penjualan, melalui satu atau beberapa cara, dalam pekerjaan kadangkala Anda harus dapat menjual kemampuan diri Anda. Pernahkah Anda tergoda menampilkan diri Anda lebih baik dari fakta yang sesungguhnya? 
  3. Filipi 2:4 mengatakan, “Anda seharusnya tidak hanya memperhatikan kepentingan Anda sendiri, tetapi juga memperhatikan kepentingan orang lain juga.” Menurut Anda, apakah pernyataan ini masih realistik dan masih dapat diterapkan di tempat kerja pada masa kini? Bagaimana perasaan Anda bila orang-orang dengan siapa Anda berinteraksi menerapkan prinsip yang baik ini?
  4. Menurut pendapat Anda bagaimanakah seseorang dapat tetap menjunjung tinggi nilai integritas dalam setiap kesempatan menjual? Apakah menerapkan petunjuk Yesus “untuk melakukan segala yang Anda kehendaki supaya orang perbuat kepada Anda” dapat membantu mencapai tujuan ini?
Ayat-ayat Alkitab berikut ini dapat dijadikan dasar perenungan topik bagaimana mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan diri sendiri:
 
Amsal 10:9, 15:33, 16:18, 19:22, 21:24, 22:4; Markus 10:45
Posted by Suzanna L. Siregar at 07:00:43 | Permalink | No Comments »