Wednesday, January 18, 2006

A Dream Deferred

- Langston Hughes
What happens to a dream deferred?  
Does it dry up  Like a raisin in the sun?  
Or fester like a sore--  And then run?  
Does it stink like rotten meat?  
Or crust and sugar over--  like a syrupy sweet?  
Maybe it just sags  like a heavy load.  Or does it explode?

[almost 15 years ago, I found this poem quoted in the first page of a borrowed book... the book has long forgotten, yet the poem still lingered in my heart]

Posted by Suzanna L. Siregar at 10:02:10 | Permalink | No Comments »

Inspiring Prayer

Through 2005, this verse became my prayer and hopefully will continue to be my prayer and my submission to The Almighty in this new year and  the rest of my life

Ecce ancilla Domini fiat mihi secundum verbum tuum

- Luke 1 : 38

Posted by Suzanna L. Siregar at 09:53:42 | Permalink | No Comments »

Pengayaan SDM

29 Agustus 2005

MENINGKATKAN NILAI BISNIS DAN SUMBER DAYA MANUSIA

Oleh: Rick Warren

Mereka yang biasa melakukan investasi di Pasar Modal sudah sangat mengenal istilah “Apresiasi”. Apresiasi berarti “peningkatan nilai.” Bisnis yang sehat memiliki banyak aset yang nilainya terus bertambah. Namun sesungguhnya, aset paling berharga dalam suatu bisnis adalah sumber daya manusia. Memang banyak hal tergantung dari kepemimpinan, tetapi mutu orang yang dipimpin adalah juga suatu faktor yang penting. Sumber daya manusia yang bermutu akan menghasilkan barang dan layanan yang bermutu. Jika Anda dapat meningkatkan nilai karyawan atau rekan kerja Anda, berarti Anda telah berhasil membangun perusahaan yang bernilai tinggi.

Dan bagaimana Anda dapat meningkatkan nilai mereka yang bekerja untuk dan dengan Anda? Dengan mengapresiasikan mereka. Bagaimana Anda melakukannya? Cara terbaik meningkatkan nilai jangka-panjang bisnis Anda adalah dengan menunjukkan apresiasi - penghargaan - kepada mereka yang bekerja dengan Anda, menghargai nilai kontribusi yang diberikan para pekerja bagi keberhasilan perusahaan.

Penghargaan membangkitkan potensi terbaik dalam setiap diri manusia: memotivasi; membantu belajar dengan lebih baik; dan mengilhami kita menjadi lebih produktif. William James, seorang psikolog ternama berpendapat, “Prinsip paling mendasar dari sifat manusia adalah keinginan untuk dihargai.” Penulis termasyhur Mark Twain suatu kali berkata, “Aku dapat hidup dua bulan berbekal satu pujian yang baik!”

Alkitab juga mencatat banyak hal tentang menunjukkan penghargaan dan pujian bagi orang lain. Misalnya, tertulis, “Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu” (1 Tesalonika 5:11). Penulis Kitab Ibrani dalam Ibrani 10:24-25 menganjurkan para pembaca untuk “saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik… saling menasihati ….”

Bisnis yang sukses menghargai tiga hal menyangkut hakekat kemanusiaan, yaitu:

  •  

  • Perbedaan pada setiap manusia. Kenali dan hargailah keunikan setiap pribadi. Allah menciptakan kita berbeda satu dengan yang lain untuk suatu rencana! Kehidupan akan menjemukan dan membosankan bila semua manusia berpikir dan bertindak dengan cara yang serupa. Terdapat kekuatan dalam perbedaan. Tujukan perhatian untuk menciptakan kesatuan tanpa menghancurkan keberagaman.
  • Keandalan manusia. Waktu paling tepat untuk menunjukkan penghargaan kepada orang lain adalah bilamana mereka ada bersama-sama dengan Anda menghadapi masa-masa sulit. “Old Faithful” bukanlah geyser - sungai salju - terbesar di Amerika, tetapi adalah geyser paling terkenal karena kehadiran sungai itu selalu dapat diandalkan. Hargailah mereka yang dapat dipercayai, terutama mereka yang bersama-sama dengan Anda pada masa-masa sulit.
  • Upaya Manusia. Hargailah apa yang telah karyawan dan rekan Anda kerjakan utamanya bila mereka telah bekerja dengan sebaik-baiknya - hargai mereka, bahkan jika hasilnya belum memenuhi harapan Anda. Tepukan ringan di bahu seringkali membawa hasil lebih baik dibanding tendangan keras!

    Penghargaan yang efektif memiliki tiga sifat berikut ini:

 

 

  •  

  • NYATA – Penghargaan haruslah tulus, datang dari hati yang paling dalam; tidak pura-pura dan tidak manipulatif
  • MUDAH DIKENALI – saat dilontarkan, pujian dan penghargaan haruslah jelas dan spesifik sehingga penerima pujian sungguh-sungguh merasa dihargai.
  • TERATUR – apresiasi harus secara teratur diberikan, tidak ditunda atau disimpan dan baru ditunjukkan pada suatu acara atau tujuan khusus.

Seperti yang diungkapkan oleh Ken Blanchard, seorang penulis tenar, pembicara dan pakar manajemen, “Biasakan memergoki orang ketika mereka sedang melakukan sesuatu dengan benar!” Semakin sering Anda menunjukkan apresiasi kepada mereka yang bekerja dengan Anda, semakin mereka akan menghargai Anda, perusahaan dan tugas yang mereka emban.

Sebagai tambahan, apresiasi juga tidak hanya berlaku di dunia kerja, apresiasi juga bermanfaat membangun hubungan yang harmonis dengan pasangan hidup dan anak-anak Anda. Hargailah mereka - mereka pasti menyukainya!

Rick Warren adalah penulis buku laris berjudul, The Purpose-Drive Life, yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan dijual di seluruh penjuru dunia. Buku ini memaparkan pentingnya memiliki tujuan hidup yang dengan seksama dan jelas dirumuskan sebagai panduan menjalani kehidupan setiap hari.

*CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

 

 

 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Apa arti kata “apresiasi” bagi Anda? Apakah makna kata ini berkaitan dengan pengalaman dan perasaan yang Anda dapatkan berdasarkan rutinitas yang Anda temukan di tempat kerja? Jelaskan jawaban Anda.
  2. Seberapa baiknya Anda mengungkapkan dan menunjukkan penghargaan bagi orang lin? Jika Anda tidak begitu baik menyampaikan dan mengungkapkan apresiasi kepada orang lain, menurut Anda apa yang menyebabkannya? Apa yang dapat Anda lakukan untuk mengubahnya?
  3. Apakah Anda setuju bahwa mengungkapkan penghargaan kepada karyawan, rekan kerja, bahkan kepada atasan adalah suatu hal yang penting? Mengapa atau mengapa tidak?
  4. Biasanya bagaimana tanggapan Anda, ketika menerima ucapan berisi pujian atau penghargaan? Apa pendapat Anda mengenai penghargaan yang diwujudkan dalam bentuk kasat mata, misalnya melalui perhatian atau hadiah sederhana? Apa keuntungan dan kerugian pernyataan apresiasi dalam bentuk nyata

 

 

Ayat-ayat Alkitab berikut ini dapat Anda gunakan untuk merenungkan pentingnya memberi penghargaan bagi orang lain dan manfaat saling memberi dukungan:

Ulangan 3:28; Hakim-Hakim 20:22; 2 Tawarikh 35:2; Yesaya 41:6; Pengkhotbah 4:9-12

Posted by Suzanna L. Siregar at 09:19:20 | Permalink | No Comments »

Peristirahatan

22 Agustus 2005

DI MANAKAH PERISTIRAHATAN BAGI MEREKA

YANG LETIH-BEKERJA?

Oleh: Robert J. Tamasy

Seseorang pernah menggambarkan pertandingan sepak bola Amerika sebagai permainan yang melibatkan 60.000 orang yang sangat ingin berolahraga menonton 22 atlet yang sangat memerlukan istirahat. Komentar yang sama dapat ditujukan untuk pertandingan sepak bola, bola basket, lacrosse, hoki dan cabang olahraga lainnya. Dalam dunia kerja dan bisnis, kebalikannyalah yang terjadi. Kita sangat mahir mempertahankan jadual yang padat dan sibuk. Sangatlah sulit mencari waktu untuk beristirahat.

Ketika masih bekerja di surat kabar, saya merasakan bagaimana waktu tenggat mendominasi suasana kerja. Tiada hari tanpa berita, dan sudah menjadi tantangan rutin untuk dapat meliput dan menyajikan semua berita yang terjadi dalam suatu hari. Kemudian saat menjadi editor sebuah majalah dan direktur komunikasi sebuah organisasi nirlaba, saya tidak hanya merasakan cengkraman waktu tenggat tetapi juga beban kerja yang ditimbulkan oleh pekerjaan-pekerjaan sederhana untuk memenuhi batas waktu tersebut.

Hal yang sama terjadi di semua perusahaan: Presentasi penjualan, laporan produksi, laporan keuangan, riset pemasaran, pengantaran barang, inventaris persediaan, rapat staf, janji dengan klien. Semua kegiatan ini, dan masih banyak lainnya, tampaknya membuat kita bergerak makin cepat. Dan lebih buruk lagi, kecepatan gerak kita tidak pernah berkurang. Sebenarnya tidaklah sepenuhnya buruk mempunyai jadual kerja yang padat; malah dalam banyak kasus memanfaatkan waktu untuk bekerja lebih baik dibanding hanya duduk berpangku tangan. Makin cepat terasa waktu berlalu, makin besar kemungkinan bisnis Anda bertahan hidup.

Masalah timbul saat kita bereaksi dan memberi tanggapan sedemikian cepatnya hingga tidak ada cukup waktu untuk merenung, menyegarkan diri kembali - dan beristirahat. Charles E. Hummel, seorang penulis menyebutnya sebagai “Penindasan yang mendesak” - karena terjebak dalam “kondisi darurat” yang harus segera diatasi, kita mengabaikan hal-hal terpenting dalam kehidupan, termasuk kesejahteraan jiwa, raga dan rohani.

Memang, akhir pekan dan liburan (atau dalam beberapa budaya disebut sebagai “libur hari raya”) adalah salah satu cara beristirahat. Tetapi apa yang Anda lakukan bila pada petang hari Senin Anda sudah merasa sangat lelah seolah telah bekerja selama dua minggu tanpa henti? Apa yang Anda lakukan bila liburan yang sangat didambakan baru dapat Anda nikmati dua bulan lagi? Apakah Anda hanya akan “tenggelam” dalam kesibukan, tidak mengindahkan kelelahan yang Anda rasakan dan berusaha menyakinkan diri sambil berkata, “Saya baik-baik saja. Saya belum memerlukan istrirahat. Saya dapat bertahan!”?

Banyak orang menganggap Alkitab sebagai buku yang mencantumkan hal-hal yang “harus” dan yang “tidak boleh” dilakukan, namun sungguh mengagumkan, bahwa Alkitab ternyata cukup banyak memuat anjuran tentang beristirahat. Dalam kitab Kejadian, dapat kita baca bahwa setelah enam hari penciptaan alam semesta, bahkan Allah pun beristirahat. Dan dalam Kesepuluh Firman tercantum perintah untuk dengan taat mengingat dan menguduskan hari “Sabat”, satu hari dalam satu minggu yang secara khusus diperuntukkan untuk beristirahat. Sebagai penekanan betapa pentingnya istirahat, Alkitab mencatat alasan dan sumber istirahat:

Mengapa waktu istirahat diperlukan. Kita cenderung berpendapat bahwa semakin lama dan semakin keras kita bekerja, kita akan semakin produktif. Tetapi bila jiwa dan raga sudah lelah, maka sesungguhnya kita berada di titik pencapaian hasil-yang-terus-menurun. Jika sudah demikian, maka hal yang paling “produktif” yang dapat kita lakukan adalah beristirahat, meski hanya sebentar. Allah kemudian akan mengisi waktu rehat itu. “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah - sebab Ia (Allah) memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur” (Mazmur 127:2).

Di mana peristirahatan dapat ditemukan. Para ahli cuaca menyebutkan senantiasa ada ketenangan usai badai. Ketika berada di dunia, Yesus berjanji akan memberikan ketenangan di tengah amukan badai bagi setiap orang yang berseru kepada-Nya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

Bagaimana menemukan peristirahatan. “Waktu istirahat” pribadi sangatlah bermanfaat, tidak harus dalam bentuk cuti satu hari, tapi mungkin hanya berbaring atau tidur sebentar. Yang penting dapat berhenti beberapa menit dari apa yang sedang kita kerjakan lalu meminta Allah mengaruniakan ketenangan dan kejernihan pikiran untuk menghadapi pekerjaan. “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:10).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden untuk bidang komunikasi pada Leaders Legacy Inc., suatu perusahaan nir-laba yang berpusat di Atlanta, Georgia, A.S. Berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai journalis profesional, dan bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), bersama Ken Johnson menulis buku berjudul Pursuing Life With A Shepherd’s Heart (River City Press). Keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org. Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Bagaimana Anda menggambarkan keadaan fisik, mental - dan rohani - Anda hari ini? Apakah Anda cukup beristirahat dan merasa segar, atau justru Anda merasa lesu, lelah karena tugas-tugas yang mengikat dan tekanan yang Anda hadapi?
  2. Apakah tempat kerja Anda menganggap “istirahat” sebagai kemewahan yang tidak perlu, atau sebaliknya tempat kerja Anda mengenali dan memperkenankan setiap individu menyegarkan diri agar dapat bekerja dengan lebih efektif dan produktif? Jelaskan jawaban Anda.
  3. Tidakkah Anda terkagum-kagum bahwa Alkitab – yang kerapkali dikenal karena pengajaran mengenai apa yang harus dan tidak boleh dilakukan dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari - ternyata juga mengajarkan pentingnya istirahat? Mengapa atau mengapa tidak?
  4. Akhirnya, Alkitab menganjurkan kita berpaling kepada Allah sebagai tempat peristirahatan, bahkan di tengah kesulitan dan pergumulan hidup? Pernahkah Anda menerapkannya? Jika pernah, mudahkah bagi Anda melakukannya?  

    Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat Anda gunakan untuk merenungkan pencarian peristirahatan di tengah pergumulan hidup:

    Keluaran 33:14; Yosua 1:13; 1 Raja-Raja 19:1-9; Mazmur 37:7,34; Lukas 8:22-25

 

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 09:07:03 | Permalink | No Comments »

Goncangan

15 Agustus 2005

TIDAK ADA GONCANGAN, TIDAK ADA HIDUP SUKSES

Oleh: Robert D. Foster

Anda tentu pernah membaca petunjuk penggunaan yang direkatkan di belakang botol bumbu salad? “KOCOK BOTOL SEBELUM DIGUNAKAN.”

Pelembut raga, semir sepatu cair, pembersih lantai, cat – dan masih banyak produk lainnya di sekeliling kita, yang kita gunakan di rumah maupun di tempat kerja perlu dikocok terlebih dahulu sebelum dapat berguna dengan efektif. Tanpa guncangan, yang kita temukan hanyalah lapisan minyak atau serbuk; bagian terbaik mengendap di dasar botol.

Hidup juga demikian. Kita harus tahan menghadapi goncangan bila ingin berguna. Keberhasilan datang segera setelah goncangan! tampaknya hal ini hampir-hampir menjadi dalil untuk memandang kehidupan.

Namun jujur saja: Siapa di antara kita berkenan digoncang? Siapa yang mengharapkan dihempaskan, diputar-balikkan dan diombang-ambingkan? Kita menyukai hari-hari di mana kita merasa tenang dan santai. “Kenyamanan” dan “ketenangan.” menjadi dua hal tak terpisahkan untuk menggambarkan keadaan “semua berjalan lancar”. Tidak ada hambatan, semua berjalan mulus.

Tetapi, kehidupan tidaklah selalu mulus. Malahan, tampaknya tidak pernah tetap tenang. Tiba-tiba, di tengah perjalanan hidup yang nyaman dan tenang, badai menyerang, mendadak pergolakan dan pergumulan hidup mengubah rutinitas hidup yang telah dengan susah-payah kita usahakan.

Seolah ada Seseorang yang menjalankan mesin pengolah kehidupan dengan kecepatan tinggi, mengiris, memotong dan menghancurkan kita. Kita berputar, tanpa daya, tak juga tahu bilamana goncangan hidup akan berakhir. Inikah prisip dasar kehidupan? Bahwa kebergunaan tergantung dari goncangan yang kita alami dalam kehidupan? Jika kita percaya apa yang kita baca dalam Alkitab, yang secara harfiah adalah Firman Allah, maka “goncangan-goncangan” pun adalah bagian kehidupan – seperti juga waktu-waktu di mana kita merasa tenang dan nyaman.

Sebagai contoh, Ayub, seorang terpandang, yang mengalami goncangan hidup yang jauh melebihi imajinasi rata-rata manusia, berkata, “Bila Ia membongkar, tidak ada yang dapat membangun kembali; bila Ia menangkap seseorang, tidak ada yang dapat melepaskannya” (Ayub 12:14). Ayub adalah seorang yang digoncang. Sebagai pengusaha paling berhasil di jamannya, Ayub kehilangan segalanya, tidak hanya kekayaan, harta-benda, tetapi juga anggota keluarga yang dikasihi bahkan kesehatannya. Kerajaan pertanian dan peternakan yang dibangunnya luluh lantak, tidak ada harapan untuk kembali berjaya. Tampaknya kematian merupakan penyelesaian paling melegakan.

Contoh lain dari Perjanjian Lama adalah Yunus, ia mengalami goncangan saat berada di dalam perut ikan. Perjalanan ke Barat yang direncanakannya tiba-tiba berakhir, diperlukan tiga hari dalam perut ikan sebelum Yunus dihempaskan ke tepi pantai dan memulai kembali perjalanan ke Timur yang awalnya enggan ia jalani.

Dalam Perjanjian Baru, Petrus – salah seorang murid Yesus yang paling setia - juga adalah seorang yang digoncang. Kedamaian yang dirasakannya selama menjalani hidup sebagai nelayan di Laut Galilea digantikan dengan pelbagai kejadian menggemparkan sebagaimana dicatat dalam kitab Kisah Para Rasul. Kisah hidup Petrus adalah kisah manusia yang kehidupannya diputar-balikkan – untuk kemudian dibangun kembali.

Tak dapat disangkal, kita dapat tergoncang oleh berbagai peristiwa dalam kehidupan. namun selalu ada pengharapan. Goncangan tidak berlangsung selamanya. Alkitab menegaskannya sebagaimana tertulis dalam Ibrani 12:27, ” . . . perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan.” Mereka yang menyerahkan hidupnya untuk mengikut Tuhan akan menerima jaminan ini. “. . .karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya dengan hormat dan takut” (Ibrani 12:28).

Diambil dan disarikan dari Take Two On Monday Morning, yang ditulis dan diterbitkan oleh Rober D. dan Rick Foster. Ijin memperbanyak dengan mencantumkan nama pengarang dan penerbit diberikan dengan cuma-cuma. Pertanyaan atau komentar dapat dikirimkan ke alamat: 29555 Goose Creek Rd, Sedalia, CO 80135, U.S.A., atau faks (303) 647-2315

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org

Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

 

 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Sebutkan benda lain – makanan, produk untuk rumah tangga, atau benda yang Anda gunakan dalam pekerjaan – yang harus dikocok terlebih dahulu sebelum digunakan? Apa yang terjadi jika benda tersebut tidak dikocok atau diaduk: apakah benda-benda tersebut masih dapat digunakan?
  2. Renungkanlah waktu di masa lalu ketika Anda mengalami goncangan yang keras. Apakah hasil akhir goncangan tersebut? Merenungkannya kembali, dapatkah Anda melihat manfaat goncangan tersebut?
  3. Peristiwa apa yang baru-baru ini – atau saat ini – menggoncang Anda? Bagaimana Anda mengatasi nya? Apakah Anda mendapat kekuatan ketika mengingat ungkapan “keberhasilan datang segera setelah goncangan’?
  4. Apa pendapat Anda mengenai ayat Alkitab yang menyatakan bahwa anak-anak Allah akan “menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan”? Apa makna ayat tersebut bagi Anda? Bagaimana Anda menerapkan ayat ini untuk mengatasi keadaan yang akan Anda hadapi dalam pekerjaan Anda minggu ini?

Anda dapat merenungkan topik edisi kali ini dengan menggunakan ayat-ayat Alkitab berikut ini:

Mazmur 18:1-6; Ayub 38:12,13; Yesaya 13;13; Yesaya 26:3 ; Hagai 2:6-9.

 

 

 

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 08:53:15 | Permalink | No Comments »

Monday, January 9, 2006

Kartu Kredit

8 Agustus 2005
 
PENGENDALIAN-DIRI: MENAKLUKKAN SANG SINGA YANG MENGAUM – MENGHINDARI HUTANG KARTU KREDIT
Oleh: Rick Boxx
 
Tampaknya, pengendalian diri dan pihak pemberi pinjaman berada di dua sisi yang berseberangan. Sebelum melakukan pembelian yang bernilai besar, seseorang dengan pengendalian-diri akan berpikir panjang dan mengevaluasi dengan seksama baik keuntungan – maupun akibat - yang mungkin terjadi mengikuti transaksi tersebut. Mereka yang terbiasa menerapkan pengendalian-diri dan pertimbangan keuangan yang cermat cenderung akan merencanakan kebutuhan bisnis dengan teliti, mereka tidak akan membeli kendaraan atau peralatan secara spontan, mereka juga hanya akan menyetujui suatu kewajiban finansial yang bernilai besar setelah melalui pertimbangan yang matang.
 
Seolah menantang pengendalian-diri nasabah, bank menerbitkan kartu kredit. Kartu kredit yang menawarkan banyak kemudahan kepada nasabah tidak dipungkiri adalah cara efektif bank meraup keuntungan, terutama dari mereka dengan pengendalian-diri yang rendah. Penggunaan kartu kredit oleh bisnis kecil relatif baru dimulai, tetapi tampaknya akan semakin populer. Menurut Nilson Report, suatu perusahaan terkemuka yang bergerak dalam survei dan publikasi sistem pembayaran konsumen, penggunaan kartu kredit tahun ini diperkirakan meningkat tajam menjadi $111.39 milyar, tiga kali lebih besar dibanding tahun 2000 yang bernilai $35.44 milyar.
 
Peningkatan nilai pembelanjaan lebih dari tiga kali lipat dalam rentang waktu lima tahun memperlihatkan betapa luar biasanya pertumbuhan minat dunia usaha menggunakan kartu kredit sebagai sumber dana. Hal ini dengan jelas memperlihatkan peningkatan potensi keuntungan bagi pihak pemberi pinjaman, sekaligus peningkatan kewajiban peminjam.
 
Panduan yang dikeluarkan oleh pihak pengatur perbankan memberikan wewenang kepada bank untuk menetapkan jangka waktu yang layak untuk pelunasan tagihan kartu kredit. Ketetapan ini menyebabkan perubahan batas minimum pembayaran kartu kredit. Jika awalnya, pembayaran minimum kartu kredit adalah sekitar 2 persen dari tagihan, maka karena pertimbangan “waktu yang layak”, pembayaran minimum segera akan digandakan menjadi 4 persen. Syarat pembayaran minimum sebesar 4 persen akan merupakan pukulan keras bagi bisnis kecil, terutama karena jumlah perusahaan kecil yang menggunakan lebih dari satu kartu kredit semakin meningkat; terlebih lagi karena perusahaan-perusahaan kecil yang berhutang dengan kartu kredit umumnya nyaris bahkan sama sekali tidak mempunyai aliran kas untuk pembayaran minimum yang kini mereka hadapi. Entah bagaimana mereka dapat membayar hutang jika batas pembayaran minimum ditingkat dua kali lipat?
 
Dalam Alkitab, Rasul Petrus mengenali bahaya kurangnya pengendalian diri dalam setiap segi kehidupan. Dalam 1 Petrus 5:8, ia mengingatkan, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Bertahun-tahun sudah, saya berkesempatan berbicara dengan banyak pelaku bisnis yang percaya bahwa pengajuan permohonan kartu kredit merupakan jawab Allah atas doa untuk memperoleh suntikan dana dengan cepat. Tetapi, setahun kemudian, pengusaha yang sama, meski dengan sangat sungkan, terpaksa mengakui bahwa “jawaban atas doa” mereka tersebut sesungguhnya adalah godaan untuk mencari jalan keluar yang tidak bijaksana mengatasi kebutuhan yang mendesak.
 
Alkitab berisi ratusan ayat yang mengajarkan prinsip manajemen keuangan yang baik, salah satu prinsip yang paling akurat dan langsung-ke-sasaran adalah cara pandang Alkitab mengenai keterikatan pada hutang, baik dalam kehidupan pribadi maupun pekerjaan, seperti yang tertulis dalam Amsal 22:7: “Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” Penggunaan hutang yang tidak bijaksana.” Penggunaan hutang secara tidak bijaksana dapat dengan cepat mengubah seorang eksekutif yang cemerlang menjadi hamba yang hina dan rendah.
 
Sebuah nasehat: Jika anda berencana memulai suatu bisnis, atau mencari tambahan dana untuk mengembangkan usaha, tingkatkan pengendalian-diri sehingga Anda dapat menghindari penggunaan taktik yang sedang sangat popular dan mudah – menggunakan kartu kredit. Berdoa dan carilah kehendak dan hikmat Allah. Gunakan model keuangan pribadi dan bisnis berbasis Alkitab yang sudah teruji dan bertahan dalam rentang waktu yang panjang. Jika Anda mencobanya, maka Anda akan menemukan cara yang lebih tepat - dan jauh lebih aman – dibandingkan menggunakan kartu kredit, terhindar dari bahaya akibat menggapai sesuatu di luar kemampuan diri.  Dengan cara Alkitab ini, alih-alih harus membayar lebih banyak hutang, Anda malah akan dapat membukukan lebih banyak manfaat atas penggunaan sumber daya keuangan Anda sendiri.
 
(Copyright 2005, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani. Untuk informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail, Anda dapat menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.
 
CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org
 
Pertanyaan Refleksi/Diskusi
  1. Secara umum, bagaimana Anda menilai kadar pengendalian-diri Anda dalam kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun dalam pekerjaan? Apakah Anda menilai diri Anda sebagai orang yang berdisiplin-tinggi dan penuh pengendalian-diri? Mengapa atau mengapa tidak?
  2. Sebagai pemilik perusahaan, atau sebagai eksekutif tingkat tinggi, atau sebagai seseorang yang memiliki kewenangan manajemen untuk melakukan pembelian dengan kartu kredit, bagaimana Anda menggunakan kewenangan tersebut? Jelaskan jawaban Anda.
  3. Apakah Anda – atau orang yang Anda kenal - pernah mengalami kesulitan membayar tagihan kartu kredit? Apa sajakah kesulitan-kesulitan yang timbul akibat jeratan hutang tersebut?
  4. Beberapa ayat Alkitab menyatakan bahwa peminjam akan menjadi hamba bagi pemberi pinjaman, juga menunjukkan bahaya kurangnya pengendalian-diri? Apa pendapat Anda mengenai prinsip yang dikemukakan oleh ayat-ayat tersebut - apakah prinsip-prinsip tersebut masih sesuai dengan kehidupan dan dunia kerja di abad ke 21 ini?

    Berikut adalah ayat-ayat Alkitab mengenai perangkap hutang dan kurangnya pengendalian-diri:

    Amsal 10:2; Amsal 13:11; Amsal 15:16; Lukas 16:1-9; Lukas 16:10-13

 
Posted by Suzanna L. Siregar at 05:29:37 | Permalink | No Comments »

Tumpuan Harapan

1  Agustus 2005

APAKAH TUMPUAN HARAPAN ANDA?

Oleh: Robert J. Tamasy

Bila direnungkan secara mendalam, sangat sedikit hal dalam kehidupan bersifat pasti. Di antara sedikit hal tersebut, selain kematian – tampaknya hanya pajak, itu pun tidak di semua negara - yang pasti benar-benar terjadi. Hidup dalam dunia yang terus menerus mengalami pergolakan politik, sosial dan teknologi, menyebabkan kita menyadari bahwa perubahan adalah sesuatu yang tak terelakkan. Banyak hal yang kita andalkan – pekerjaan, keuangan, kesehatan, mobil dan peralatan rumah tangga, bahkan hubungan kita – dapat hilang atau hancur dengan sedikit atau bahkan sama sekali tanpa pertanda.

Meski enggan mengakui, setiap pagi kita bangun dan menjalani hidup sesuai dengan rencana yang didasarkan pada suatu asumsi, ekspektasi – dan harapan. Derajat pengharapan tersebut bervariasi mulai dari yang menyangkut hal-hal sederhana (misalnya berharap alat pemanas air bekerja dengan baik sehingga kita dapat mandi dengan air hangat) sampai harapan yang sangat mulia (berharap matahari terbit seperti biasa dan tidak akan ada bencana alam yang menghancurkan dunia). Di antara kedua harapan yang ekstrem ini, terbentang harapan-harapan lain, seperti: perusahaan kita tidak akan mengalami kerugian yang parah; orang yang akan kita temui akan datang sesuai janjinya; setiap pengemudi kendaraan yang berpapasan dengan kita di jalan berada di jalur yang benar; penerbangan yang membawa kita dalam perjalanan bisnis tiba dengan selamat, dan lain sebagainya.

Banyak hal yang kita “harap”kan akan terjadi sebenarnya lebih tepat kita sebut sebagai “karena meskipun menyadari bahwa harapan berada di luar kendali, kita berpikir, berencana dan bertindak berdasarkan apa yang kita inginkan dan harapkan terjadi.

Jadi “apa yang saya inginkan terjadi” sangat berbeda dengan pengharapan. Ucapan “Saya ingin begitulah yang terjadi,” bermakna: itulah yang saya harapkan atau inginkan terjadi. Jika tidak terjadi, saya akan kecewa, dan mau tidak mau saya harus menerimanya. Saya lebih senang mendefinisikan harapan sebagai “pengharapan yang sungguh-sungguh,” di mana kepercayaan dan keyakinan dibangun di atas dasar pengetahuan, pengalaman dan iman; pengharapan yang demikian besarnya, sehingga di atasnya dapat saya pertaruhkan seluruh kehidupan saya.Pengharapan hadir ketika dua insan mengikat janji setia perkawinan. Pengharapan meyakinkan seseorang meninggalkan pekerjaan yang mapan demi posisi yang lebih baik. Pengharapan adalah menjalani operasi dengan keyakinan bahwa dokter dan paramedik yang terlibat dalam operasi tersebut memiliki keahlian dan ketrampilan yang membantu penyembuhan.

Kitab Amsal menjadi bukti bahwa pencarian makna pengharapan bukanlah sesuatu yang baru, sejak beribu-ribu tahun silam manusia sudah melakukannya. Renungkanlah kesimpulan dalam Kitab Amsal mengenai dampak pengharapan - dan ketiadaan-harapan – berikut ini:Dampak negatif dari ketiadaan-harapan. Apakah Anda atau seseorang yang Anda kenal pernah berada di titik keputusasaan, baik menyangkut kehidupan pribadi maupun dalam hal pekerjaan? Ketiadaan-harapan dapat secara langsung menyebabkan penderitaan jiwa dan raga. ” Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan” (Amsal 13:12).

Dampak positif harapan berwujud-nyata. Bukankah pencapaian kesuksesan setelah bekerja keras dengan mengerahkan seluruh sumber daya pikiran, perasaan dan tenaga merupakan suatu hal yang membahagiakan? Memenangkan suatu tantangan menghantarkan kebahagiaan yang tak terkira. “Keinginan yang terlaksana menyenangkan hati, menghindari kejahatan adalah kekejian bagi orang bebal” (Amsal 13:19).

Sumber pengharapan yang sejati. Setiap orang berharap pada sesuatu atau seseorang. Tetapi, mereka yang menjadi tumpuan harapan kita, mungkin saja dapat mengecewakan. Tokoh pahlawan kadangkala terbukti tidak sehebat sangkaan kita. Rekan bisnis melanggar perjanjian. Pasangan hidup mengecewakan kita. Adakah sesuatu, atau seseorang, yang dapat kita percayai - menjadi tumpuan harapan kita - yang tidak akan mengecewakan? Amsal menyatakan: “Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”(Amsal 23:17-18). “… dan tetesan madu manis untuk langit-langit mulutmu. Ketahuilah, demikian hikmat untuk jiwamu: Jika engkau mendapatnya, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 24:13-14).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden untuk bidang komunikasi pada Leaders Legacy Inc., suatu perusahaan nir-laba yang berpusat di Atlanta, Georgia, A.S. Berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai journalis profesional, dan bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), bersama Ken Johnson menulis buku berjudul Pursuing Life With A Shepherd’s Heart (River City Press). Keterangan lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Selain kematian, pajak, dan perubahan yang terus-menerus terjadi, dapatkah Anda menyebutkan hal lain yang merupakan suatu kepastian? Jelaskan jawaban Anda.
  2. Hal-hal apakah yang kini sedang Anda harapkan, yang secara sadar Anda sebut sebagai: “apa yang saya inginkan terjadi” - menyangkut situasi yang mungkin dapat Anda usahakan, tetapi tidak dapat Anda kendalikan?     Bagaimana rasanya jika suatu yang merupakan “apa yang saya inginkan terjadi” berubah menjadi “tidak apa, mungkin itu memang tidak dapat saya peroleh”? Apakah Anda setuju akan adanya perbedaan antara harapan dan “apa yang saya inginkan terjadi”? Mengapa atau mengapa tidak?
  3. Ceritakanlah situasi di mana harapan Anda yang paling besar - pengharapan Anda yang sungguh-sungguh – terkabul. Bagaimana perasaan Anda?      Ceritakan juga saat harapan Anda tidak terwujud, tidak terkabul. Apakah dampak jangka pendek dan jangka panjang hal tersebut dalam kehidupan Anda?
  4. Apakah yang menjadi sumber pengharapan Anda yang tidak akan mengecewakan? Apakah Anda sependapat dengan Amsal 23:17-18? Jelaskan jawaban Anda, jangan ragu memberikan jawaban yang jujur.

    Berkaitan dengan pengharapan, Anda dapat mempelajari dan merenungkan ayat-ayat Alkitab di bawah ini:

     Ayub 31:24-28; Mazmur 16:9; Mazmur 145:5-6; Yeremia 17:7-8; Roma 8:24

 

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 05:15:02 | Permalink | No Comments »

Thursday, January 5, 2006

Percaya pada Sesuatu

25 Juli 2005

ANDA HARUS PERCAYA PADA SESUATU!

Oleh: Dr. Richard C. Halverson

“Pada hakekatnya, Anda harus percaya pada seseorang. Bahkan ketika satu-satunya orang yang dapat Anda percayai adalah diri Anda sendiri. Beberapa agama bersifat mutlak. Anda percaya kepada Allah, atau Anda tidak percaya pada satu allah-pun.”

“Jika Anda percaya kepada Allah, maka itu dapat berarti Anda percaya kepada Allah yang Anda kenal melalui Alkitab, atau percaya kepada allah-allah yang lain. Jika Anda percaya kepada allah-allah lain, itu berarti Anda menganggap Alkitab tidak cukup layak dipercaya. Anda menolak Alkitab, pastilah karena Anda sudah mempunyai dasar untuk bersikap demikian. Apakah alasan penolakan Anda itu? Apa atau siapakah yang sangat Anda percayai sehingga Anda tidak mempercayai Alkitab? Mampukah dasar keyakinan Anda itu menghadapi kenyataan dalam kehidupan? Keselamatan kekal bagi jiwa Anda tergantung pada keyakinan Anda itu! Anda dapat percaya kepada Yesus Kristus, kepada Firman dan Karya-Nya, atau menolak-Nya. Jika Anda menolak Yesus Kristus, apa atau siapakan yang menjamin kehidupan kekal Anda?”

“Mungkin Anda tidak percaya pada kehidupan kekal. Kalau begitu: Apakah yang menjadi dasar ketidakpercayaan tersebut? Dari manakah Anda memperoleh pendapat seperti itu? Layak dipercayakah acuan pendapat Anda tersebut? Dapatkah Anda mempertaruhkan seluruh hidup Anda pada sumber keyakinan tersebut? Apakah dasar keyakinan Anda tersebut cukup dapat dipercaya untuk membenarkan penolakan terhadap Yesus Kristus dan kehidupan kekal yang dianugerahkan-Nya? Apakah dasar “iman” Anda menolak Yesus dan kehidupan kekal itu rasional sekaligus layak dipercaya?”

“Atau dengan perkataan lain, apakah Anda mempunyai iman yang masuk akal - atau iman Anda sebenarnya hanyalah keyakinan tanpa bukti? Misalkan, ada resiko yang harus Anda tanggung jika Anda percaya kepada Alkitab dan kepada Yesus Kristus, apakah bersiteguh pada keyakinan Anda itu beresiko lebih kecil? Manakah yang lebih besar resikonya: percaya kepada Yesus, atau percaya kepada sesuatu hal atau orang lain? Berdasarkan fakta sejarah, apakah atau siapakah yang lebih dapat Anda percayai? Siapakah yang melampaui Yesus sehingga berhasil memenangkan iman Anda? Apakah iman yang kini Anda yakini didasari oleh fakta - atau khayalan?”

“Yesus berfirman, ‘Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya’ (Lukas 6:49).”

Pada akhir paparannya dalam rangkaian pembukaan rapat Senat, Dr. Halverson mengucapkan doa berikut: “Allah Maha Pengampun yang ada di Sorga, tolonglah kami untuk melihat perbedaan antara agama - cara manusia mencari Allah, dengan iman Alkitabiah - cara Allah mencari manusia. Jagalah kami agar tidak menciptakan allah-allah kami sendiri sehingga menurunkan harkat kemanusiaan kami, yang diciptakan secitra dengan Allah. Jagalah kami juga agar tidak menjadi allah bagi diri kami sendiri, karena hanya percaya kepada kemampuan diri kami dan akhirnya terjerat dalam keputusasaan akibat pemujaan diri sendiri. Pimpinlah kami mendekat kepada-Mu melalui satu-satunya pintu – yaitu Yesus - sebagaimana sabda-Nya dalam Yohanes 14:6.” Dr. Halverson menujukan paparannya ini kepada para pejabat tinggi negara yang baru saja terpilih, tetapi sesungguhnya perkataannya ini juga relevan bagi para profesional dan pelaku bisnis. Karena kita pun, harus percaya kepada seseorang, kepada sesuatu, bahkan bila satu-satunya yang dapat kita percayai adalah diri kita sendiri. Apa yang kita yakini dan di mana kita dasarkan keyakinan kita - pada talenta dan keahlian, perusahaan, rekanan bisnis, sumber keuangan dan harta benda, investasi, para sahabat, atau pada sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang kita sebut sebagai “Allah” sangatlah berpengaruh pada pola pikir dan perilaku kita.

Iman membentuk prioritas dan nilai yang kita anut. Iman juga membentuk pribadi kita, dari luar dan dari dalam, membangun karakter, keyakinan dan komitmen. Pertanyaan yang diajukan oleh Dr. Halverson patut direnungkan: Apakah Anda memiliki iman yang masuk akal - atau iman Anda sebenarnya hanyalah keyakinan tanpa bukti?

Mendiang Dr. Richard C. Halverson adalah salah satu pendeta yang paling dikagumi dan dihormati yang pernah melayani para anggota Senat Amerika Serikat. Ia tidak pernah tertarik bergabung dengan partai politik manapun; baginya setiap anggota senat tanpa memandang partai politik - partai Demokrat, Republik, atau lainnya - adalah anggota “jemaat”nya. Pesan yang menjadi renungan ini disampaikan oleh Dr. Halverson pada rapat Senat 1 Mei 1984. Bagian akhir Monday Manna edisi kali ini merupakan aplikasi pemikirannya dalam dunia bisnis dan profesional.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

1065 N. 115 Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org

Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Apa tanggapan Anda saat membaca kalimat di awal paparan Dr. Halverson, “Anda harus percaya kepada seseorang”? Apakah Anda sependapat dengan pernyataan tersebut?

  2. Jika benar bahwa kita harus percaya kepada seseorang, siapa - atau apa - yang menjadi dasar keyakinan Anda? Apa yang menyebabkan Anda sampai pada keyakinan tersebut?

  3. Apa pendapat Anda terhadap pertanyaan berikut, “Apakah Anda memiliki iman yang dapat diterima akal - atau iman Anda sebenarnya hanyalah keyakinan tanpa bukti?” Mengapa Anda berpendapat seperti itu?

  4. Setiap kali nama Yesus dikemukakan, akan muncul dua reaksi emosional yang kuat, baik tanggapan positif maupun negatif. Menurut Anda mengapa hal ini terjadi? Apakah Anda setuju dengan pendapat Dr. Halverson, dalam doanya, bahwa terdapat perbedaan antara agama (cara manusia mencari Allah), dan iman berdasarkan Alkitab (cara Allah mencari manusia)? Jelaskan jawaban Anda.

    Tak terhitung ayat Alkitab yang berkaitan dengan kepercayaan dan iman yang masuk akal. Ayat-ayat di bawah ini adalah contoh yang dapat Anda gunakan sebagai dasar perenungan topik tersebut:

    Amsal 14:15; Matius 8:5-13; Matius 17:20; Markus 2:1-12; Lukas 8:22-25; Roma 5:1-5; Roma 9:33; Roma 10:9-11; Ibrani 11:1

Posted by Suzanna L. Siregar at 10:12:19 | Permalink | No Comments »

Sikap Ceria

18 Juli 2005

SIKAP POSITIF DAN CERIA MEMBERI BANYAK MANFAAT

Oleh: Robert Foster

Studi yang dilakukan oleh University of Texas menyimpulkan bahwa orang dengan sikap positif mengalami proses penuaan lebih lambat dibanding kelompok pesimistis. Hasil penelitian atas 1.558 manula menyimpulkan bahwa orang yang gembira cenderung lebih sehat. Studi tersebut menarik kesimpulan bahwa emosi positif menjaga keseimbangan kimiawi tubuh manusia sehingga meningkatkan kesehatan.

Dalam buku terbarunya yang berjudul, Exuberance: The Passion of Life (Keceriaan: Gairah Menjalani Kehidupan), Kay R. Jamison mengungkapkan indahnya kesukacitaan - yang digambarkannya sebagai daya penggerak menuju pencapaian penemuan, kreativitas, kepemimpinan dan daya tahan hidup.

“Keceriaan mendorong kita semua untuk berpikir dan bertindak sedikit berbeda dari biasanya, membuat kita berani mengambil resiko yang sebelumnya tidak terpikirkan, membuat kita dapat bertahan menghadapi kepedihan dan kegagalan yang biasanya tidak dapat kita terima,” tulis Jamison. “Kegembiraan memberikan optimisme untuk percaya akan hari depan dan adanya kesempatan, keceriaan memperlihatkan arti keberadaan diri dan arti tindakan kita; keceriaan mendorong kita keluar menghadapi arena perjuangan hidup yang lebih luas.”

Tidaklah sulit merasakan pancaran kegembiraan yang bersumber dari pribadi yang ceria. Mantan Presiden A.S. Theodore Roosevelt, misalnya terkenal karena keceriaannya. Demikian juga pengusaha hiburan yang melegenda, P.T. Barnum, yang karena tidak pernah mengekang kejenakaan, hingga akhir hayatnya berhasil menciptakan pelbagai wahana permainan sirkus yang spektakuler untuk rombongan sirkus.

Beberapa tokoh - baik tokoh fiktif maupun tokoh sejarah - dikenal karena keceriaannya. Snoopy, tokoh anjing lucu dalam komik “Peanut”, barangkali adalah anjing paling jenaka di seluruh dunia. Bagi dunia, keceriaan karakter Winston Churchill menjadi penawar kekejaman Adolph Hitler. Hati yang gembira mendorong John Muir, seorang pencinta alam mengembara di belantara Amerika, dan mendirikan Taman Nasional Yosemite dan Sequioa yang indah mempesona.

Tampaknya penelitian terhadap perasaan “negatif” - misalnya depresi dan kekuatiran - lebih intensif dilakukan dibanding penelitian atas perasaan “positif”, Padahal barangkali, perasaan gembira yang menggugah semangat jauh lebih bermanfaat bagi manusia!

Menurut pendapat saya, Raja Salomo, yang menjalankan pemerintahan kerajaan kuno Israel, pun sepakat dengan Dr. Jamison mengenai arti dan pentingnya keceriaan dalam setiap sisi kehidupan sehari-hari. Tulisan Raja Salomo dalam Kitab Amsal dengan kuat menunjukkan kecenderungan tersebut. Berikut adalah beberapa contoh:

“Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat” (Amsal 15:13).

“Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta” (Amsal 15:15).

“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Amsal 17:22).

Renungkanlah juga ilustrasi ini: Seorang pandai besi tidak dapat berbuat apa pun jika api di tungkunya padam. Sama dengan itu, jika api dalam diri kita meredup, maka gairah dan semangat menjalani hidup - bekerja, menjalin hubungan, bahkan melakukan kegiatan rutin sehari-hari - juga akan padam. Ketrampilan dan bakat tidak dapat lagi digunakan secara maksimal, potensi untuk memberikan kontribusi yang berarti bagi orang-orang dan dunia di sekitar kita akan sangat berkurang. Kita perlu “membangkitkan nyala api” agar dapat menjalani dan menghadapi tantangan kehidupan dengan positif dan penuh semangat. Sembari melakukan hal itu, tetaplah menularkan nyala api kegembiraan dari orang-orang ceria di sekitar kita. Kita sudah terlalu jenuh dengan hal-hal negatif; bangkitkanlah semangat positif!

Disarikan dan diadaptasi dari Take Two On Monday Morning yang ditulis dan diterbitkan oleh Robert D. dan Rick Foster. Ijin untuk memperbanyak dengan mencantumkan nama penulis dan sumber - diperkenankan dan diberikan secara cuma-cuma. Pertanyaan dan komentar dapat dialamatkan pada: 29555 Goose Creek Rd, Sedalia, CO 80135, U.S.A., atau faks (303) 647-2315.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115 Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.orgUntuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org.

 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Apakah Anda sependapat dengan pernyataan bahwa seseorang dengan sikap positif akan dapat menikmati kehidupan - baik jasmani maupun rohani - yang lebih berkualitas dibandingkan dengan mereka yang memandang kehidupan secara pesimis? Mengapa atau mengapa tidak?
  2. Menurut Anda seperti apakah orang yang ceria itu? Dapatkah Anda menyebutkan orang paling ceria yang Anda kenal? Jelaskan jawaban Anda. Ukurlah derajat keceriaan Anda dengan menggunakan skala derajat keceriaan, nilai 1 untuk derajat terendah dan nilai 10 untuk derajat tertinggi! Berapa nilai yang Anda berikan untuk diri Anda sendiri?
  3. Tantangan-tantangan apa saja yang ditemukan saat mempertahankan cara pandang positif dan ceria dalam menjalani hidup masa kini? Bagaimana mengatasi tantangan-tantangan tersebut?
  4. Beribu-ribu tahun yang lalu Salomo sudah menulis Amsal tentang kegembiraan dan kepedihan. Menurut Anda apakah pernyataan-pernyataan Salomo tersebut masih dapat diterapkan dalam kehidupan masa kini? Jika masih, apa yang menyebabkan pernyataan-pernyataan yang telah sangat tua itu masih relevan dengan kehidupan di abad ke 21 ini?

    Ayat-ayat Alkitab yang berkaitan dengan topik edisi kali ini dapat Anda baca pada:

    2 Samuel 6:12-15. Mazmur 100:1; Yohanes 16:33; Kisah Para Rasul 27:21-26

Posted by Suzanna L. Siregar at 09:38:10 | Permalink | No Comments »

Keunggulan

11 Juli 2005

KEUNGGULAN AKAN BERTAHAN LAMA

Oleh: Rick Boxx

Di bagian tengah wilayah barat A.S. di mana saya tinggal tidak banyak ditemukan bangunan kuno, karenanya saya selalu terkesan setiap kali melihat bangunan berumur lebih dari 100 tahun. Di Amerika, kebanyakan gedung tidak berumur panjang – gedung-gedung yang baru berusia beberapa tahun sudah harus dirubuhkan karena pelbagai alasan, mulai dari alasan peningkatan efisiensi fungsi bangunan hingga untuk memperoleh keringanan pajak. Terbiasa dengan bangunan-bangunan yang keberadaannya relatif singkat, membuat saya terkagum-kagum menyaksikan bangunan-bangunan kuno di Israel. Dalam kesempatan mengunjungi Israel beberapa tahun silam, saya berkesempatan melihat gereja dan bangunan-bangunan lain yang didirikan lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Bangunan-bangunan itu tidak hanya sangat tua; tetapi juga sangat besar dan dirancang serta dibangun dengan cara yang luar biasa hingga mampu bertahan melintasi waktu.

Kini berbagai peralatan berat untuk memindahkan benda dan bahan berat telah banyak dibuat dan digunakan, suatu kemustahilan pada masa bangunan-bangunan kuno di Israel itu didirikan. Namun entah bagaimana, para pekerja bangunan di jaman itu berhasil memindahkan dan menyusun batu-batu gamping yang beratnya berton-ton itu.

 

Di Tanah Suci, gereja dengan langit-langit setinggi seratus kaki lazim ditemukan. Banyak tempat ibadah lainnya juga memiliki langit-langit tinggi berhias ornamen yang indah. Selain mengunjungi gereja dan tempat-tempat ibadah yang mempesona, saya juga berkesempatan melihat-lihat sistem irigasi dan amfiteater – arena pertunjukan dengan struktur melingkar – yang dirancang dengan cermat – dan masih tetap dapat digunakan hingga 2.000 tahun kemudian.

 

Menyaksikan secara langsung bangunan-bangunan yang luar biasa tersebut memperbaharui cara pandang saya mengenai kualitas dan ketrampilan kerja. Karya-karya indah dari masa lampau itu membuat saya menyadari bahwa kualitas yang tinggi teruji mampu bertahan dalam waktu berabad-abad, bukan hanya dalam jangka waktu puluhan tahun. Kesabaran dan ketelitian perancangan dan pembuatan bangunan-bangunan kuno itu terasa begitu asing bagi cara pikir manusia di abad ke-21. Sebagai contoh, dalam dunia kita yang “modern” ini, suatu perangkat lunak komputer yang canggih menjadi ketinggalan jaman hanya dalam waktu beberapa bulan. Bayangkanlah juga reaksi para pekerja, jika Anda meminta mereka bekerja tanpa henti mendirikan suatu bangunan selama lima, 10 atau bahkan 20 tahun!

 

Raja Salomo yang keunggulannya menjadi teladan bagi banyak orang, menuliskan pengajarannya dalam Pengkhotbah 3:14 “Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia.”

 

Di tempat kerja, keinginan agar rekan-rekan menganggap kita berkualitas, bahkan “menyegani” kita, memperlihatkan betapa lumrahnya berharap karya kita tetap dihargai dalam jangka waktu yang panjang - bahkan bertahan dalam keabadian. Tidakkah Anda menjalani kehidupan dan melakukan pekerjaan Anda dengan harapan bahwa dampak, atau “hasil” pekerjaan Anda akan terus bertahan lebih lama dari hanya beberapa dekade saja? Alkitab menyatakan bahwa kita diciptakan secitra dengan Allah (Kejadian 1:26-27). Jika hal ini benar, tidakkah kita seharusnya - sebagaimana Allah - mengusahakan agar hasil karya kita bertahan lama, bahkan abadi?

 

Jadi lain waktu, saat Anda memulai suatu proyek penting (apapun itu), atau sebelum memilih bahan yang akan digunakan atau ketika menetapkan cara penyelesaian suatu masalah, cobalah untuk berhenti sejenak guna merenungkan dampak tindakan Anda. Ajukanlah pada diri Anda pertanyaan ini, “Apakah tindakan saya berdampak atau bertahan hingga berabad-abad ke depan, tidak hanya bertahan dalam beberapa dekade?”

 

Ada pendapat yang dengan tegas menyatakan bahwa di dunia ini hanya ada dua hal yang bertahan selamanya yaitu: Firman Allah, dan umat manusia. Hal-hal lain akan lapuk dan kemudian lenyap. Jika pernyataan ini benar, dan jika Anda ingin memiliki karya yang tetap bertahan selama berabad-abad, mungkin cara bijaksana memperolehnya adalah dengan mengalokasi lebih banyak waktu untuk mewujudkannya sembari terus mengusahakan peningkatan kesejahteraan hidup umat manusia. Seperti yang dingatkan oleh Yesus dalam Yohanes 15:16, “. . . dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.”

 

(Copyright 2005, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani. Untuk informasi lebih lanjut mengenai menerima Integrity Moments melalui e-mail, Anda dapat menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan ketik “subscribe” pada subject e-mail atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President

1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.

TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org Web site: www.cbmcint.org.

Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

  1. Bangunan atau gedung apa yang paling mengesankan bagi Anda? Mengapa Anda terkesan pada bangunan tersebut? Apakah bangunan tersebut didirikan untuk bertahan lama - atau akankah kemegahannya luntur dimakan usia?

  2. Apa pendapat Anda mengenai komitmen untuk mewujudkan keunggulan yang menghasilkan produk yang mampu bertahan dan berfungsi selama berabad-abad, bahkan beribu-ribu tahun? Mengapa kini kita jarang menemukan dedikasi mewujudkan kualitas terbaik seperti itu?

  3. Berkaitan dengan pekerjaan Anda - apakah sekarang Anda terlibat dalam suatu aktivitas yang Anda yakini masih tetap bernilai berabad-abad ke depan? Mengapa atau mengapa tidak?

  4. Langkah apa yang perlu diambil, jika Anda - atau seseorang yang Anda kenal - ingin memiliki pengaruh atau karya yang bertahan dan berdampak dalam waktu yang panjang – apa yang disebut Yesus sebagai menghasilkan “buah-buah yang tetap”?

Berikut adalah ayat-ayat Alkitab yang berkenaan dengan pentingnya upaya memperoleh hal yang berdampak dalam jangka waktu yang panjang:
Pengkhotbah 3:11; Daniel 12:3; Yohanes 15:1-9; 2 Korintus 4:16-18; 1 Petrus 1:24-25

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 09:27:31 | Permalink | No Comments »