Wednesday, January 16, 2008

Pekerjaan atau Allah?

14 Januari 2008

TRAGEDI DI TEMPAT KERJA MASA KINI
Oleh: Rick Boxx

Adegan memikat dalam film teaterikal bertajuk “Amazing Grace,” menyampaikan suatu penting yang oleh banyak orang – termasuk para pelaku bisnis – disalahmengerti selama berabad-abad.  Dalam film tersebut, William Wilberforce, pejuang anti perbudakan berkebangsaan Inggris yang hidup di  abad ke 19, bergumul tentang apa yang harus dilakukan dengan iman yang baru saja dianutnya – ia bertanya-tanya bagaimana menjadikan iman menjadi bagian bermakna dalam kehidupan dan pekerjaannya sehari-hari. 
 
Saat tengah merenungkan hal penting terkait dengan iman dan bagaimana mengejawantahkannya, Mr. Wilberforce menerima beberapa tamu yang kemudian mengetahui persoalannya.  Tamu-tamu tersebut semuanya aktivis anti perbudakan, sangat menentak perbudakan, dan mengetahui kemampuan dan semangat politik Mr. Wilberforce, juga ketidaksetujuannya pada praktek perbudakan. 
 
 “Kami mengerti Anda tengah menghadapi kesulitan memutuskan apakah melakukan pekerjaan Allah atau bekerja selayaknya seorang aktivis politik,” tak dinyana, salah seorang tamu berkata.  Seorang wanita di antara para tamu ketika akan pulang melontarkan hal yang tepat.  “Dengan rendah hati kami menyarankan Anda melakukan keduanya.”  Hasilnya, Mr. Wilberforce menjadi penggerak anti perbudakan di tanah airnya. 
 
Banyak pengikut Yesus Kristus bekerja di bawah bayang-bayang kepercayaan bahwa Allah hanya menghargai bila kita terlibat dalam “pelayanan penuh-waktu.” Intinya, ini sama dengan meninggalkan bisnis atau pekerjaan untuk kemudian terlibat dalam kegiatan gereja, kelompok misionaris atau pelayanan “gerejawi.”  Dalam banyak kasus, sayangnya, hal ini menjadi tragedi yang berakibat pada terbuangnya talenta, keahlian dan pengalaman. 

Allah telah menciptakan setiap kita dengan talenta yang unik dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan khas.  Bila kita keliru menganggap bahwa hanya para misionaris atau pendeta yang bernilai bagi Allah, boleh jadi kita akan kehilangan anugerah terbaik-Nya bagi hidup kita.  Sebagai hasilnya, kita mungkin akan meninggalkan pekerjaan di mana Allah akan menggunakan kita dengan cara luar biasa bagi rencana-Nya atau, diliputi perasaan bahwa pekerjaan kita remeh dan tidak penting dalam skema besar rencana Allah, kita menggunakan bakat secara tidak maksimal. 

Dalam surat pertamanya kepada gereja di kota kuno Korintus, Rasul Paulus menulis, “selanjutnya hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah. Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat” (1 Korintus 7:17).
 
Bayangkan sebuah dunia di mana setiap orang yang mengaku percaya dan berbakti kepada Yesus Kristus – yang oleh Alkitab disebut sebagai”Orang Kristen” – hanya bekerja sebagai pendeta dan misionaris.  Siapa yang akan merengkuh orang-orang di tempat kerja?  Siapa yang menyediakan pangan, sandang, papan, dan kebutuhan-kebutuhan lain yang penting untuk mewujudkan rencana Allah?  Siapa yang akan mengusahakan bisnis atau memimpin pemerintahan?  Menarik diri dari kesatuan, atau berhenti menjadi bagian yang memberi sumbangsih dari apa yang disebut sebagai dunia kerja “sekuler” (Alkitab tidak mengenal istilah ini) akan menjadi berbahaya.  Lebih buruk lagi, melakukan hal tersebut tidaklah termasuk dalam rencana Allah.

Bila kini Anda tengah bertanya-tanya apakah Anda akan meninggalkan pekerjaan Anda sekarang dan bekerja dalam pelayanan penuh-waktu, ingatlah bahwa kita semua dipanggil untuk saling melayani.  Pertimbangkanlah saran bijaksana dari teman-teman Wilberforce: Anda dapat melakukan keduanya!

 (Copyright 2007, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani.  Untuk informasi menerima Integrity Moments melalui  e-mail, tuliskan email kepada:: rboxx@IntegrityMoments.com  dan ketikkan “subscribe” pada baris subject atau kunjungi websitenya di  www.IntegrityResource.org.


CBMC INTERNATIONAL:   Robert Milligan , President

1065 N. 115th Street, Suite 210

▪ Omaha, Nebraska 68154 ▪ U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002 ▪ FAX: (402) 431-1749 ▪ E-MAIL: info@cbmcint.org
Silahkan mengirimkan permintaan dan perubahan  alamat pada:  www.cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi


1.      Apakah Anda pernah merenungkan untuk berhenti dari pekerjaan sekarang dan terlibat dalam “pelayanan penuh-waktu”?  Jelaskan jawaban Anda. 

2.      Bagaimana seorang dapat melakukan pekerjaannya dan mentaati Allah pada waktu bersamaan?  Apakah hal tersebut memerlukan perilaku “religius” atau berperilaku berbeda dibanding teman atau rekan sekerja?

3.      Apakah Anda memandang diri Anda khusus dan unik terkait dengan talenta-talenta yang sudah dianugerahkan Allah bagi Anda, dan apakah Anda berkeinginan mengunakan semua talenta itu bagi rencana Allah?

4.      Menurut pendapat Anda, apakah mungkin bagi manusia menjalankankehendak Allah di tempat kerja masa kini dan berhasil menjadi cahaya pengharapan bagi teman sekerja? Mengapa atau mengapa tidak?









CATATAN: Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan untuk merenungkan topik artikel ini:

Kejadian 1:26-31; Kolose 3:17, 23; Efesus 3:20, 4:12-13; Yakobus 2:14-18

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:29:47 | Permalink | No Comments »

Friday, December 28, 2007

Mendadak Kaya?

MONDAY MANNA

                           

Pelayanan Komunitas Bisnis

                                      7 Januari 2008


JALAN TERCEPAT DAN TERANDAL MENJADI KAYA 
Oleh: Robert J. Tamasy

Bagi beberapa orang “mendadak kaya,” menjadi ungkapan paling didambakan, popularitasnya bahkan melampaui ungkapan “Aku cinta padamu.”  Beberapa di antara kita berfantasi bagaimana rasanya memenangkan lotere, atau mendapat warisan besar.  Bertahun-tahun, acara kuis televisi di Amerika “So You Want to Be a Millionaire!” (“Dan Anda Akan Menjadi Jutawan!”) berada di puncak ketenaran.  Kuis ini tidak pernah kekurangan calon peserta.
 
Kita mungkin pernah mendengar bagaimana pengusaha-pengusaha ulet mendapatkan kekayaan mereka yang luar biasa besarnya.  Beberapa di antara mereka mendapat laba besar dari produk atau jasa yang unik atau  inovatif; yang lain menemukan ide dan mengupayakannya, kemudian memperoleh kemujuran dengan berada di tempat dan pada waktu yang tepat.
 
Internet juga membawa kemakmuran bagi mereka yang membangun apa yang kita sebut sebagai kerajaan “dot com”.  Tetapi daya tarik mendadak-kaya tidak pelak membuat banyak orang rentan menjadi korban kejahatan.  Misalnya, e-mail  yang menjanjikan penerimanya menerima banyak uang dengan “membantu” mereka melakukan transaksi keuangan internasional dalam jumlah besar.  Padahal intinya, satu-satunya orang yang mendapat kekayaan dengan cepat adalah orang yang menawarkan skema kaya-mendadak,  kaya karena semua yang Anda keluarkan.
 
Tak dipungkiri daya pikat kekayaan sudah setua sejarah manusia.  Mungkin karena itulah mengapa kitab Amsal yang tak lekang dimakan usia dengan jelas dan tegas mengingatkan jerat kekayaan yang datang tiba-tiba, mengajarkan bahwa jalan terbaik memperoleh kekayaan adalah melalui kerja keras yang terfokus dan konsisten, bukan melalui permainan probabilitas atau tindakan spekulatif.  Renungkan nasihat berikut: 
 
Dapatkan kekayaan dengan rajin bekerja.  Bila Anda ingin mengalami kesejahteraan material dan finansial, jangan berharap dari nasib baik atau kemujuran.  Rencana dengan akurat, lakukan tindakan nyata yang masuk akal, dan terus usahakan mencapai apa yang ingin Anda capai.  Anda menuai apa yang Anda semai.  Malahan, secara alami Anda menuai lebih dari yang Anda semai –  jika anda menanam sebutir benih, kelak Anda akan menuai dalam jumlah yang berlipat ganda.  Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya,ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen…. “Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring” – maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (Amsal 6:6-11; juga Amsal 24:30-34)

Kerja keras menghasilkan; mimpi kosong mengecewakan.  Kadangkala sangat menghibur membayangkan apa yang akan kita lakukan dengan kekayaan yang datang tiba-tiba, tapi berharap khayalan seperti itu terjadi adalah suatu kebodohan.  Seperti menunggu bis di sudut jalan, padahal sudah tidak ada lagi bis yang melewati daerah itu.   Cara terbaik memperoleh sumber daya materiyang kita butuhkan adalah dengan menggunakan bakat, kemampuan dan pengalaman pribadi, memberdayakan semua itu dengan kerja keras untuk mencapai tujuan tertentu.  . The best way to gain the material resources we need is to utilize our personal gifts, skills and experience, applying them through hard work to accomplish specific goals. “Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi” (Amsal 12:11, also Amsal 28:19).
 
Bicara itu mudah; rajin bekerja itu berat – tetapi suatu investasi yang bernilai.  Siapa saja dapat dengan lantang mengatakan apa yang mereka inginkan.  Ujian sebenarnya adalah apakah kita dapat mengubah keinginan menjadi perbuatan nyata.  Berangan-angan dan berharap, bermimpi dan berencana mungkin berhasil menghabiskan waktu, tetapi tidak menghasilkan apa-apa.  Akhirnya, kita masih akan bertanya-tanya mengapa kita tidak mencapai atau memperoleh apa yang kita harapkan.  Kerja keras tidak hanya menghasilkan kekayaan materi, tetapi juga kekayaan dalam bentuk menikmati pekerjaan yang dikerjakan dengan baik.  “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja” (Amsal 14:23).
 
 
Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress).
 
CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 ▪ Omaha, Nebraska 68154 ▪ U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002 ▪ FAX: (402) 431-1749 ▪ E-MAIL: info@cbmcint.org
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi: www.cbmcint.org


 

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

 
1.      Apa yang akan Anda lakukan bila tiba-tiba mendapat kekayaan  ebsar yang tiba-tiba?  Bagaimana Anda akan menggunakan kekayaan itu?
 
 
 
 
 
 
2.      Pernahkah Anda – atau kenalan Anda -  menjadi korban skema penipuan “kaya mendadak’?  Jika pernah, penipuan seperti apa, apa akibatnya, atau bagaimana Anda berhasil ,elindungi diri dari jerat penipuan itu?
 
 
 
 
3.      Menurut Anda,  apakah yang menjadi akar keinginan menjadi kaya dengan sedikit bahkan sama sekali tanpa usaha, seperti melalui permainan peluang atau tindakan beresiko tinggi?
 
 
 
 
 
 
4.      Bagaimana tanggapan Anda mengenai pemikiran bahwa alih-alih bermimpi dan berkhayal tentang kekayaan yang datang tiba-tiba, kita seharusnya bekerja dengan rajin untuk mendapat apa yang kita perlukan – bahkan apa yang ingin kita miliki?
 
 
 
 
 
 
Catatan: Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan untuk merenungkan topik tulisan ini:
Amsal 10:4-5, 12:24, 13:4. 13:11, 18:9, 19:15, 20:13, 21:5

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:29:40 | Permalink | No Comments »

Friday, July 27, 2007

Mohon Komentar untuk KAMUS ALKITAB (BPK - Gunung Mulia)

Sharing Email dari Pak Adi Pidekso,

BPK Gunung Mulia segera menerbitkan KAMUS ALKITAB (xvii + 530 hlm). Buku ini terjemahan dari A Dictionary of the Bible, WRF. Browning, Oxford University Press.

Buku ini bertujuan untuk menjelaskan secara rinci gagasan-gagasan utama Alkitab, dan memberi informasi mengenai tokoh-tokoh serta tempat-tempat penting yang dijumpai para pembaca. Tidak ada catatan mengenai tokoh-tokoh lain selain yang tercantum dalam teks Alkitab. Namun di dalamnya terdapat catatan mengenai tema-tema di luar kurun Alkitab, misalnya ‘pelayanan’, sebuah tema dalam PB yang akrab dikenal sebagai tema penting yang telah berkembang berabad-abad.

Di bawah email ini disertakan beberapa halaman contoh dari Kamus Alkitab tersebut.

Mohon komentar mengenai hal-hal berikut:

  1. Apakah para pendeta berminat memiliki Kamus Alkitab seperti ini?
  2. Untuk para aktivis kelompok PA tertantang dan terbantu dengan memiliki Kamus ini?
  3. Bagaimana kira-kira minat warga jemaat terhadap buku ini?
  4. Atau ada komentar lain?

Salam dan selamat melayani.

Contact Person:  (Kirimkan komentar Anda pada Adi Pidekso)

Adi Pidekso (adi.pidekso@bpkgm.com)

HP        0816 482 2363

Flexi     021 6879 5153

BPK Gunung Mulia

http://www.bpkgm.com

Jl. Kwitang Raya 22-23, Jakarta 10420 

Tel        021 3901208

Faks     021 3901633

Halaman Contoh Kamus Alkitab

 

 

 

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 08:03:30 | Permalink | No Comments »

Monday, March 12, 2007

Mengatasi Kesepian

30 Oktober 2006

MENGATASI  KESEPIAN
Oleh: Ken Korkow

Meski hidup dalam dunia yang luas, dalam kota yang berpenduduk sangat padat dan dalam sebuah kantor yang jumlah pegawainnya sangat banyak, kita dapat tetap merasa sangat kesepian. Bukankah hal tersebut sangat mengejutkan? Dengan segala kemajuan abad ke-21, kita hidup dalam suatu masyarakat yang penuh dengan orang-orang kesepian. Suatu studi melaporkan bahwa 15% dari responden yang diwawancarai merasa kesepian dalam sebagian besar waktu mereka, 78% merasa kesepian dalam sebagian kecil waktu mereka, dan hanya 6% menyatakan tidak pernah merasa kesepian.

Penulis buku dan pembicara terkemuka Charles Swindoll mendeskripsikan kesepian sebagai, “kata dengan makna paling penuh keterpisahan….” Tidak seorangpun kebal terhadap dampak menghancurkan yang kesepian. Banyak di antara kita menyadari kebenaran dan hikmat ungkapan, “Sungguh sepi berada di puncak.” Saya membayangkan para pemimpin pemerintahan, para pemimpin tertinggi di perusahaan-perusahaan besar, bahkan para atlet dan tokoh di dunia hiburan yang terkenal mengalami serangan kesepian – paling tidak dalam sebagian dari waktu mereka.

Dalam Alkitab, Rasul Paulus, salah seorang pemimpin terkemuka di awal sejarah gereja, melukiskan episode kesepian dalam 2 Timotius 4:6-21. jadi bahkan seorang yang menjalani kehidupan sangat rohani dan sangat berbakti pada Tuhan juga bergumul mengatasi cengkraman kesepian. Mari kita pelajari beberapa hal yang lazim menyebabkan kesepian, dan saran-saran mengatasinya.

PENYEBAB KESEPIAN

TRANSISI KEHIDUPAN: Kehidupan terdiri dari rangkaian transisi, dari kelahiran ke masa sekolah ke wisuda ke masa bekerja ke pernikahan ke membesarkan anak-anak ke masa pensiun. Setiap perubahan yang Anda buat dalam kehidupan kemungkinan besar akan menyebabkan Anda mengalami kesepian.

PERPISAHAN: Anda mungkin menjadi pemilik segala harta dan uang yang ada dalam dunia ini dan merasa tinggal sendirian di suatu pulau dan Anda merasa sangat tersiksa.  Kita diciptakan untuk bersama dengan orang lain. Banyak orang pergi jauh dari kampung halamannya. dan tercabut dari akar keluarganya. Perpisahan karena tugas kemiliteran, pekerjaan, penyakit, perceraian, atau kematian

OPOSISI: Ketika Anda diserang, dipermalukan atau dikritik, sangat mungkin Anda akan mengalami kesepian.

PENOLAKAN:  Ketika Anda merasa telah dikhianati, disia-siakan atau diabaikan, Anda mungkin akan merasa kesepian. Salah satu kebutuhan emosional terbesar kita adalah kebutuhan untuk diterima. Saat Anda merasa ditolak, kesepian dapat melingkupi Anda.

Bagaimana Anda mengatasi kesepian? Beberapa orang memilih menggunakan obat-obat terlarang, mabuk-mabukan, mencoba program kencan yang diatur oleh komputer, atau menggunakan hal-hal lain sebagai pelipur kesepian. Bahkan pernah seorang pria menemui psikiater untuk mengusahakan agar ia mempunyai kepribadian ganda hingga pria itu mempunyai orang lain hidup bersamanya!

MENGATASI KESEPIAN

ISI WAKTU ANDA. Tolak godaan untuk tidak melakukan apapun. Gunakan waktu Anda untuk memperhatikan kebutuhan ragawi Anda: makan makanan yang baik, istirahat yang cukup, berolahraga, hindari obat-obatan terlarang dan alkohol, tata rambut Anda dengan rapi dan pilih pakaian Anda dengan cermat. Perhatikan kebutuhan mental Anda: jangan menjadi pencandu TV, bacalah buku dan majalah yang berisi hal-hal yang baik.  Perhatikan kebutuhan rohani Anda: bacalah Alkitab (di dalamnya akan Anda temukan arahan, instruksi, penyegar semangat dan pengharapan), berdoa, dan luangkan waktu dengan teman seiman. Perhatikan kebutuhan sosial Anda: jalin persahabatan (Ambil insiatif, berusahalah untuk tidak egois, dan bersabarlah – persahabatan membutuhkan waktu yang panjang) Temukan orang lain yang bernasib lebih tidak beruntung dibanding Anda dan bantulah dia.

MINIMALKAN RASA PEDIH ITU. Jangan pendam kepedihan terus-menerus dalam hati Anda. Jangan biarkan kepahitan dan amarah menguasai Anda.  Tidak seorangpun suka berada dekat seorang yang sinis, penuh kritik, atau dikuasai kemarahan. Kenali kepahitan itu – atur strategi mengatasinya. Redakan dan doakan kepahitan itu

RASAKAN KEHADIRAN TUHAN.  Di manakah Tuhan ketika Anda kesepian? Tuhan ada di mana-mana. Tidak ada tempat di mana Anda ada dan Tuhan tiada. Tuhan mengikat perjanjian ini: “Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Yosua 1:5b).  Bukalah mata Anda dan rasakan kehadiran-Nya.

Ken Korkow tinggal di Omaha, Nebraska, A.S., di mana ia menjadi salah seorang direktur area CBMC. Artikel ini diadaptasi dari kolom “Fax of Life” yang ditulisnya setiap minggu.  Dipublikasikan seizin penulisnya. 

 

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Berkaitan dengan kesepian,  termasuk dalam kelompok survei manakah Anda: apakah Anda termasuk yang kelompok merasa kesepian dalam sebagian besar waktu mereka atau kelompok yang merasa kesepian dalam sebagian kecil waktu mereka, atau Anda termasuk kelompok kecil yang mengaku tidak pernah merasa kesepian?

2. Mengapa kita bisa merasa kesepian di tengah keramaian – merasa sangat kesepian saat sedang berjalan di tengah kota, menonton pertandingan olahraga atau konser bahkan ketika mengikuti kebaktian di gereja?

3. Deskripsikan suatu momen – baik yang terjadi di masa yang lalu atau saat ini – ketika Anda merasa kesepian.  Di masa lalu atau sekarang ini, bagaimana Anda mengatasi kesepian?

4. Menurut Anda apakah saran-saran mengatasi kesepian dalam artikel ini benar-benar membantu – baik Anda maupun orang lain yang Anda kenal – mengatasi kesepian? Jealskan jawaban Anda.

Ayat-ayat Alkitab berikut ini dapat dijadikan dasar merenungkan bagaimana hubungan dengan Tuhan dapat membantu mengatasi kesepian:

Mazmur 23:1-6, 139:1-10; Yesaya 41:10; Matius 28:20; Yohanes 16:5-15 www.sabda.org/alkitab

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 06:51:36 | Permalink | No Comments »

Friday, March 9, 2007

Antisipasi Kesukaran

23 Oktober  2006

MASA KELIMPAHAN, MASA KELAPARAN
Oleh: Mark Biller

Yusuf adalah salah satu tokoh pemimpin dalam Alkitab yang saya kagumi.  Jalan hidupnya yang naik-turun dengan sangat dramatis dari posisi putra kesayangan lalu menjadi budak kemudian menjadi pengurus rumah tangga selanjutnya terhempas menjadi pesakitan dalam penjara dan akhirnya berhasil menjadi Mangkubumi Kerajaan Mesir sungguh sangat mengagumkan dan memberi inspirasi.  Titik puncak kisahnya tercatat dalam Kitab Kejadian 50:20 saat Yusuf memberikan pengharapan bagi mereka yang tengah menghadapi masa-masa sulit: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Sungguh suatu contoh bagaimana pekerjaan Allah diwujudkan melalui hidup manusia untuk akhirnya mencapai tujuan utama-Nya!

Baru-baru ini saya merenungkan kisah Yusuf dari sudut pandang yang berbeda - menarik pelajaran keuangan.  Titik balik kehidupan Yusuf di Mesir terjadi saat ia berhasil menafsirkan dua mimpi Firaun.  Ia melihat Mesir akan segera mengalami tujuh tahun kelimpahan, yang diikuti oleh tujuh tahun kelaparan.  Pada masa kelimpahan, Yusuf sudah mulai melakukan persiapan menghadapi tahun-tahun kelaparan, sehingga rakyat Mesir terhindar dari bencana kelaparan.
 
Saya bukan bermaksud merumuskan suatu prediksi, tetapi sekadar bertanya-tanya dalam hati bagaimana bila bangsa-bangsa yang kini sedang berada dalam tingkat kesejahteraan yang sangat tinggi diperhadapkan pada skenario “tahun kelimpahan, tahun kelaparan” – entah dengan alasan apapun.  Bila hal tersebut rasanya tidak mungkin terjadi, barangkali akan sangat bijaksana menerapkan kisah Yusuf ini dalam kehidupan pribadi dan segera melakukan persiapan sekarang juga, menyisihkan apa yang diperoleh dalam tahun-tahun penuh kelimpahan, untuk menghadapi tahun-tahun kesusahan yang mungkin menjelang. 

Lebih dari dua puluh tahun, banyak bangsa – terutama bangsa-bangsa di belahan bumi bagian barat – mengalami kesejahteraan ekonomi yang menakjubkan.  Misalnya, sejak tahun 1982, A.S. hanya mengalami dua masa resesi yang pendek dan tak berarti, setiap masa resesi tersebut masing-masing hanya berlangsung dalam waktu sembilan bulan.  Mengapa disebut tak berarti?  Bandingkanlah dengan apa yang terjadi dari tahun 1900 sampai 1982 di mana terjadi 19 masa resesi, yang datang silih berganti dalam rentang rata-rata 3.5 tahun.  Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat menyebabkan peningkatan drastis dalam pasar modal dan pendapatan rumah-tangga yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan pribadi maupun kesejahteraan nasional.  Jangan sampai melakukan kesalahan: Perekonomian dan tingkat kesejahteraan yang luar biasa ini sangat jarang terjadi. 

Idealnya,  kita – baik secara pribadi maupun secara nasional – harus dapat menyisihkan kelimpahan keuangan ini untuk persiapan menghadapi badai keuangan yang mungkin terjadi pada masa mendatang.  Sayangnya, yang terjadi malah sebaliknya.  Renungkan data berikut:
· Pada tahun 1982, pembayaran hutang rumah-tangga hanya sedikit lebih besar dari $1 untuk setiap $10 pendapatan setelah-dipotong-pajak.  Tahun 2005, perbandingan ini meningkat menjadi hampir $1 untuk setiap $7.
· Kebangkrutan personal meningkat menjadi 31.6%  pada tahun 2005.  Dalam tahun itu saja, 1 dari 53 rumah-tangga A.S. menyatakan dirinya bangkrut.
· Laju tabungan nasional turun menjadi -0.5% tahun lalu, menandai bahwa konsumen membelanjakan uang lebih dari pendapatan setelah-dipotong-pajak, hal ini untuk pertama kalinya terjadi sejak tahun 1932-1933, yaitu saat Masa Resesi Berat (Great Depression) berlangsung.

Di tingkat nasional, hal yang sama juga terjadi, pelbagai kemerosotan di pelbagai pelayanan sosial sudah diantisipasi dan didokumentasikan dengan baik.  Namun dalam tingkat kesejahteraan yang sangat baik seperti sekarang ini, belum ada langkah nyata yang dilakukan.

Alkitab dengan tegas memberikan peringatan mengenai hutang.  Dengan memperhatikan data dan kecenderungan keuangan, sangat mudah menemukan potensi kemerosotan ekonomi yang akan terjadi pada suatu waktu di masa depan.   Syukurlah, Tuhan telah menunjukkan kepada kita prinsip bersiap sepanjang tahun-tahun penuh kelimpahan.  Bekerja dengan tekun agar terbebas dari hutang, menabung untuk dana masa-masa darurat, berinvestasi untuk masa depan, dan melakukan penganeka-ragaman investasi.   

Yusuf dengan bijaksana menyisihkan 20% hasil panen gandum, dan karenanya tidak hanya bangsa Mesir tetapi juga bangsa-bangsa lain di sekitarnya berhasil selamat dari bencana kelaparan. Ini seharusnya menjadi tujuan kita – menjadi penata-layan yang setia pada masa-masa yang baik, mempersiapkan diri menghadapi masa-masa sulit di saat mendatang. Melalui penata-layanan yang bijaksana dan setia seperti ini, kita akan melihat bagaimana kita digunakan, seperti Yusuf, menjadi alat Tuhan untuk menawarkan kelegaan mengatasi  saat-saat penuh kesulitan.  “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen” (Amsal 6:6-8).
 
Mark Biller adalah editor eksekutif pada situs-web dan buletin perencanaan keuangan Sound Mind Investing. Informasi dan dasar investasi Sound Mind Investing dapat dibaca pada alamat berikut ini:  www.soundmindinvesting.com.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Saat membaca peringatan dalam “Monday Manna” kali ini, bagaimana perasaan Anda , apakah Anda merasa  - kuatir, marah, termotivasi untuk melakukan suatu perbuatan nyata, cemas atau ragu-ragu? Jelaskan jawaban Anda.

2. Tidak ada satupun masyarakat yang akan selalu menikmati peningkatan kesejahteraan tanpa akhir.  Sebagaimana pepatah kuno menyimpulkan, “setiap hal yang baik akhirnya selesai juga” – termasuk peningkatan ekonomi yang luar biasa.  Menurut Anda apakah bijaksana mempersiapkan kemunduran yang akan terjadi, atau menurut Anda hal tersebut adalah suatu tindakan pesimistis atau bahkan tidak perlu dilakukan?

3. Mark Biller menyarankan empat langkah yang dapat kita lakukan dalam masa-masa kelimpahan untuk persiapan menghadapi saat-saat ketika kondisi ekonomi menurun, yaitu: bekerja agar terbebas dari lilitan hutang, menabung untuk dana pada keadaan darurat, melakukan investasi untuk masa depan, dan melakukan penganeka-ragaman investasi.  Manakah di antara hal-hal tersebut, jika ada, yang paling mungkin Anda lakukan sekarang?  Mengapa?

4. Kitab Amsal menggunakan, semut, tupai, dan hewan-hewan lainnya yang seringkali hanya bertindak mengikut naluri tetapi menunjukkan hikmat penata-layanan yang dapat kita tiru dalam merencanakan masa depan – dan juga masa kini.  Menurut Anda hal ini perlu dilakukan?  Apakah menurut Anda kita memang dapat menarik pelajaran dari mahluk-mahluk yang sering kita anggap kurang-berakal tersebut?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan sebagai dasar merenungkan topik dalam artikel ini:

Amsal 10:5, 11:4, 15:6, 18:11, 22:7; Matius 24:42-51, 25:14-30; Lukas 16:10-12 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 08:08:01 | Permalink | No Comments »

Hal-Hal Positif

16 Oktober  2006

HAL - HAL POSITIF APA SAJA YANG DAPAT KITA PIKIRKAN?
Oleh: Robert J. Tamasy

Siap atau tidak, hari Senin – awal suatu minggu yang baru sudah datang lagi.  Saat Anda bangun hari ini, seperti apa suasana hati Anda? Apakah semangat Anda berkobar-kobar, siap menghadapi tantangan hari ini, atau Anda mengikuti pola pikir “Hukum Murphy”, yang menyakini bahwa jika sesuatu dapat berjalan tidak lancar, maka seperti itulah yang akan terjadi? Apakah Anda menyambut hari ini dengan kalimat penuh semangat “Selamat pagi, Tuhan!” (“Good morning, Lord!”) atau dengan keluhan “Ya Tuhan, sudah pagi lagi!” (“Good Lord, morning!”)?

Selama Bertahun-tahun saya menjalin persahabatan dengan teman-teman penganut apa yang dikenal sebagai aliran “berpikir positif,” suatu mazhab pemikiran yang intinya terangkum dalam pernyataan: “Segala sesuatu yang dapat diterima dan diyakini oleh pikiran, dapat dicapai.”  Saya sangat mendukung cara hidup optimistik seperti itu, tetapi jujur saja; banyak hal yang bahkan oleh pemikir paling positif sekalipun tidak mungkin diwujudkan. Misalnya, sebaik apapun kemampuannya, didukung dengan postur badan setinggi tujuh kaki, pemain bola basket profesional asal Cina Yao Ming, tidak akan dapat menjadi joki yang baik dalam pacuan kuda.  Pengemudi Volkswagen (VW) “Kodok” tidak akan dapat merebut gelar juara dalam sirkuit Formula Satu. 

Beberapa orang secara alami memiliki lebih banyak kemampuan menjalani peran kepemimpinan formal dibanding yang lain, seperti juga tidak dapat diingkari bahwa beberapa orang memiliki bakat di bidang mekanik dibanding yang lain.  Cara berpikir positif hanya mengantar kita sampai sejauh itu – pemikiran ini memiliki keterbatasan-keterbatasan.

Bukan berarti saya menolak cara berpikir positif.  Malahan, seiring dengan berjalannya waktu saya menyadari bahwa cara berpikir saya semakin positif.  Namun, dasar cara berpikir positif saya, bukanlah kemampuan dan kekuatan saya. Dasar optimisme saya yang berlimpah-limpah itu adalah keyakinan yang mendalam akan jaminan dan kepercayaan pada fakta bahwa Tuhan memimpin kehidupan saya, bahwa Ia mempunyai rencana bagi saya dan Ia pasti akan mewujudkannya, tak peduli bagaimana dan apapun yang terjadi.

Milik siapakah hari ini? Hampir setiap pagi, bahkan ketika menghadapi jadual yang sangat padat dan penuh tekanan, saya dibangunkan oleh suatu alarm bernada gembira dari Kitab Mazmur, “Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” (Mazmur 118:24). Jika saya memandang segala langkah dan beban dalam suatu hari seluruhnya adalah tanggung-jawab saya sendiri, saya mungkin tidak akan mau bangun dari tempat tidur. Tetapi percaya pada Tuhan yang baik, pengasih dan pemurah memberikan keyakinan bahwa saya memiliki kemampuan untuk tidak hanya menghadapi suatu hari, tetapi juga untuk menikmati hari tersebut. Menurut saya, inilah yang disebut cara berpikir positif.

Pekerjaan siapakah ini?  Beberapa waktu berselang, saya membaca kisah seorang wanita yang berhasil terus menjaga perspektif luar biasa atas pekerjaannya.  Wanita ini mengerjakan tugas membersihkan suatu kantor yang sama selama  40 tahun.   Ketika seorang wartawan bertanya bagaimana ia mengusir kebosanan mengerjakan tugas yang sama setiap hari dalam waktu yang panjang, ia menjawab, “Saya tidak pernah merasa bosan.  Saya mengunakan bahan pembersih yang dibuat oleh Tuhan. Saya membersihkan barang-barang milik orang ciptaan Tuhan dan membuat hidup mereka lebih nyaman. Tangkai sapu saya ibarat tangan Tuhan!”  Seperti itulah, menurut saya, sejatinya cara berpikir positif. “Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah” (Pengkhotbah 3:13). 

Kebenaran siapakah ini? Kita hidup dalam dunia yang membombardir kita dengan pikiran-pikiran negatif.  Acara “bincang-bincang” di radio mengingatkan kita pada segala hal yang salah mulai dari politik luar negeri sampai tim olahraga favorit kita.  Surat kabar dan siaran berita umumnya berfokus pada sisi negatif suatu peristiwa karena mereka menyadari, sayangnya, “kabar baik” tidak mempunyai nilai jual. Tetapi kita memiliki pilihan untuk tidak berkubang dalam kolam limbah penuh hal-hal negatif. Terdapat begitu banyak keindahan dan kebaikan di sekitar kita, kita hanya perlu lebih memperhatikannya. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8). Dan, ya, inilah cara berpikir positif. 

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Secara umum, apakah Anda tergolong seorang yang optimis atau seorang yang pesimis?  Jelaskan jawaban Anda – dan berikan contoh yang dapat membuktikan bahwa Anda adalah seorang yang pesimis atau seorang optimis?

2. Apa pendapat Anda mengenai cara berpikir positif? Pernahkan Anda meluangkan waktu mempelajari cara berpikir positif menghadapi kehidupan –  atau bahkan Anda sudah menerapkannya?

3. Apakah Anda menganggap setiap Senin pagi – awal suatu minggu kerja yang baru – sebagai suatu tantangan yang menyegarkan dan menyenangkan, atau sebaliknya sebagai pemicu luruhnya semangat dan penyebab frustasi? Mengapa?

4. Apa tanggapan Anda mengenai sudut-pandang wanita yang dengan sukacita menjalani pekerjaan yang sama selama 40 tahun, dan menyimpulkan bahwa, “Tangkai sapu saya ibarat tangan Tuhan”? Apakah – atau dapatkah – Anda menerapkan filosofi yang sama dalam pekerjaan Anda?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini digunakan sebagai dasar merenungkan topik artikel ini:

Kejadian 1:27-30; Pengkhotbah 2:17-25; Markus 12:28-31; Lukas 16:1-13; Roma 12:2 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:55:25 | Permalink | No Comments »

Pelayanan pada Konsumen

9 Oktober 2006

SENI MENGANTISIPASI KEINGINAN KONSUMEN
Oleh: Rick Boxx

Begitu sampai di Hotel RIU Palace Mexico tempat kami menginap, saya dan Kathy, istri saya menerima selembar pamflet.  Pamflet itu berbunyi, “Apapun yang Anda butuhkan, kapanpun, kami akan segera menyediakannya dalam keramahan paling hangat.  Jaringan hotel kami telah bertekad mengantisipasi keinginan Anda dan memastikan menjadikan tinggal di hotel kami sebagai kenangan tak terlupakan.”

Banyak bisnis bicara perihal memberikan pelayanan bermutu, tetapi seringkali akhirnya apa yang mereka lakukan justru hal-hal yang sangat mengecewakan. Di Hotel RIU Palace, kami tidak mengalami hal seperti itu.  Saya dan istri saya terkagum-kagum melihat banyaknya pelayan yang tersedia demi memenuhi keperluan kami, juga karena tingginya antusiasme dan perhatian mereka pada hal-hal kecil dan sederhana.

Misalnya, petugas penyambut tamu tidak hanya bersikap profesional,  tetapi juga sangat ramah dan hangat, membuat kami merasa sangat betah.  Resepsionis juga memberikan kesan yang sangat mendalam kepada kami saat ia mengetahui saya tidak membawa sepasang pun celana panjang yang layak untuk dikenakan menghadiri jamuan makan malam; dan entah bagaimana ia berhasil menemukan sepasang celana panjang yang kemudian dipinjamkannya pada saya. Para pelayan, pembantu dan tukang kebun semua sangat bersahabat dan ramah, dan pengalaman kami menikmati pantai yang menyatu dengan hotel tambah mengasyikkan karena secara berkala petugas hotel menawarkan minuman dingin yang menyegarkan kepada kami.

Banyak bisnis berusaha memenuhi kebutuhan Anda.  Beberapa di antaranya, bahkan, mencoba tidak hanya mengantisipasi kebutuhan Anda, tetapi juga keinginan Anda.  Untuk suatu usaha berskala kecil, menciptakan budaya seperti itu sangat sulit dilakukan; sebaliknya, untuk sebuah hotel besar, hal tersebut bahkan dapat diwujudkan dalam hal-hal luar biasa yang melebihi ekspektasi konsumen. Usaha perhotelan dikategorikan sebagai “bisnis keramah-tamahan,” dan pengalaman kami di Hotel RIU Palace membuktikan adanya keramahan-tamahan terbaik yang pernah ada – baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan.

Kolom ini sama sekali bukan pariwara gratis untuk sebuah hotel berbintang lima, tetapi ditulis untuk menyajikan contoh tentang apa yang seharusnya diupayakan oleh setiap bisnis, disesuaikan dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya.

Jika Anda bergerak dalam bisnis retail, apakah Anda mempekerjakan para karyawan yang tidak banyak bicara, namun penuh perhatian, siap membantu konsumen jika diperlukan? Apakah para karyawan sudah dilatih dengan baik agar dapat menjawab semua pertanyaan yang akan dan mungkin diajukan konsumen kepada mereka? Jika Anda bergerak dalam bisnis teknologi, apakah Anda mengusahakan agar konsumen Anda tetap menerima informasi mengenai perkembangan-perkembangan baru yang mempermudah atau meningkatkan efisiensi pekerjaan mereka? Jika Anda adalah seorang profesional, seorang pengacara, seorang insinyur atau seorang arsitek, apakah Anda meletakkan kebutuhan dan kepentingan klien sebagai hal yang terutama – atau apakah Anda hanya mementingkan besarnya bayaran yang akan Anda terima?

Raja Salomo dari Kerajaan Israel memahami betapa pentingnya dan perlunya pencapaian keunggulan. Dalam Pengkhotbah 9:10 ia menuliskan pengajaran berikut, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”

Baik ketika melayani konsumen eksternal, maupun konsumen internal, seharusnya setiap tugas dilaksanakan dengan segenap kemampuan, tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan orang lain, tetapi lebih dari itu menuju suatu tingkat yang benar-benar baru yaitu pencarian cara mengantisipasi keinginan para konsumen. Hasil usaha ini pasti akan memuaskan hati konsumen Anda, tetapi lebih penting lagi akan menyenangkan hati Tuhan. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, Rasul Paulus mengajarkan bahwa para pekerja seharusnya bekerja sesuai standar-standar tertinggi: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya” (Kolose 3:23-24).

(Copyright 2006, Integrity Resource Center, Inc.) Diadaptasi dengan ijin dari “Integrity Moments with Rick Boxx,” suatu risalah mengenai masalah-masalah integritas di tempat kerja dari sudut pandang Kristiani.  Informasi lebih lanjut untuk menerima Integrity Moments melalui e-mail dapat Anda peroleh dengan menulis email kepada: rboxx@IntegrityMoments.com dan mengetikkan  “subscribe” pada subject e-mail Anda atau kunjungi website www.IntegrityResource.org.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 ▪ Omaha, Nebraska 68154 ▪ U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002 ▪ FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Sebutkan saat ketika Anda sangat terkesan oleh pelayanan yang Anda terima dari suatu bisnis penting berskala besar.  Apa yang mereka lakukan hingga membentuk kesan begitu mendalam?

2. Apa pendapat Anda tentang konsep untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumen, tetapi juga mengantisipasi keinginan mereka? Menurut Anda apakah hal tersebut realistis?  Mengapa atau mengapa tidak?

3. Bagaimana caranya agar suatu bisnis – atau seorang pekerja  – dapat lebih mengutamakan kepentingan konsumennya dibanding tujuan dan harapannya sendiri?

4. Menurut Anda, dalam skala 1 sampai 10 berapakah nilai Anda, jika Anda dinilai berdasarkan standar bekerja “dengan segenap kekuatan,” atau “dengan segenap hati”? Jelaskan jawaban Anda. 

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat dijadikan dasar merenungkan topik dalam tulisan ini:

Amsal 13:4, 14:23, 18:9, 21:5; Pengkhotbah 5:18-19; Kolose 3:17 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:49:12 | Permalink | No Comments »

Penyalahgunaan Wewenang

2 Oktober  2006

KEBAJIKAN TIDAK DAPAT MENUTUPI PENYALAHGUNAAN WEWENANG
Oleh: Robert J. Tamasy

Saat salah seorang pimpinan teratas sebuah perusahaan internasional meninggal dunia, pujian atas kebaikannya yang luar biasa karena telah mendermakan dana untuk pelbagai kegiatan kemanusiaan banyak dilontarkan.  Sayangnya, “ketenaran” pemimpin ini bukan karena kebajikannya.  Ia menjadi sorotan publik justru karena pernah merugikan perusahaan dan kehidupan ribuan karyawannya, termasuk mengorbankan uang pensiun mereka. 

Ironis memang, karena meski rajin melakukan kebaikan, tokoh ini gagal memenuhi tuntutan utama mereka yang mempercayainya, mereka yang menyumbangkan kemampuan dan talentanya membantu sang pemimpin memperoleh kekayaan, sehingga ia dapat bebas menderma. Tampaknya tidak tepat bila gelar “filantropik” (atau pengasih sesama manusia) dianugerahkan kepadanya. 

Hal yang sama, sayangnya, terjadi juga pada banyak “pimpinan industri,” baik pemimpin masa lalu maupun pemimpin masa kini, mereka menempatkan ambisi dan kepentingan sendiri di depan kepentingan para pegawai yang telah bekerja dengan tekun dan penuh kepercayaan di bawah arahan para pemimpin tersebut.  Masalah serupa berkali-kali disinggung dalam bab ke-10 buku kuno Amsal, buku yang penulis utamanya adalah Raja Salomo dari Israel.  Penyalahgunaan wewenang demi pencapaian pribadi yang hingga kini masih terus terjadi juga merupakan argumen Salomo dalam bukunya yang lain, ia menuliskan “Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pengkhotbah 1:9).  Renungkanlah beberapa pengajaran yang terdapat dalam kitab Amsal:

Hidup benar lebih baik daripada hidup dalam kekayaan. Kekayaan yang diperoleh melalui kompromi etis berumur pendek.  Dan kekayaan sebanyak apapun tidak berguna dalam kubur.  “Harta benda yang diperoleh dengan kefasikan tidak berguna, tetapi kebenaran menyelamatkan orang dari maut” (Amsal 10:2).

Berusahalah untuk dikenang karena perbuatan-perbuatan benar.  Kepemimpinan Anda - baik positif maupun negatif - adalah sesuatu yang akan tetap dikenang bahkan setelah peran Anda di dunia ini berakhir.  Kenangan apa yang ingin Anda tinggalkan? “Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk”(Amsal 10:7).

Hidup dengan integritas membawa kedamaian batin.  Orang yang mempraktekkan perilaku tidak etis atau penuh tipu daya pasti akan selalu hidup dalam ketakutan terungkapnya kebohongan-kebohongan mereka.  Sebaliknya, hati nurani yang bersih adalah harta berharga.  “Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui” (Amsal 10:9).

Anda akan memetik apa yang Anda tabur.   Bila Anda hidup dan berperilaku mengikuti standar etis yang tinggi, Anda akan memetik imbalan jangka panjang.  Mereka yang mempraktekkan ketidakjujuran akan menerima konsekuensinya.  “Upah pekerjaan orang benar membawa kepada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa kepada dosa” (Amsal 10:16).   
    
Kepemimpinan yang etis dapat tetap bertahan menghadapi permusuhan.  Integritas tidak menyebabkan para pemimpin kebal terhadap kesukaran dan masalah, tetapi dengan menerapkan integritas, mereka tidak perlu khawatir harus bertindak berlebihan mempertahankan diri terhadap serangan kecaman mementingkan diri sendiri.  “Bila taufan melanda, lenyaplah orang fasik, tetapi orang benar adalah alas yang abad” (Amsal 10:25).

Menjalani segala hal dengan cara Tuhan membawa rasa aman.  Dalam Alkitab, Tuhan telah menyediakan “petunjuk pemakaian” menghadapi kehidupan dan pekerjaan setiap hari. Mempelajari dan menerapkannya memberikan kedamaian hati dan perlindungan. Bila Anda mengabaikannya, Anda akan menanggung akibatnya.  “Jalan TUHAN adalah perlindungan bagi orang yang tulus, tetapi kebinasaan bagi orang yang berbuat jahat“ Amsal 10:29).

Robert J. Tamasy adalah wakil presiden bidang komunikasi Leaders Legacy, Inc., sebuah perusahaan nir-laba yang berpusat di  Atlanta, Georgia, A.S.. Ia berpengalaman lebih dari 30 tahun sebagai seorang jurnalis profesional, bersama David A. Stoddard menulis buku berjudul: The Heart of Mentoring: 10 Proven Principles for Developing People to Their Fullest Potential (NavPress), dan menulis buku yang baru saja diterbitkan Business At Its Best – Timeless Wisdom from Proverbs for Today’s Workplace (River City Press). Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada www.theheartofmentoring.com atau www.rivercitypress.net.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002  FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell: nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Menurut Anda apakah perbuatan baik - misalnya menyumbang dengan murah hati untuk suatu kebaikan, atau terlibat dalam kerja sukarela - dapat menutupi etos kerja pribadi yang dipenuhi oleh kompromi etis, tipu daya, dan penyalahgunaan wewenang dan posisi?  Jelaskan jawaban Anda.

2. Hampir setiap minggu, kita membaca dan mendengar berita mengenai pemimpin-pemimpin bisnis yang melakukan hal-hal yang mempermalukan dirinya sendiri dan membawa kehancuran perusahaan yang mereka pimpin.  Dan menurut Amsal, hal ini telah menjadi masalah dari ribuan tahun yang lalu sampai sekarang.  Menurut Anda mengapa hal ini terjadi?

3. Menurut pendapat Anda mengapa banyak sekali pemimpin yang takluk pada godaan memperoleh sesuatu dengan cepat dengan menerapkan keputusan dan tindakan yang tidak etis dan tidak bermoral, meskipun mereka mungkin menyadari bahwa suatu saat pelanggaran yang mereka lakukan akan terungkap?  Atau menurut Anda para pemimpin itu memang mempunyai cara menghindari pengungkapan kesalahan mereka tersebut?

4. Manakah di antara prinsip-prinsip yang dicantumkan dalam Amsal pada artikel ini - jika ada – yang paling berarti bagi Anda?

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat dijadikan dasar merenungkan topik artikel ini:

Amsal 10:22, 27, 30; Amsal 11:3, 13:6, 21:28, 28:16; Lukas 12:41-48 www.sabda.org/alkitab

 

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:31:16 | Permalink | No Comments »

Keinginan Menjadi Kaya

25 September  2006

SEBERAPA KUAT KEINGINAN ANDA MENJADI SEORANG JUTAWAN?
Oleh: Ken Korkow

Menurut Anda apakah Anda akan gembira menerima satu juta dolar?  Andaikan saya memberikan satu juta dolar kepada Anda, dengan satu syarat.  Apa yang akan Anda beli? Sebuah rumah baru? Kapal pesiar? Menjalani operasi plastik? Membeli mobil mewah yang selama hanya menjadi impian Anda?  Ya, pasti, menjadi seorang jutawan memang sangat menyenangkan, membuka banyak kesempatan baru bagi Anda. 

Tetapi jangan lupa, saya telah katakan “dengan satu syarat.”  Syarat apa? Sederhana saja: Anda akan menjadi seorang jutawan sejati yang benar-benar mempunyai uang sebesar satu juta dolar – tapi hanya untuk satu hari. Begitu hari itu berakhir, Anda harus mengembalikan semuanya.  Mengembalikan rumah, kapal pesiar, mobil, dan segala sesuatu yang telah Anda beli.  Anda bahkan harus mengembalikan bedah plastik yang  telah Anda jalani. 

Jika kondisinya seperti itu, tampaknya, menjadi seorang jutawan tidak lagi menarik, bukan?  Mungkin karena kenikmatan sesaat dari kekayaan tidak lagi berarti jika kemudian hilang dalam sekejab.  Sesungguhnya kita hidup dalam dunia yang seperti itu.  Kita ingin semua yang kita ingini terpenuhi sekarang juga.  Menariknya, ternyata telah diteliti bahwa kedewasaan seseorang salah satunya ditandai oleh  kesediaannya mengorbankan kesenangan sementara untuk memperoleh sesuatu yang membawa manfaat  jangka panjang. 

Terdapat dua papan pencatat nilai yang berbeda dalam kehidupan, tak peduli apapun posisi Anda dalam dunia bisnis dan dunia kerja atau dalam bidang olahraga.  Papan pencatat skor yang pertama terdapat di “Planet Bumi”.  Papan ini mencantumkan paling tidak empat kategori umum: Kecantikan, Kecerdasan, Kekuatan, dan Uang. 

Papan ini mencantumkan paling tidak empat kategori umum: Kecantikan, Kecerdasan, Kekuatan, dan Uang. 

Kecantikan berarti penampilan dari luar:  Hal ini berkaitan dengan kemolekan ragawi, keselarasan dan keindahan pakaian yang Anda kenakan, atau apakah pasangan hidup Anda atau “orang di dekat Anda” tampil menawan.  “Kecantikan” juga menyangkut apakah rumah, mobil, perhiasan dan perangkat pribadi, anak-anak, pekerjaan atau hobi Anda membuat orang lain kagum atau iri? 

Kecerdasan berhubungan dengan kapasitas dan kemampuan mental, baik berkait dengan penalaran hal-hal nyata maupun dengan daya imajinasi.   Selama 200 tahun terakhir, pintu kesempatan seringkali hanya terbuka bagi mereka yang mengecap pendidikan tinggi dan berhasil memperoleh gelar sarjana.  Tapi kini pembunuh-konsep atau “killer-concept”: yaitu mereka yang berhasil mengubah konsep yang selama ini dianut para konsumen (misalnya melalui inovasi-inovasi yang kemudian menjadi cikal-bakal perusahaan seperti Federal Express, Apple Computer, Microsoft dan Google) berhasil membuka pintu kesempatan yang sama.  Kini, tidak seperti masa sebelumnya, ide seseorang yang kreatif dan inovatif  dapat mengubah hidup Anda. 

Kekuatan mengacu pada kekuatan raga, penampilan lahiriah dan kebugaran tubuh.  Anda tidak mungkin dapat sepenuhnya menikmati sisi-sisi lain dalam kehidupan ini jika Anda tidak memiliki kesehatan raga yang prima. 
 
Uang sering kali diartikan sebagai kekuasaan:  Sungguh mengagumkan bagaimana kita menghormati sekaligus iri pada orang kaya.  Uang membuka banyak pintu kesempatan – mendapatkan tempat duduk terbaik di restauran, perhatian khusus dalam peristiwa sosial, ditempatkan di posisi terhormat dalam pertemuan-pertemuan penting. 

Namun fakta pahit adalah bahwa kehidupan di atas bumi ini, betapapun indahnya, hanyalah ibarat uap.   Masa hidup kita, dibandingkan keabadian, sama cepatnya dengan hilangnya uap dari teko berisi teh panas.  Kita menjalani kehidupan menurut aturan main Planet Bumi, tetapi suatu hari, lebih cepat dari yang kita kira, segala sesuatu akan lenyap.  Semua akan digantikan oleh apa yang kita kenal sebagai papan pencatat nilai “Surga atau Neraka”: Di manakah Anda akan menjalani keabadian?

Dan inilah penjelasan Alkitab mengenai hal tersebut: “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibrani 9:27).  “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Korintus 5:10).
 
Kini rasanya, kecantikan, kecerdasan, kekuatan dan uang menjadi tak bernilai.  Cepat atau lambat kita akan mendapatkan bahwa papan pencatat nilai versi Planet Bumi tidak layak dipertahankan. 

Ken Korkow berdomisili di Omaha, Nebraska, A.S., tempat ia bekerja sebagai direktur wilayah CBMC. Artikel ini diadaptasi dari kolom mingguannya “Fax of Life” dan  dipublikasikan seijin penulisnya.

CBMC INTERNATIONAL: Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 Omaha, Nebraska 68154 U.S.A.
TEL.: (402)431-0002 FAX: (402)431-1749 E-MAIL: mmanna@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org.
Untuk pertanyaan atau perubahan alamat, hubungi nbrownell@cbmcint.org

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Jika seseorang memberikan satu juta dolar kepada Anda, apa yang akan Anda lakukan dengan uang tersebut?

2. Apakah Anda sependapat dengan deskripsi Ken Korkow mengenai “papan pencatat nilai Planet Bumi”?  Hal apa lagi, jika ada, yang dapat Anda tambahkan ke dalam daftarnya selain kecantikan, kecerdasan, kekuatan, dan uang? Di antara hal-hal tersebut manakah yang menurut Anda paling penting – dan mengapa?

3. Ketika seorang masih muda, keindahan fisik, kecerdasan dan kekuatan tampaknya merupakan hal-hal yang sangat penting, menurut Anda apakah nilai hal-hal tersebut akan berkurang seiring bertambahnya usia seseorang? Jika ya, apa yang menggantikan hal-hal tersebut?

4. Apakah kita seharusnya menjalani hidup – sebagaimana disarankan oleh penulis artikel Monday Manna kali ini – dalam perspektif yang menyatakan bahwa kita memang insan abadi, bukan hanya mahluk yang hidup selama 50, 60, 70 tahun atau lebih?   Atau haruskah kita hidup semata menikmati apa yang dapat kita usahakan dalam kehidupan ini dan tidak mempedulikan apa yang akan datang setelah itu – itupun jika memang ada sesuatu setelah kehidupan berakhir?  Jelaskan jawaban Anda.

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan sebagai dasar merenungkan topik dalam artikel ini:

Pengkhotbah 2:1-11, 5:10-17; Matius 6:28-34; Markus 8:36; Lukas 9:25 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:19:39 | Permalink | No Comments »

Penanganan Stres

18  September  2006

TUJUH RAHASIA PENANGANAN STRES
Oleh: Rick Warren

Dalam dunia kerja masa kini, stres tidak lagi dapat dihindari.  Stres bahkan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari deskripsi pekerjaan.  Beragam hal dapat menyebabkan kita mengalami stres di tempat kerja, di rumah, bahkan ketika melakukan hal-hal yang kita sukai.  Tetapi stres seharusnya tidak boleh mengalahkan kita – stres dapat dikendalikan.  Renungkanlah apa yang disampaikan oleh Rick Warren dalam tulisannya yang berjudul ‘Seven Secrets Of Stress Management’ (Tujuh Rahasia Penanganan Stres) berikut ini: 

Apakah Anda pernah merasa hidup dan jadual Anda seakan lepas kendali?  Anda memang tidak dapat menghapus stres, tetapi Anda dapat mengendalikannya.  Yang penting bukanlah seberapa banyak stres yang Anda dapat tanggung, tetapi bagaimana Anda menghadapinya.  Yesus Kristus mengalami stres dan tekanan yang luar biasa dahsyatnya, tetapi semua itu tampaknya tidak mempengaruhi ketenangan jiwa-Nya.  Sebaliknya, bahkan dalam penolakan keras akan kehadiran-Nya, permohonan yang terus-menerus harus didengarkan-Nya dan sempitnya ruang gerak privasi-Nya, kehidupan Yesus Kristus justru mencerminkan kedamaian penuh keseimbangan.  Apakah rahasia-Nya?  Penelusuran seksama atas gaya hidup-Nya mengungkapkan tujuh rahasia “peredam stres”:

1. IDENTIFIKASI DIRI: Kenali siapa Anda sebenarnya!  Delapan belas kali secara terbuka Yesus menyatakan identitas-Nya.  Ia sangat mengenal siapa diri-Nya. Jika Anda tidak yakin mengenai identitas Anda, maka sama saja artinya dengan memperkenankan orang lain memaksa Anda mengenakan identitasnya.  Berusaha menjadi orang lain menyebabkan stres!  “Akulah terang dunia…” (Yohanes 8:12).

2. DEDIKASI:  Tentukan siapa yang ingin Anda senangkan.  Anda tidak mungkin menyenangkan hati  semua orang.  Bahkan Allah tidak melakukan hal tersebut.  Karena ketika Anda menyenangkan hati sekelompok orang, kelompok yang lain mungkin merasa kecewa terhadap Anda. Yesus tidak pernah membiarkan ketakutan akan penolakan keberadaan-Nya memanipulasi diri-Nya.  Tidak seorangpun dapat menekan Anda tanpa izin Anda.  “…sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku “ (Yohanes 5:30). 

3. ORGANISASI: Tetapkan target dengan jelas.  Persiapan mencegah tekanan dan penundaan merupakan cikal-bakal tekanan.  Anda dapat memilih bekerja berdasarkan prioritas atau berdasarkan tekanan.  Yesus bersabda, “Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi” (Yohanes 8:14).

4. KONSENTRASI: Pada suatu saat berfokuslah hanya pada satu hal.  Anda tidak mungkin mengejar dua ekor kelinci pada saat yang bersamaan!  Yesus tahu bagaimana menangani interupsi tanpa mengabaikan apa yang menjadi tujuan utama-Nya. “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus” (Lukas 4:42-44).

5. DELEGASI: Jangan mencoba melakukan segala sesuatu sendiri.  Kita dapat menjadi tertekan saat merasa segala hal bergantung pada diri kita.  Yesus merekrut 12 murid.  Jangan biarkan perfeksionisme, atau kekuatiran bahwa orang lain mampu melakukan pekerjaan lebih baik dari Anda, menyebabkan Anda tidak mengikutsertakan orang lain dalam suatu tugas. “Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil” (Markus 3:14).

6. MEDITASI: Biasakan berdoa.  Sesibuk apapun, Yesus selalu meluangkan waktu setiap hari untuk menyendiri dan berdoa.   “Saat Teduh” adalah suatu peredam stres yang ampuh. Gunakan saat teduh tersebut untuk bersama-sama dengan Tuhan membicarakan semua masalah dan tekanan yang Anda hadapi, melakukan evaluasi prioritas yang sudah Anda tetapkan, dan menemukan cara mencapai kesuksesan dalam hidup dengan membaca Alkitab.  “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana” (Markus 1:35).

7. RELAKSASI: Luangkan waktu untuk menikmati kehidupan!  Keseimbangan adalah kunci penanganan stres.  Kerja harus diimbangi dengan kegiatan yang menyenangkan dan ibadah “ …Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’” (Markus 6:30-31).

Rick Warren adalah penulis buku laris berjudul, The Purpose-Drive Life, yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan dijual di seluruh penjuru dunia.  Buku ini memaparkan pentingnya memiliki tujuan hidup yang dengan seksama dan jelas dirumuskan sebagai panduan menjalani kehidupan setiap hari.

CBMC INTERNATIONAL:  Robert Milligan, President
1065 N. 115th Street, Suite 210 ▪ Omaha, Nebraska 68154 ▪ U.S.A.
TEL.: (402) 431-0002 ▪ FAX: (402) 431-1749
Untuk pertanyaan, hubungi Nicole Brownell:
nbrownell@cbmcint.org  Web site: www.cbmcint.org 
Untuk perubahan alamat atau pertanyaan khusus kunjungi
http://www.cbmcint.org/listactions.php

Pertanyaan Refleksi/Diskusi

1. Apa penyebab utama stres yang Anda hadapi setiap hari, baik di tempat kerja maupun di rumah?

2. Bagaimana Anda menghadapi stres tersebut – apakah Anda mampu mengendalikan stres, atau justru sebaliknya stres justru yang mengendalikan Anda?  Jelaskan jawaban Anda.

3. Adakah seseorang di tempat kerja Anda – seorang atasan, atau rekan sekerja – yang tampaknya menghadapi stres lebih baik dibanding orang lain?  Menurut Anda apakah rahasianya?

4. Manakah dari “Tujuh Rahasia Penanganan Stres” yang disimpulkan oleh Rick Warren yang bagi Anda sangat berarti dan sangat membantu?  Atau sebaliknya, menurut Anda prinsip-prinsip tersebut tidak praktis dan tidak berguna. Cobalah untuk memberikan jawaban secara rinci.

Ayat-ayat Alkitab di bawah ini dapat digunakan untuk merenungkan topik cara menangani stres dengan efektif:

Yesaya 26:3, 41:10; Filipi 3:12-14, 4:4-9; 1 Tesalonika 5:16-18; Yakobus 1:2-4 www.sabda.org/alkitab

Posted by Suzanna L. Siregar at 07:14:11 | Permalink | No Comments »