Percaya pada Sesuatu
25 Juli 2005
ANDA HARUS PERCAYA PADA SESUATU!
Oleh: Dr. Richard C. Halverson
“Pada hakekatnya, Anda harus percaya pada seseorang. Bahkan ketika satu-satunya orang yang dapat Anda percayai adalah diri Anda sendiri. Beberapa agama bersifat mutlak. Anda percaya kepada Allah, atau Anda tidak percaya pada satu allah-pun.”
“Jika Anda percaya kepada Allah, maka itu dapat berarti Anda percaya kepada Allah yang Anda kenal melalui Alkitab, atau percaya kepada allah-allah yang lain. Jika Anda percaya kepada allah-allah lain, itu berarti Anda menganggap Alkitab tidak cukup layak dipercaya. Anda menolak Alkitab, pastilah karena Anda sudah mempunyai dasar untuk bersikap demikian. Apakah alasan penolakan Anda itu? Apa atau siapakah yang sangat Anda percayai sehingga Anda tidak mempercayai Alkitab? Mampukah dasar keyakinan Anda itu menghadapi kenyataan dalam kehidupan? Keselamatan kekal bagi jiwa Anda tergantung pada keyakinan Anda itu! Anda dapat percaya kepada Yesus Kristus, kepada Firman dan Karya-Nya, atau menolak-Nya. Jika Anda menolak Yesus Kristus, apa atau siapakan yang menjamin kehidupan kekal Anda?”
“Mungkin Anda tidak percaya pada kehidupan kekal. Kalau begitu: Apakah yang menjadi dasar ketidakpercayaan tersebut? Dari manakah Anda memperoleh pendapat seperti itu? Layak dipercayakah acuan pendapat Anda tersebut? Dapatkah Anda mempertaruhkan seluruh hidup Anda pada sumber keyakinan tersebut? Apakah dasar keyakinan Anda tersebut cukup dapat dipercaya untuk membenarkan penolakan terhadap Yesus Kristus dan kehidupan kekal yang dianugerahkan-Nya? Apakah dasar “iman” Anda menolak Yesus dan kehidupan kekal itu rasional sekaligus layak dipercaya?”
“Atau dengan perkataan lain, apakah Anda mempunyai iman yang masuk akal - atau iman Anda sebenarnya hanyalah keyakinan tanpa bukti? Misalkan, ada resiko yang harus Anda tanggung jika Anda percaya kepada Alkitab dan kepada Yesus Kristus, apakah bersiteguh pada keyakinan Anda itu beresiko lebih kecil? Manakah yang lebih besar resikonya: percaya kepada Yesus, atau percaya kepada sesuatu hal atau orang lain? Berdasarkan fakta sejarah, apakah atau siapakah yang lebih dapat Anda percayai? Siapakah yang melampaui Yesus sehingga berhasil memenangkan iman Anda? Apakah iman yang kini Anda yakini didasari oleh fakta - atau khayalan?”
“Yesus berfirman, ‘Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya’ (Lukas 6:49).”
Pada akhir paparannya dalam rangkaian pembukaan rapat Senat, Dr. Halverson mengucapkan doa berikut: “Allah Maha Pengampun yang ada di Sorga, tolonglah kami untuk melihat perbedaan antara agama - cara manusia mencari Allah, dengan iman Alkitabiah - cara Allah mencari manusia. Jagalah kami agar tidak menciptakan allah-allah kami sendiri sehingga menurunkan harkat kemanusiaan kami, yang diciptakan secitra dengan Allah. Jagalah kami juga agar tidak menjadi allah bagi diri kami sendiri, karena hanya percaya kepada kemampuan diri kami dan akhirnya terjerat dalam keputusasaan akibat pemujaan diri sendiri. Pimpinlah kami mendekat kepada-Mu melalui satu-satunya pintu – yaitu Yesus - sebagaimana sabda-Nya dalam Yohanes 14:6.” Dr. Halverson menujukan paparannya ini kepada para pejabat tinggi negara yang baru saja terpilih, tetapi sesungguhnya perkataannya ini juga relevan bagi para profesional dan pelaku bisnis. Karena kita pun, harus percaya kepada seseorang, kepada sesuatu, bahkan bila satu-satunya yang dapat kita percayai adalah diri kita sendiri. Apa yang kita yakini dan di mana kita dasarkan keyakinan kita - pada talenta dan keahlian, perusahaan, rekanan bisnis, sumber keuangan dan harta benda, investasi, para sahabat, atau pada sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang kita sebut sebagai “Allah” sangatlah berpengaruh pada pola pikir dan perilaku kita.
Iman membentuk prioritas dan nilai yang kita anut. Iman juga membentuk pribadi kita, dari luar dan dari dalam, membangun karakter, keyakinan dan komitmen. Pertanyaan yang diajukan oleh Dr. Halverson patut direnungkan: Apakah Anda memiliki iman yang masuk akal - atau iman Anda sebenarnya hanyalah keyakinan tanpa bukti?
Mendiang Dr. Richard C. Halverson adalah salah satu pendeta yang paling dikagumi dan dihormati yang pernah melayani para anggota Senat Amerika Serikat. Ia tidak pernah tertarik bergabung dengan partai politik manapun; baginya setiap anggota senat tanpa memandang partai politik - partai Demokrat, Republik, atau lainnya - adalah anggota “jemaat”nya. Pesan yang menjadi renungan ini disampaikan oleh Dr. Halverson pada rapat Senat 1 Mei 1984. Bagian akhir Monday Manna edisi kali ini merupakan aplikasi pemikirannya dalam dunia bisnis dan profesional.
CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115 Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org
Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
Pertanyaan Refleksi/Diskusi
-
Apa tanggapan Anda saat membaca kalimat di awal paparan Dr. Halverson, “Anda harus percaya kepada seseorang”? Apakah Anda sependapat dengan pernyataan tersebut?
-
Jika benar bahwa kita harus percaya kepada seseorang, siapa - atau apa - yang menjadi dasar keyakinan Anda? Apa yang menyebabkan Anda sampai pada keyakinan tersebut?
-
Apa pendapat Anda terhadap pertanyaan berikut, “Apakah Anda memiliki iman yang dapat diterima akal - atau iman Anda sebenarnya hanyalah keyakinan tanpa bukti?” Mengapa Anda berpendapat seperti itu?
-
Setiap kali nama Yesus dikemukakan, akan muncul dua reaksi emosional yang kuat, baik tanggapan positif maupun negatif. Menurut Anda mengapa hal ini terjadi? Apakah Anda setuju dengan pendapat Dr. Halverson, dalam doanya, bahwa terdapat perbedaan antara agama (cara manusia mencari Allah), dan iman berdasarkan Alkitab (cara Allah mencari manusia)? Jelaskan jawaban Anda.
Tak terhitung ayat Alkitab yang berkaitan dengan kepercayaan dan iman yang masuk akal. Ayat-ayat di bawah ini adalah contoh yang dapat Anda gunakan sebagai dasar perenungan topik tersebut:
Amsal 14:15; Matius 8:5-13; Matius 17:20; Markus 2:1-12; Lukas 8:22-25; Roma 5:1-5; Roma 9:33; Roma 10:9-11; Ibrani 11:1