5 Desember 2005
PERENCANAAN YANG BAIK MENYEDIAKAN RUANG BAGI FLEKSIBILITAS
Oleh: Robert J. Tamasy
Menapaki hari-hari dalam bulan terakhir di tahun 2005 ini, pikiran kita tertuju pada masa depan. Suasana libur hari raya, mengisi benak kita - pelbagai kegiatan perayaan, hadiah-hadiah yang harus dibeli, dan harapan mendapat cuti antara Natal dan Tahun Baru. Lebih jauh lagi, kita mulai memikirkan tahun 2006: Apa yang akan terjadi tahun depan, baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi? Akan adakah peristiwa tak terduga yang mempengaruhi perjalanan karier, kehidupan keluarga dan kelangsungan organisasi kita? Seperti apa pertumbuhan ekonomi tahun depan? Akankah perusahaan dapat mempertahankan pangsa pasar, atau perlukah dilakukan inovasi dan penyesuaian besar-besaran agar mampu mengimbangi perusahaan pesaing?
Kita melakukan perencanaan, suatu proses yang bijaksana dalam memproyeksikan keadaan di masa depan yang belum kita ketahui berdasarkan pengamatan situasi dan data terkini. Kita menjadualkan pertemuan-pertemuan penting, menganalisis dan menyiapkan anggaran, menetapkan waktu-tenggat, dan berusaha memprediksi upaya yang perlu dilakukan bagi pencapaian tujuan. Namun senantiasa ada hal yang tidak pernah dapat kita rencanakan sesuatu yang tidak terduga, tidak dapat diramalkan, dan tidak diketahui bilamana terjadi.
Bertahun-tahun yang lalu, sebagai jurnalis muda, saya ditugaskan menjadi asisten editor pada suatu surat kabar. Hari itu hari Sabtu, suatu hari yang “tenang”, saya telah selesai merancang dengan seksama halaman depan surat kabar edisi hari itu. Tetapi, tanpa diduga muncul berita mengenai bencana besar yang baru saja terjadi, kurang dari satu jam sebelum surat kabar naik cetak. Terjadinya bencana tersebut tidak mungkin diabaikan, sehingga tata letak halaman depan harus diubah secara total. Karena belum berpengalaman, kepanikanpun menyergap. “Bagaimana saya mengubah tata letak halaman-halaman surat kabar ini dengan cepat?” Saya mengumam lirih.
Tiba-tiba, pertolongan datang. Editor masuk ke ruang berita memeriksa keadaan. Melihat kepanikan saya, ia menggulung lengan kemejanya dan menunjukkan bagaimana dengan cepat melakukan perubahan sehubungan terjadinya berita penting. Di sela-sela pekerjaannya, sang editor itu, berhenti sejenak, menatap saya dan memberikan nasehat: “Selalu siapkan rencana alternatif, rencana B!”
Sejak saat itu, nasehat ini membantu saya menghadapi banyak peristiwa. Kitab Amsal yang sudah sangat tua juga menuliskan banyak hikmat mengenai bagaimana membuat rencana secara efektif. Beberapa di antaranya, dapat Anda temukan di bawah ini, semua berhubungan dengan “selalu menyiapkan rencana B”:
Sadari keterbatasan kendali Anda. Kita memang dapat belajar dari masa lalu dan dengan hati-hati mengamati kondisi sekarang, tetapi masa depan tetaplah suatu ketidakpastian. Kita dapat menduga dengan cerdik dan bersiap menghadapi apa yang akan terjadi tetapi satu-satunya yang mengetahui dengan pasti apa yang terjadi di masa depan hanyalah Allah. “Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?” (Amsal 20:24). “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN” (Amsal 21:31).
Kita memang dapat belajar dari masa lalu dan dengan hati-hati mengamati kondisi sekarang, tetapi masa depan tetaplah suatu ketidakpastian. Kita dapat menduga dengan cerdik dan bersiap menghadapi apa yang akan terjadi tetapi satu-satunya yang mengetahui dengan pasti apa yang terjadi di masa depan hanyalah Allah. “Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?” (Amsal 20:24). “Kuda diperlengkapi untuk hari peperangan, tetapi kemenangan ada di tangan TUHAN” (Amsal 21:31).
Jangan bertindak tanpa informasi yang cukup. Perencanaan harus dilakukan berdasarkan riset yang teliti dan menyeluruh agar keputusan yang dihasilkan tepat dan handal. Seringkali yang terjadi adalah kita lalai menyertakan Allah - apa rencana-Nya bagi kita? Menyertakan Allah dalam perencanaan, berarti melengkapi perencanaan dengan doa dan kepatuhan menyelaraskan rencana kita dengan kehendak Sang Maha Kuasa. “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” (Amsal 16:4). “Mata TUHAN menjaga pengetahuan, tetapi Ia membatalkan perkataan si pengkhianat.” (Amsal 22:12).
Perencanaan harus dilakukan berdasarkan riset yang teliti dan menyeluruh agar keputusan yang dihasilkan tepat dan handal. Seringkali yang terjadi adalah kita lalai menyertakan Allah apa rencana-Nya bagi kita? Menyertakan Allah dalam perencanaan, berarti melengkapi perencanaan dengan doa dan kepatuhan menyelaraskan rencana kita dengan kehendak Sang Maha Kuasa. “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka.” (Amsal 16:4). “Mata TUHAN menjaga pengetahuan, tetapi Ia membatalkan perkataan si pengkhianat.” (Amsal 22:12).
Waspada pada asumsi-asumsi Anda. Kita sering merencanakan banyak hal berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelumnya, dengan anggapan tidak akan ada halangan yang dapat mengagalkan rencana tersebut. Tetapi, pada kenyataannya halangan besar mungkin menerpa - topan badai dan gempa bumi, pergolakan ekonomi, kerugian tiba-tiba pada perhitungan bisnis, krisis internasional, kehilangan staff kepercayaan. Perencana yang bijaksana tidak mengasumsikan terlalu banyak hal yang dapat menyebabkan perubahan yang dramatis. “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” (Amsal 27:1).
Kita sering merencanakan banyak hal berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelumnya, dengan anggapan tidak akan ada halangan yang dapat mengagalkan rencana tersebut. Tetapi, pada kenyataannya halangan besar mungkin menerpa topan badai dan gempa bumi, pergolakan ekonomi, kerugian tiba-tiba pada perhitungan bisnis, krisis internasional, kehilangan staff kepercayaan. Perencana yang bijaksana tidak mengasumsikan terlalu banyak hal yang dapat menyebabkan perubahan yang dramatis. “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” (Amsal 27:1).
Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress) dan bersama Ken Johnson menulis buku berjudul: Pursuing Life With A Shepherd’s Heart (River City Press). Informasi lebih lanjut, dapat Anda temukan di www.theheartofmentoring.com.
CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749
E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
Pertanyaan Refleksi/Diskusi
-
Apakah Anda sudah mulai merencanakan hal-hal yang harus dilakukan tahun depan? Rencana besar dalam bidang apakah yang membutuhkan perhatian lebih?
-
Dari pengalaman baik dalam pekerjaan maupun kehidupan pribadi, apakah kesulitan yang ditemui saat menyusun rencana? Peristiwa apakah yang menghambat rencana yang telah tersusun dengan baik
-
Saat menyelesaikan pekerjaan, atau membuat rencana, pernahkah Anda merasa perlu mempersiapkan rencana alternatif atau “rencana B”? Jelaskan jawaban Anda.
-
Apakah Anda percaya bahwa rencana Allah penting bagi keberhasilan rencana Anda? Apakah Anda pernah menyertakan Allah dalam rencana pribadi Anda, tetapi mengabaikan-Nya dalam perencanaan bisnis Anda? Mengapa atau mengapa tidak?
Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan sebagai dasar perenungan topik yang berkaitan dengan perencanaan:
Mazmur 37:4-5; Amsal 3:5-6, 16:3, 16:9, 16:33, 19:21